Love Actually

Love Actually
Penasaran



“Aku minta maaf soal adik kamu.” ucap Bumi ketika mereka mulai melahap makanan didepannya.


Erika menghentikan makannya. “Aku mau kamu yang langsung minta maaf sama adik aku.”


“Aku siap. Kalo suatu saat aku ketemu lagi sama adik kamu, aku yang minta maaf langsung.” ucap Bumi serius.


Erika tersenyum. Ia menoleh untuk melihat-lihat suasana sekitar restoran. “Kamu syuting apa disini?”


“Syuting film. Makanya beberapa hari aku gak pulang. Liat tempat ini aku inget sama kamu. Makanya waktu tadi pulang syuting, aku langsung ngajak kamu kesini.”


“Film?” tanya Erika terkejut.


Bumi tersenyum. “Ya, film pertama aku. Kemungkinan masa depan aku di film tergantung dari film ini. Aku gak mau cuma jadi presenter ataupun penyanyi. Aku mau mengembangkan sayap di bidang film. Kamu dukung aku kan?”


“Kamu gak pernah bilang sama aku soal ini. Aku pikir kamu masih sedikit menutup privasi kamu dari aku. Sampai sekarang kamu masih melarang aku buat nanya tentang keluarga kamu dan pekerjaan kamu.” jawab Erika sambil menyimpan sendok yang dipegangnya.


“Ya, kalau semuanya udah siap, aku kasih tau kamu semuanya.” jawab Bumi.


Erika menutup matanya. Ia menghela nafas. “Oke.” jawabnya.


Tiba-tiba handphone Bumi yang ada diatas meja bergetar. Erika tak sengaja melihatnya. Bumi pun berdiri.


“Sebentar. Aku pergi samperin Robby dulu. Dia ada dibawah. Kamu makan aja.” ucap Bumi.


Erika mengangguk. Ia melihat Bumi berdiri dan menuruni tangga.


Robby, pria yang merupakan manajer Bumi tidak menyukainya. Ia sadar itu. Apakah karena ia adalah wanita kalangan biasa? Ia hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi. Tiba-tiba ia terfikir pada Bumi. Pria itu kini menjadi aktor. Tantangan apa yang akan ia hadapi dengan menjadi pacarnya? Tiba-tiba matanya melihat handphone Bumi yang tertinggal di meja. Ada panggilan dari seseorang. Ia melihatnya. SUTRADARA? Iapun memutuskan untuk memberikan handphone itu pada Bumi. Sekarang-sekarang adalah masa awal untuk Bumi menjadi seorang aktor.


“Kalo kamu bikin skandal besar, aku gak akan bantuin kamu.” seru Robby marah.


“Gak mungkin.” jawab Bumi.


“Kamu sadar gak? Kamu itu baru aja terjun di dunia perfilman. Kenapa sih kamu macem-macem punya pacar segala?” tanya Robby marah.


“Aku butuh penghayatan dengan punya pacar, by! Awalnya aku berniat kayak gitu. Tapi aku sayang sama perempuan ini. Lama-lama aku cinta sama perempuan ini. Trus aku harus gimana?” tanya Bumi.


“Pokoknya aku peringatin kamu. Kalo kamu gak mau skandal besar kamu terungkap, aku minta sama kamu tinggalin perempuan ini.”


“Aku gak bisa by, aku cinta sama Erika.” elak Bumi.


“Bisa-bisanya kamu ngomong cinta sama perempuan ini, sedangkan…”


“Bumi!” panggil Erika tepat dibelakang mereka.


Bumi dan Robby saling bertatapan. Wajah mereka pucat.


Bumi menoleh. “Kenapa sayang?” tanyanya.


“Ada telepon dari sutradara.” ucap Erika sambil menyerahkan handphone itu ke pemiliknya.


“Oke, makasih” jawab Bumi.


“Nanti aku pikirin lagi. Aku tunggu di mobil. Aku tunggu satu jam lagi.” seru Robby sambil berjalan keluar.


