Love Actually

Love Actually
Episode 110



“Secepat itu, suamiku? Kamu playboy ya? Mantan pacar kamu banyak?”seru Sierra. Dalam hatinya ia merasa ini mimpi. Pria yang baru saja beberapa bulan yang lalu menikah dengannya telah mengatakan sesuatu dengan jujur.


“Aku playboy? Kamu salah. Aku cuma pacaran satu kali. Aku pria yang setia."


"Trus kenapa cepat banget?" tanya Sierra.


"Cepat? Gak juga. Mungkin 5 bulan kebelakang aku mulai tertarik sama kamu.” jawab Vino santai. Ia menggeser kursinya untuk duduk disamping Sierra.


Sierra semakin bingung. Ia menatap Vino ” 5 bulan? Kita kan baru nikah.”


“Tokyo. Aku pernah liat kamu di Tokyo. Di kedai ramen.”


“Tokyo?” tanya Sierra kembali.


Vino mengangguk. “Ya. Waktu kamu masuk ke kedai ramen itu, muka kamu merah karena nahan dingin. Hidung kamu juga merah. Tapi kamu tetep cantik. Kamu tau? Sampai-sampai aku gak bisa memalingkan wajah aku dari kamu.” Puji Vino.


“Hari ini aku traktir kamu karena puji aku terus. Kamu harus tau. Penghasilan aku bikin gaun pengantin bertambah."


“Aku gak butuh traktir. Aku cuma mau kamu.” Terang Vino.


Sierra tertawa malu. "Kamu kenapa sih?"


Vino ikut tertawa. "Aku juga gak tau kenapa jadi berani gini. Kayaknya gara-gara kamu!"


...***...


Sherly menghubungi Vino namun sulit. Terpaksa ia langsung datang ke kantornya. Besok malam mereka harus menghadiri acara reuni sekolahnya dimana teman-teman Vino dari Jepang ada disana. Itupun menjadi salah satu alasan untuk bertemu dengan Vino. Sosok dirinya yang baru saja menjadi seorang mantan model internasional bisa membuat media penasaran dengan caranya pensiun. Berbagai majalah internasional masih banyak yang mempertanyakannya untuk berhenti disaat semua mata internasional tertuju padanya. Bukan hanya itu. Iapun sudah menjadi role model anak-anak disini yang ingin terjun menjadi model internasional. Tapi keinginannya bulat. Ia hanya ingin kembali pada Vino.


Ia menatap bangunan didepannya. Ternyata tidak sulit mendapatkan alamat kantor baru Vino. Ia bisa melihatnya di internet. Ia beruntung hidup di abad sekarang dimana akses untuk mencari seseorang bisa ia dapatkan dengan mudah.


Sherly melihat Dimas sedang berdiri diluar. Ia terlihat sedang menunggu seseorang. Jika Dimas ada di kantor, itu berarti Vino juga ada di dalam. Ia tersenyum senang. Iapun menghentikan mobilnya dan keluar. Ia menatap kantor Vino dengan takjub. Kantornya mirip dengan rumah kedua orangtuanya di Jepang. Itu berarti Vino memang belum sepenuhnya meninggalkannya.


Dimas terkejut ketika melihatnya disana. “Mau apa kamu kesini?” tanyanya kesal.


“Hai dim. It's been a while ya. Kamu apa kabar?Aku kesini mau ketemu pacar aku.” jawab Sherly sambil tersenyum senang. Ia mengenal Dimas karena pria itu satu-satunya sahabat Vino ketika mereka sekolah di Jepang dulu.


Dimas menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum sinis. “Jangan mimpi kamu! Vino udah nikah. Dia udah bahagia dengan istrinya. Jangan sekali-kali ganggu kehidupan Vino lagi. Kamu udah dibuang, Sherly..” jawab Dimas sambil berlalu menjauhinya.


“Ih sewot banget. Aku yang mau ketemu Vino, kok kamu yang marah.” Jawab Sherly cuek sambil berjalan kedalam.


Vino terlihat sedang fokus pada gambarnya. Ia berjalan perlahan. Ia yakin sekali jika Vino tidak tahu kedatangannya.


Sherly menutup kedua mata Vino dengan kedua tangannya. Vino terlihat sedikit terkejut tapi ia tersenyum dan menarik tangannya. Namun ketika ia melihat tangannya, itu bukan tangan Sierra. Ia melepaskannya dengan cepat dan membalikkan tubuhnya. Ia melihat Sherly dengan pakaian minim sedang tersenyum padanya.


“Mau apa kamu kesini?” tanya Vino sambil berdiri. Ia melihat beberapa karyawannya sedang berbisik sambil melihat ruangannya.


Sherly mengerutkan keningnya. “Segitunya kamu sama aku. Aku ada perlu sama kamu. Aku pengen ketemu kamu."


"Aku udah menikah. Aku punya istri. Kamu harus ingat, kita gak ada hubungan apa-apa lagi." Tegas Vino.


