
Erika berlari di koridor rumah sakit untuk menemui Dokter Ivan setelah salah seorang suster mencarinya. Ia baru saja mendengar ada seorang pasien yang keracunan dari makanan yang ia berikan. Hari ini ia tidak fokus pada pekerjaannya karena ia dan Bumi sempat bertengkar ketika mereka bertemu tadi pagi. Semuanya berawal dari Vino. Vino selalu marah jika ia bercerita tentang Bumi pada ibunya. Awalnya ia tidak tahu kenapa Vino tidak suka pada Bumi. Namun setelah dipancing untuk bercerita, akhirnya Vino mengatakan padanya jika Bumi sudah menghinanya dengan kata-kata yang menyakitkan. Bukan saja menyakitkan Vino, tapi menyakitkannya juga.
Tadi pagi ia minta penjelasan pada Bumi. Tapi Bumi mengelaknya. Ia mengatakan jika adiknya terlalu banyak drama. Dan kata-kata yang ia katakan tidak sepenuhnya serius. Tapi ia tahu Vino. Vino tidak pernah mengatakan banyak hal selama ini. Ia tidak pernah memainkan sebuah drama sekalipun. Apalagi pada keluarganya. Ia mengenal Vino melebihi ibu dan ayahnya. Ia dan Vino sangat dekat.
"Maafin saya, Erika. Tapi kali ini saya harus kasih kamu ini." ucap Dokter Ivan sambil meletakkan sebuah kertas diatas meja kerjanya.
Erika mengambil kertas itu dengan tangan bergetar. Ia ketakutan pada semua kesalahan yang telah dilakukannya. Ia mengambil surat itu perlahan dan membacanya.
"Saya langsung kasih kamu surat peringatan kedua karena kasus ini bisa fatal akibatnya. Saya harap kamu mengerti." ucap Dokter Ivan.
Erika mengangguk pelan. "Baik dok. Jadi kesempatan saya cuma satu kali lagi?"
"Banyak karyawan yang langsung diberhentikan karena keteledoran ini. Tapi berhubung kamu adalah karyawan terbaik saya, saya masih harus mempertahankan kamu."
"Terima kasih dok karena masih percaya sama saya." jawab Erika pelan. Iapun mundur dan berjalan keluar.
SP 2? Surat peringatan yang bisa menghancurkan mimpinya? Semuanya gara-gara Bumi. Jika bukan karena Bumi, ia tidak akan mengalami hal ini. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat beberapa orang dengan wajah marah berada didepan ruangannya.
Kabur? Tidak. Itu bukan sifatnya lari dari masalah. Ia harus menghadapinya apapun yang terjadi. Iapun melangkah mendekat.
"Mana koki yang udah ngeracun suami saya?" teriak seorang wanita.
Erika melipat kertas yang dipegangnya dan memasukkannya kedalam jas.
"Saya koki yang menurut ibu sudah meracuni suami ibu." ucap Erika.
Wanita itu berbalik dan menatapnya dari atas ke bawah. Jantung Erika berdetak dengan kencang. Ia takut. Ia semakin takut ketika wanita itu menarik masker yang sedang dipakainya. Kemudian tanpa basa basi langsung menampar pipinya dengan keras.
"Saya peringatkan kamu! Kalo suami saya sampai meninggal, kamu yang akan saya kejar sampai ke lubang semut sekalipun!" ancam wanita itu. Beberapa orang security seperti kehilangan kesadaran sejenak ketika wanita itu tiba-tiba menamparnya. Mereka langsung menarik wanita itu pergi.
Erika menunduk sambil memegang pipinya yang panas akibat tamparan. Iapun masuk kedalam ruangannya dan menguncinya dari dalam. Ia menyandar ke dinding pintu dan terdiam. Ia ingin menangis tapi ia tahan. Ia adalah wanita kuat. Ia sudah bertanggungjawab dengan diterimanya surat peringatan dari Dokter Ivan. Ia menganggukkan kepalanya. Ia sudah memberikan yang terbaik untuk rumah sakit ini.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Ia melihat ibunya memanggilnya.
