
“Dari mana?” tanya Calvin ketika melihat Erika duduk dengan wajahnya yang cemberut.
“Dari toilet, pah” jawab Erika sambil mengaduk makanan didepannya.
Sandra dan Calvin saling bertatapan. Mereka berdua kebingungan dengan sikap Erika siang ini. Apalagi Sandra yang sejak pagi berada disampingnya. Ia melihat Erika hanya mengaduk makanannya. Ia terlihat tidak semangat.
“Halo om, tante..” panggil Andi yang baru saja datang. Sandra dan Calvin langsung menoleh pada asal suara.
Calvin mengerutkan keningnya. “Loh, ada kamu disini juga?”
“Iya, tadi aku ada urusan kerjaan disini, om.”
“Kalo gitu kamu pesen makanan, kita makan bareng-bareng.” ucap Calvin.
“Gak usah pah, dia udah makan tadi.” ketus Erika.
Andi langsung tertawa. Ia mencubit lengan Erika. “Ojo ini kalo becanda kadang kelewatan om. Aku juga lapar. Mau pesen sekalian. Tadi emang sempet makan sama klien tapi gak kenyang."
"Pantes aja gak kenyang. Dia gak makan kok, dia ngeliatin muka kliennya." sewot Erika.
"Mengada-ngada nih om. Ngomong-ngomong ada acara apa makan-makan disini?” tanya Andi menghiraukan ucapan Erika. Ia tidak menyadari jika Erika sedang cemburu.
“Erika besok mulai kerja.” jawab Sandra senang.
Andi terkejut. Ia menatap Erika. “Kamu kerja dimana besok?”
Erika hanya melirik Andi. “Bukan urusan kamu.”
Sandra menggelengkan kepalanya. Tipe anaknya sangat mirip sekali dengannya. “Jangan gitu, sayang.. kamu kenapa sih?”
Andi menghela nafas. “Salah aku, Tante. Ojo telepon aku dari kemarin tapi gak pernah aku angkat. Aku emang lagi sibuk. Hari ini juga aku gak angkat telepon Ojo. Aku minta maaf ya Jo. Lain kali aku pasti angkat telepon dari kamu.”
“C’mon Jo, Andi udah minta maaf. Jangan rusak makan siang kita.” ucap Calvin.
“Oke, tapi kamu harus angkat telepon dari aku. Kalo enggak, persahabatan kita cukup sampai disini.” ancam Erika.
"Percaya sama aku." jawab Andi tenang.
Andi tersenyum melihat senyuman ayahnya sore ini. Pertemuan dengan Ojo dan keluarganya tadi siang membuat pekerjaannya hari ini lancar. Ia senang sekali. Ojo membawa keberuntungan untuknya. Lirikan ayahnya membuat senyumannya menghilang.
“Kenapa? Tadi Om Calvin telepon katanya dia ketemu kamu di restoran.”
Andi mengangguk. “Iya. Tadi aku sekalian makan siang disana.”
“Gimana hubungan kamu sama Erika?”
“Hubungan apa maksud papa? Kita baik-baik aja.”
“Ada perkembangan?”
“Papa gak usah berfikir terlalu jauh soal Erika. Jangan kayak mama yang terus-terusan jodohin kita berdua. Erika itu sahabat Andi. Gak lebih pah.”
Dave menatap Andi dan memeluk kedua tangannya. “Bener cuma sahabat?”
Andi mengangguk dengan cepat. “Iya.”
“Gimana kalo ternyata Erika itu jodoh kamu?”
Andi membalikkan badannya. “Papa udah kayak mama. Udah ah, Andi ke ruangan dulu.” ucapnya sambil berjalan keluar dari ruangan ayahnya.
“Andi, sebentar.” panggil Dave.
Andi berbalik kembali dan menghampiri ayahnya. “Kenapa pah?”
“Kamu tau kan cabang kita di Spain butuh orang kayak kamu?” tanya Dave ragu.
Andi menggelengkan kepalanya. “Gak ngerti”
“Ya udah nanti aja. Lebih baik kamu ke kantor Om Edward. Kasihin berkas ini. Sekalian si kembar ajak makan daripada gangguin Om Edward terus.” ucap Dave sambil mengeluarkan dokumen di lacinya.
"Harusnya ke rumah aja. Aku pengen ketemu si jagoan kecil." jawab Andi sambil melangkah pergi.
Setelah kepergian Andi, Dave menatap laporan dari berbagai cabang mengenai hotel. Jika ia melibatkan Andi dalam proyek hotel, apakah Andi sanggup. Iapun mengeluarkan handphonenya dan menghubungi Clara.
“Halo.” jawab Clara cepat.
“Ra, udah liat laporan terakhir cabang kita di Eropa?” tanya Dave.