Sherly membalikkan tubuhnya kebelakang. Ia merasa sedih karena Vino telah menjadi seseorang yang berbeda.


"Aku pasti rebut kamu lagi Vin." ucap Sherly pelan.


"Aku cinta sama istri aku."


Sherly menggelengkan kepalanya. "Itu gak mungkin. Kamu baru nikah 3 bulan. Aku gak percaya."


"Terserah." Jawab Vino ketus.


"Aku gak ada kesempatan lagi ketemu sama kamu. Sebenernya maksud aku kesini buat ngundang kamu ke acara reunian. Banyak temen-temen kita dari Jepang. Mereka khusus kesini karena pengen ketemu kamu. Mereka gak tau kita udah putus. Kamu dateng ya Vin malam ini."


"Sorry, aku gak bisa dan aku gak mau." Jawab Vino cepat.


"Vin, ini permintaan aku terakhir. Aku juga gak akan ganggu kamu lagi." ucap Sherly dengan wajah serius.


Vino menghela nafas. Sebenarnya teman-temannya yang berada di Jepang pun mengatakan hal yang sama minggu lalu. Mereka datang untuk menemuinya di acara nanti. Tapi, ada sesuatu yang ia takutkan. Apalagi ini tentang Sherly. Ia harus hati-hati. "Kamu yakin?"


"Aku yakin."


"Oke. Untuk terakhir kalinya. Jangan pernah ganggu hubungan aku sama istri aku. Kalau ada apa-apa sama istri aku, kamu yang harus menyelesaikannya."


"Not bad. Aku setuju." jawab Sierra santai.


Sherly menggelengkan kepalanya. "Gak ada. Gak mungkin. Ini acara reuni."


Sierra sudah berada di gedung sejak pagi. Ia membuat ballroom itu semegah mungkin. Nanti malam Daniel memintanya untuk berpakaian formal layaknya tamu undangan. Untung saja instingnya kuat. Mili mengirimkan dress itu tepat sebelum acara. Ia kini berada dikamar hotel. Daniel memberikan satu kamar untuknya agar ia bisa mengontrol acara itu dengan mudah.


Sierra menatap dirinya didepan cermin. Gaunnya benar-benar indah. Sayang sekali ia tidak bisa memperlihatkan gaunnya pada Vino. Tiba-tiba ia menggeleng. Kenapa tiba-tiba ia ingat pada suaminya itu. Jantungnya berdebar dengan kencang. Ia menghela nafas perlahan. Kemarin Vino terlalu perhatian. Ia ingat Vino tadi malam mengajaknya mengobrol hingga tengah malam. Ia merasa nyaman mengobrol banyak hal dengan suaminya itu. Tadinya ia tidak mau menyalah artikan. Tapi sepertinya Vino memang melakukannya sesuai dengan hati. Dan ia beruntung. Vino tidak menghubunginya seharian ini karena ia terlalu sibuk untuk mengangkat telepon.


Pintu diketuk pelan. Sierra berjalan mendekati pintu. Ketika pintu terbuka, Daniel telah berada disana. Ia terpana melihatnya. "Kamu benar-benar cantik, Sierra. Suami kamu beruntung." Ucap Daniel.


"Semua wanita juga cantik. Jangan puji aku. Ayo, kita tempat acara. Jadi aku standby dimana?"


Daniel mengeluarkan kertas dari sakunya. "Kamu di area ini dulu. Makanan. Itu intinya. Ini anak pejabat. Banyak wartawan. Jangan sampe mereka gak puas. Dari sisi ini, kamu bisa liat pengantin dengan jelas. Aku tau, kamu pasti terkesan karena dress kamu dipakai sama pengantinnya"


Sierra mengangguk mengerti. Ia mengenakan pendengar suara yang terhubung langsung pada Daniel.


Ketika Sierra berjalan ke ballroom, banyak sekali wartawan diluar. Ia melihat ada beberapa wartawan yang masuk kedalam ruangan dengan menggunakan tanda pengenal. Sierra menatap foto pengantin yang berdiri tegak didepan pintu masuk. Kelas mereka sangat berbeda. Wanita itu sangat cantik. Dan pria nya? Tidak dapat diragukan. Pernikahan itu memang menjadi pekerjaan yang paling berat untuknya. Puluhan ribu bunga didatangkan langsung dari berbagai wilayah. Pernikahan layaknya di negeri dongeng didambakan oleh banyak wanita. Termasuk dirinya. Itu memang benar. Ia pernah merencanakan pernikahan seperti ini ketika berpacaran dengan Yoga. Tapi, pernikahan mewah seperti ini, belum tentu hidupnya bahagia. Ia jadi teringat kejadian itu.


Sierra sedang melihat-lihat menu makanan. Iapun mencicipinya sedikit karena perutnya tidak enak sejak tadi pagi. Suasananya semakin ramai. Tamu mulai berdatangan. Ia melihat kearah pengantin. Ada sesuatu yang membuat ia harus melihat lebih dekat. Siapakah orang itu?


