Love Actually

Love Actually
Panggilan Alena



Erika menguap untuk kesekian kalinya ketika ia dihadapkan pada ucapan ibunya yang mengatakan ia harus bertemu dengan Tante Alena di rumah sakitnya siang ini. Ia tidak henti menguap sejak dari rumah. Rasanya malas sekali ia harus terus mengikuti ucapan ibunya. Semua keinginan ibunya harus ia turuti. Setelah semuanya selesai, ia akan mulai mencari pekerjaan.


Perjalanan memakai taxi lumayan sedikit lama. Taxi yang ia tumpangi sedikit tersendat tadi ketika melewati sebuah toko busana di kiri jalan. Terlihat tulisan besar bertanda diskon. Ia menyandarkan kepalanya di samping kaca jendelanya. Ia menutup matanya perlahan. Sebagai perempuan, ia tidak suka belanja. Apa yang ia kenakan itulah yang menurutnya nyaman. Ia tidak pernah mengikuti trend. Mungkin karena itulah tidak ada pria yang menyukainya sampai sekarang.


Pernah ibunya mengajaknya berbelanja di butik salah satu temannya ketika mereka berada di Jepang dulu. Tapi ia tidak mendapatkan hasil apa-apa. Ia tidak suka pakaian yang mengumbar sebagian tubuhnya. Ia malu karena tubuhnya terlalu datar untuk seorang perempuan. Ia ingat peringatan ibunya. Dalam satu tahun ini, ia harus membawa seorang pria ke rumahnya ketika mereka masih berada di Jepang dulu. Tanpa sadar ia mengernyitkan dahinya. Semuanya sudah berlalu. Ia menyanggupi untuk pulang karena ia ingin memiliki kekasih. Dan ibunya memang menginginkan ia memiliki suami yang satu negara dengannya. Menyedihkan dengan alasan seperti itu. Jaman modern seperti sekarang keluarganya masih memikirkan hal itu.


Jika dibandingkan dengan Andi, rasanya mereka berbeda 180 derajat. Ia yakin pria itu memiliki banyak kekasih. Atau setidaknya ia pernah menjalin hubungan dengan banyak perempuan cantik. Pria itu bebas. Menurutnya pria berbeda dengan wanita. Apalagi dirinya sendiri. Ia belum pernah merasakan jatuh cinta. Kata orang, jika ia sedang jatuh cinta, ia akan sulit makan dan setiap saat memikirkan orang itu apapun yang sedang ia lakukan. Tapi apa Andi pernah merasakan hal itu? Ia menggelengkan kepalanya. Kenapa ia masih sempat terfikir soal pria itu?


Mungkin karena semalaman ia tidak bisa tidur jadi otaknya melebar kemana-mana. Entahlah, ia sangat sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Walaupun itu rumahnya, ia tetap tidak bisa melakukannya. Lagu yang dinyalakan supir taxi terdengar begitu sayu. Ia sudah tidak bisa menahan kantuknya.


"Pa, masih lama?" Tanya Erika pelan.


"Sebentar lagi." Jawab supir itu ramah.


Ia melihat jam tangannya. Ibunya hanya mengatakan jika ia harus bertemu dengan Tante Alena untuk sebuah pekerjaan. Ia tidak tahu pekerjaan apa itu. Ia menatap dirinya. Pakaian yang ia kenakan bukan pakaian formal seperti layaknya seseorang yang sedang mencari pekerjaan. Ia akan menutup wajahnya seperti biasa ketika ia merasa malu. Lagipula ibunya tadi sempat berpapasan dengannya ketika dirumah. Ia tidak komplen dengan pakaian yang ia kenakan.


Alena ditemani oleh asistennya berjalan menuju ruang pendaftaran. Ruangan itu masih terlihat kosong. Beberapa meja dan kursi panitia sudah siap. Satu jam lagi semua panitia akan datang untuk membantunya.


Iapun menghubungi suaminya.


"Ya Al? Kenapa?" Tanya Dave


"Sayang, hari ini aku ada meeting sama para relawan. Tapi, aku masih kurang orang." Jawab Alena.