Bumi hanya mengangguk dan mulai menerima telepon dari seseorang. Erika berjalan menaiki tangga dengan perasaan tidak baik. Ia mendengar semua ucapan Robby dan Bumi. Kenapa Robby mengatakan hal itu? Ada apa dengannya? Apakah ia tidak layak dicintai? Apakah ia bukan berasal dari showbiz? Lalu tentang skandal. Skandal apa yang pernah dilakukan Bumi sebelumnya? Bagaimana ia mulai menanyakan masalah ini pada Bumi?


Ketika sudah berada diatas, ia tidak langsung makan. Ia menatap pemandangan kota dimalam hari. Pikiran buruk berkecamuk di kepalanya.


Dilain tempat


Andi berjalan keluar rumahnya. Ia hanya ingin mencari udara segar malam ini. Hanya tinggal menghitung hari ia harus pindah ke London. Karena Om Calvin memintanya cepat, iapun harus cepat-cepat pindah agar bisa fokus.


“Mau ke mana, Prince?” seru Alena ketika ia melihat Andi turun dari tangga.


“Aku mau jalan keluar sebentar.” jawab Andi sambil mengeluarkan kunci mobil di sakunya.


“Udah jam 11 malem. Jangan terlalu lama.” seru Alena.


“Iya ma, tenang aja.” jawab Andi.


Andi mulai mengeluarkan mobilnya. Malam ini ia hanya ingin berkeliling kota ini sebelum pergi. Ia ingin mengunjungi tempat-tempat yang sering ia datangi. Namun tidak pernah terpikir ia akan mengunjungi kampusnya malam ini. Mobilnya ia simpan diluar gerbang. Ia menatap bangunan itu penuh makna. Gara-gara Jane, persahabatan dengan teman-temannya hancur. Dibelakangnya, mereka seperti mentertawakannya karena kebodohannya yang tidak tahu jika Jane adalah kekasih Rico. Ia menghela nafas.


This case closed, Jane. Aku bisa dengan cepat melupakan kamu. Ternyata berpisah sama kamu buat aku baik-baik aja.


Hanya beberapa menit ia tinggal didepan gerbang, ia kemudian membawa mobilnya menuju tempatnya biasa bermain basket selain di kampus. Karena sudah malam, jalanan menuju lapangan itu kosong. Mobil sangat jarang terlihat. Ia memerlukan waktu sepuluh menit untuk sampai.


Ketika sudah sampai, ia memutuskan turun dari mobil dan berjalan ke depan gerbang. Namun sayang, gerbang berwarna hijau itu sudah terkunci oleh rantai yang sedikit besar. Iapun kembali ke mobil. Di depan mobil, ia bertemu dengan pria yang terakhir kali menemuinya disini untuk mencari Erika.


“Kenapa malam-malam kesininya? Lapangannya udah digembok.” ucap pria itu.


“Pa, kita ngobrol sebentar.” ajak Andi


“Didepan kios aja. Kebetulan ada kursi.” ucap pria itu.


Andi mengangguk dan mengikuti pria itu. Mereka berduapun duduk didepan kios pria itu.


“Kenapa malam sekali kesini?”


Andi tersenyum. “Saya cuma mau nostalgia pa, sebelum saya pindah.” jawab Andi


“Pindah? Kemana?”


“Ke London. Lusa saya baru berangkat.” jawab Andi.


“Trus perempuan yang suka kamu bawa kesini?”


Andi tersenyum. “ Kami gak ada hubungan apapun selain kenalan dari orangtua.”


“Kamu mau duel lagi untuk terakhir kalinya?” tanya pria itu.


“Udah digembok kan pa?” jawab Andi


“Ada tempat yang bisa kita datangi. Sebentar saya tutup dulu kiosnya.” ucap pria itu. Setelah pria itu menutup kiosnya. mereka berduapun pergi menuju lapangan melalui pintu belakang.