Sherly mengaitkan tangannya pada Vino. Mereka menjadi pasangan yang sangat serasi. Vino mengenakan pakaian kasual . Begitu pula dengan Sherly yang cantik seperti biasa.


Vino ingat sebelum pergi tadi, ia dan Dimas berdebat di kantor. Dimas tetap tidak setuju jika dirinya ikut ke pesta itu. Dimas khawatir jika Sherly menjebaknya.


"Vino!" teriak salah seorang laki-laki yang terlihat baru keluar dari sebuah tempat.


Vino menoleh. Daniel ada di hotel ini. Ia langsung melihat sekeliling. Ia panik. Ia melihat Daniel menghampirinya.


"Sierra masih di ballroom. Kita lagi ada masalah." ucap Daniel. Pria itu melirik wanita yang saat ini sedang memegang lengannya.


"Ini gak seperti yang kamu pikirin. Dia temen aku. Aku juga lagi ada acara di hotel ini." jelas Vino.


"I see. Aku pergi dulu." jawab Daniel sambil berlari.


Vino menghentikan langkahnya ketika ia melihat banyak sekali wartawan yang berada diluar sebuah ruangan. Ia menoleh pada Sherly.


"Kamu bohong. Kamu bilang gak ada wartawan." Ucapnya marah.


"Aku juga gak tau Vin, aku emang denger katanya ada anak pejabat yang menikah. Tapi katanya kemarin wartawan dilarang meliput." Jawab Sherly pura-pura.


"Dilarang meliput bukan berarti gak boleh datang." Umpat Vino kesal.


"Sorry. Mau gimana lagi. Kita udah disini. Kita masuk aja sebentar buat ketemu temen-temen kamu" jawab Sherly.


Vino mulai tidak tenang.


Sierra tidak menyangka akan bertemu dengan salah seorang teman sekolahnya ketika di Amerika dulu. Ternyata ia berkuliah ditempat yang sama dengan pengantin pria. Ia pun merasa lega dan kerja kerasnya terbayar dengan banyaknya pujian padanya. Iapun berjalan keluar untuk beristirahat sejenak. Ia melihat di lobi ada kerumunan wartawan. Karena penasaran, ia menghampiri mereka.


Seorang pria dan wanita cantik sedang berada di didepan pertanyaan wartawan dengan wajah bahagia. Mereka bahkan berfoto bersama. Kemudian wanita itu mengapit lengan pria itu dengan mesra layaknya sepasang kekasih. Sierra harus menahan perasaannya saat itu juga. Pria itu adalah suaminya sendiri yang sedang bersama dengan seorang wanita cantik. Ia yakin itu adalah kekasihnya yang waktu itu menolak menikah dengannya. Ia menunduk lemas. Padahal besok pagi ia harus pergi untuk melihat proyek itu. Tapi malam ini ia bersama wanita itu.


Tiba-tiba ia merasa hidupnya menyedihkan. Ia menarik nafas dalam-dalam dan mengangkat kembali kepalanya. Ia menatap tajam Vino.


Vino menatap Sierra tak percaya. Ia tidak percaya malam ini akan menjadi mimpi buruk untuknya. Ucapan Dimas benar. Sekarang ia yakin Sherly menjebaknya. Dan ia tidak bisa memalingkan wajahnya pada Sierra yang nampak sangat cantik malam ini. Ketika Ia akan mendekatinya, ia ditarik oleh Sherly yang sudah dikelilingi oleh wartawan.


Sierra hanya menatap nanar pada Vino. Perutnya tiba-tiba mual. Ia berlari ke kamar mandi dengan cepat.


Daniel yang kala itu melihat Sierra berlari setelah melihat Vino, ia langsung mengikutinya dari belakang. Ia sempat terkejut tadi ketika melihat suami Sierra berada disana dengan wanita lain. Tapi tadi ia mendengar jika wanita itu bikin seseorang yang harus ia pikirkan. Lalu, kenapa wanita itu melekat erat pada Vino. Siapa wanita itu? Kenapa ia dikelilingi wartawan?


Daniel melihat Sierra keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. "Kamu gak apa-apa?"


Sierra mengangguk. "Kalo aku lepasin acara ini gimana? Udah mau selesai kan?"


Daniel memegang tangan Sierra. Ia juga khawatir. "Kamu mau pulang?"


Mata Sierra berkaca-kaca. Ia tidak bisa menjawabnya.


"Pake kamar itu buat malam ini. Aku gak akan ngomong apa-apa sama suami kamu. Kalian memang harus bicara, tapi gak disini. Tenangkan diri kamu dulu. Baru besok kamu pulang trus selesaikan semuanya. Atau kamu mau pulang sekarang?"


Sierra terisak. "Aku gak sanggup."


Daniel menghela nafas. "Kalo gitu aku anter kamu ke kamar. Kita kan sahabat."