"Halo ma.." jawab Erika dengan nada riang.
"Kamu pulang ke rumah jam berapa? Vino sekarang ada di rumah mama. Kamu kesini aja sekalian. Papa juga udah pulang." seru Sandra.
"Ya ma.." jawab Erika cepat. Iapun membuka jas dan mengambil tasnya. Ia harus cepat sampai kerumah karena ayahnya sudah tiba. Ia ingin tahu bagaimana kabar Om Dave.
Vino mengambil beberapa jenis makanan yang sudah ibunya buat di atas meja dan duduk di sofa ruang keluarga. Ia makan tanpa melepaskan tatapannya pada handphone. Ia membaca sebuah artikel.
"Kalo makan jangan sambil main handphone!" ucap Sandra sambil menarik handphonenya.
"Wait ma...!" seru Vino.
"Kenapa?" tanya Calvin ketika ia memasuki ruang keluarga.
"Handphone aku diambil mama." jawab Vino datar.
Calvin duduk disamping Vino. "Kapan kamu lulus Vin? Papa mau kamu yang cepet-cepet gantiin. Papa udah capek." ucap Calvin
"Aku gak tau. Mungkin tiga tahun lagi." jawab Vino.
"Tiga tahun? Kamu yakin?"
"Aku yang sekolah. Kalo gak percaya, papa aja yang sekolah." jawab Vino dingin.
Sandra langsung menggelengkan kepalanya. "Jangan gitu Vino, papa kamu nanya bener. Jawabannya kok gitu."
"Setiap aku ketemu papa, pertanyaan yang sama terus yang papa tanyain." protes Vino.
"Emang bener sih, aku nanya terus masalah ini." jawab Calvin sambil tertawa. Iapun menatap Vino. "Kamu mungkin belum tau. Kita mau pindah rumah. Planningnya dua tahun ke depan. Rumah ini baik, udaranya bagus. Tapi terlalu jauh. Selama rumah ini kosong, kita bisa sewa kan ke orang lain." tambahnya.
"Ma, pa, pertanyaan terakhir sebelum aku masuk kamar. Kapan kalian akan memisahkan kakak sama pacarnya?" tanya Vino sambil berdiri. Ia mengabaikan ucapan ayahnya tentang pindah rumah. Ia tidak peduli. Ia lebih peduli dengan hubungan kakaknya.
Calvin dan Sandra saling bertatapan.
"Ma!" panggil Erika dari luar.
"Ya..." jawab Sandra.
Vino langsung berjalan ke pintu depan. Ia membukanya. Ia menatap pipi Erika yang bergurat merah dan ujung bibirnya seperti bekas luka. Ia mengerutkan keningnya. Ketika Erika masuk kedalam, Vino langsung menarik lengannya.
"Kak, pipi kamu kenapa?"
Erika langsung memegang pipinya. "Oh ini, gak apa-apa. Cuma kecelakaan kecil. Emang keliatan ya?" tanya Erika sambil tersenyum. Iapun berjalan menemui ayah dan ibunya.
Ia melihat kedua orangtuanya sedang berbincang di ruang keluarga. Iapun duduk dan mulai ikut mendengarkan ucapan ayahnya.
"Om Dave masih belum sadar. Tapi mereka akan mengabari kita jika ada perkembangan." ucap Calvin ketika menatap Erika.
"Parah pah?" tanya Erika.
"Bukan parah lagi. Masih untung Om Dave selamat." jawab Calvin. "Udah 5 hari belum sadar. Mudah-mudahan hari ini kita dapat kabar baik." tambahnya.
"Kasihan.." ucap Erika. Ia dapat membayangkan bagaimana Tante Alena dan Andi menghadapi semuanya. Ia ingin memberikan support pada Andi. Tapi apa yang bisa dilakukan? Ia tidak mungkin menyusul ke Brussel untuk menemui mereka. Bagaimana kalau Andi menolaknya?