“Gimana kalo sementara biar aku sama Edward yang kesana? Kita sekalian kontrol semuanya.”
“Berapa lama?” tanya Clara seakan menolak permintaan Dave untuk membawa Edward pergi dengannya.
“Sementara, Ra. Ini demi kebaikan keluarga kita.” jawab Dave.
"Ya terpaksa deh lepasin Edward." jawab Clara malas.
"Jangan gitu. Andi lagi ke kantor Edward sekarang. Tungguin aja, katanya si kembar kangen sama sepupunya.."
"Iya mending bawa si kembar pergi makan. Daripada gangguin papa nya terus."
"Tanpa kamu suruh pun aku udah punya inisiatif kayak gitu." jawab Dave sambil tertawa. Ia tahu kedua anak itu paling dekat dengan ayahnya. Padahal mereka berdua sudah dewasa tapi jika bertemu dengan Edward, mereka seperti kembali menjadi anak kecil.
Cello tampak serius dengan kertas ditangannya. Ia sedang sibuk membuat sketsa setelan jas yang akan ia buat di meja ayahnya. Melihat seluruh ruangan, ia tahu dengan pasti tipe ayahnya seperti apa. Ia melihat Cilla yang sedang tiduran di sofa panjang tak jauh dari meja ayahnya. Seharian ini mereka terus mengganggu ayahnya. Karena ayahnya sering terkecoh oleh wajah mereka. Kali ini mereka dengan usilnya membuat ayahnya bingung dengan berganti posisi.
"La, kalo papa masih lama, kita pulang aja. Kasian Ardan dirumah sendiri." panggil Cello.
"Aku mau disini dulu. Kamu pulang duluan aja." ucap Cilla malas.
Cello hanya menatap kesal pada Cilla.
Brakkkkkk!!! pintu terbuka dengan kencang. Andi tiba dengan dokumen ditangannya. Ia sendiri terlihat terkejut dengan tangannya.
"Wah..." ucap Andi sambil melihat tangannya.
Cilla langsung bangun dari sofa dan menghampiri Andi. Wajahnya sangat ceria.
"Kak Andi! mau ajak kita kemana hari ini?"
Cello bangun dari kursinya dan ikut menghampiri Andi.
"Iya, kalian lebih baik ikut aja sama Andi. Daripada disini gangguin terus Om Edward." ucap Andi sambil menyimpan berkas di meja Edward. "Tapi nanti tunggu Om Edward kesini dulu."
Iapun duduk di sofa diikuti kedua gadis itu.
"Sebelum kakak punya pacar, kita harus makan-makan dulu." ucap Cello yang duduk disampingnya.
"Eh, coba sini. Kakak mau tanya, kalian pernah jatuh cinta gak sih? Usia kalian kan udah pas buat punya pacar." ucap Andi
Cilla kini duduk disamping sebelahnya yang kosong. "Pasti dong kak. Dari SMP juga aku udah pernah punya pacar."
Andi langsung berbalik. "Yang bener? Kok bisa?"
"Namanya juga cinta monyet. Lagian kita gak serius kok. Nah, sekarang aku mau nanya. Bukan aku aja sih, mewakili Cello juga. Kakak mau seriusin yang mana?"
Andi tertawa. "Yang mana? satu aja cukup kok."
"Iya yang mana kak?" tanya Cello penasaran.
"Emang kalian tau?" tanya Andi bingung.
"Tante Alena pernah bilang sama kita soal anak temen mereka yang waktu itu pernah bikin kakak terpesona." jawab Cello.
"Ah, kapan aku pernah terpesona selain sama Jane?" tanya Andi sambil tertawa hambar.
Cilla tiba-tiba mencubit lengan Andi. "Jangan pura-pura lupa. Kita inget kok tatapan kakak sama perempuan itu beda."
"Beda? Salah. Harusnya sama aja. Tapi bukan perempuan itu yang bikin kakak suka. Ada yang lain."
"Yah, padahal kita berdua seneng sama anaknya temen mama yang itu." jawab Cilla diamini Cello.
Ehem. Terdengar suara berdeham didepan pintu. Edward sedang serius melihat kedekatan anak-anaknya dengan Andi.
"Kamu bawa berkas ya?" tanya Edward.
"iya om. Udah disimpen diatas meja." jawab Andi.
Selagi Edward melihat berkas itu, Andi berdiri. Ia melihat kedua sepupunya dan memberikan isyarat dengan matanya.
"Kita bertiga pergi dulu om. Pokoknya tenang. Nanti Andi antar pulang."
Edward hanya mengangguk mendengar ucapan Andi.
Mereka bertiga pun keluar dari ruangan Edward dan pergi dengan sangat antusias. Masih banyak yang belum diceritakan oleh seorang Andi kepada kedua sepupunya itu.