"Trus gimana? Perlu bantuan aku buat kesitu sekarang?"


"No. Kamu kirim aja Andi kesini. Dia bisa bantu aku."


"Tapi Andi ada meeting juga nanti satu jam lagi." Elak Dave.


"Please.. kamu kan bisa geser meetingnya. Please, suruh dia kesini sekarang."


"Haduh, kamu emang suka ya bikin ribet aku." Jawab Dave.


"Please.."


"Oke, oke, aku gak bisa nolak kalo udah kayak gini."


"Tante!" Panggil Erika yang sudah tiba didepannya. Ketika diluar tadi, ia hanya menyebutkan nama Alena kemudian satpam rumah sakit langsung membawanya kesebuah ruangan. Ketika itu ia masih bingung. Namun diluar ruangan terlihat spanduk dengan tulisan cukup baik. Ia belum pernah mengikuti misi kemanusiaan sebelumnya.


Alena mengangkat wajahnya.


"Sandra junior?" Tanyanya sambil tersenyum. Erika hanya tersenyum ketika mendengarnya.


Alena berdiri dan mengajaknya untuk melihat sebuah video singkat tentang misi itu. "Acara kita mungkin bisa sampe malem. Nanti kamu dianter Andi aja."


"Andi ada?"tanya Erika sedikit antusias.


Alena melirik Erika sambil tersenyum. "Dia belum dateng."


Hanya dalam waktu satu jam acara itu dimulai. Erika menyiapkan kertas dan ballpoint nya untuk mencatat yang penting-penting. Ketika tadi Tante Alena mengatakan bahwa ia menjadi salah satu relawan, ia terkejut. Tapi ia pikir kembali, rasanya tidak ada salahnya mumpung ia masih menganggur. Ia melihat Tante Alena dengan cerdasnya menjelaskan tentang acara itu didepan orang-orang. Ratusan orang yang hadir dan kemungkinan akan terus bertambah. Ia bisa melihat dengan jelas. Pintu masuk ruangan dipenuhi oleh orang-orang yang berebut masuk.


Andi berdiri didepan pintu masuk sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Ibunya memintanya datang hanya untuk melihat acara tidak penting seperti sekarang. Ia melihat jam tangannya. Seharusnya ia meeting dengan ayahnya. Tapi panggilan ibunya merusak semuanya. Ketika ia berjinjit, ia melihat Erika sedang duduk disalah satu bangku panitia. Kebetulan sekali, ia bisa meminta bantuan Erika agar ia bisa masuk ke dalam. Ia ingat wanita itu pernah memberinya nomor telepon.


Andi terus menatap Erika.


"Halo.." jawab Erika.


"Ojooo!! Liat kesini! Arah pintu masuk!" Ucap Andi


Erika menoleh ke pintu masuk. Ia tertawa melihat pria itu berada diantara para relawan yang sedang berebut masuk kedalam.


"Cepet bantuin aku masuk kedalem!" Seru Andi memelas.


"Sebentar" jawab Erika sambil berdiri. Ia berjalan mengendap-endap untuk bisa menemui Andi. Ia kebingungan ketika berada didepan pintu yang sudah terjaga itu. Iapun berbisik pada salah satu petugas. "Pa, diluar itu anaknya Tante Alena. Direktur disini. Emang gak boleh masuk juga?"


Petugas itu nampak bingung. "Maaf Bu, kita tahu itu anaknya ibu direktur. Tapi kita juga bingung. Orang diluar berebut buat masuk. Kalo kita masukin anaknya ibu direktur, bisa-bisa yang diluar ricuh." Jawab salah satu dari mereka.


Erika berfikir. Ia menatap Andi yang sedang menatapnya dengan wajah memelas. "Kalo gitu, biar saya keluar aja. Tolong dibuka pintunya."


Petugas itu mengangguk. Ia mengeluarkan kunci pintu dan membiarkan Erika keluar. Ia melihat Andi mundur dari kumpulan relawan itu. Dengan cepat, Erika menarik tangan Andi dan membawanya menjauh dari tempat acara.