
Dibelahan dunia lain....
Seorang wanita dengan tubuh langsing berjalan melintasi Shinzuku Station untuk mencari tempat makan kesukaannya. Rambutnya hitam panjang terurai terayun mengikuti arah angin. Cuaca sore ini masih sedikit panas karena masih memasuki musim panas. Tubuhnya tinggi bak model. Ia memakai high heel yang senada dengan dress yang ia pakai. Ia sendiri memakai dress berwarna putih dengan aksen bunga berwarna pink yang memperlihatkan kulitnya yang putih dan mulus. Ia adalah Erika Ojo. Perubahan drastis terjadi padanya beberapa tahun terakhir.
***5 tahun yang lalu
Erika datang kerumah orangtuanya sambil membawa koper dan dalam keadaan menangis.Ia terlihat dalam keadaan tertekan.
"Ma, ijinkan Ojo pulang ke Jepang." ucapnya sedih. " Aku udah gak sanggup tinggal disini. Ijinkan Ojo buat menenangkan diri."
Calvin dan Sandra begitu terkejut dengan kedatangan Erika. Mereka tahu kejadian hari ini di rumah sakit, tapi mereka tidak tahu apa yang terjadi pada ia setelahnya. Untuk itulah Calvin dan Sandra langsung mendengarkan semua cerita Erika. Calvin sempat marah tapi ditahan oleh Sandra. Ketika semua sudah berakhir, tidak ada yang harus dilakukan lagi.
Erika sudah memutuskan sesuatu dan Calvin serta Sandra hanya bisa menyetujui. Ia pergi ke Jepang bersamaan dengan kepulangan Vino untuk melanjutkan studynya. Orangtuanya berfikir jika Erika butuh untuk menenangkan dirinya. Hanya Jepang tempatnya pulang. Karena disana merupakan rumah kedua baginya.
Tahun pertama dilakukan Erika dengan menjadi dosen pengganti selama enam bulan di fakultas tempat ia belajar ketika menjadi mahasiswa dulu. Setelah itu 6 bulan kemudian ia mulai berhenti menjadi dosen dan mengembangkan bakatnya menjadi seorang blogger makanan. Ia mulai mengunjungi beberapa negara untuk melakukan review dan hasilnya positif. Blognya sering kebanjiran pengunjung dan review positif. Tidak ada seorangpun yang tahu siapa orang dibalik pemilik blog bernama EAT OJO. Ia tidak pernah mau muncul di televisi maupun channel manapun. Pengalaman buruk lima tahun yang lalu tidak mau ia ulang kembali. Iapun sering mendapatkan undangan dari beberapa media elektronik dari beberapa negara. Hanya saja ia tidak mau memperlihatkan wajahnya. Tak hanya itu, iapun sering menjadi pembicara di beberapa acara yang pernah negaranya ia kunjungi. Semuanya ia lakukan dengan senang. Ia bisa menenangkan pikirannya dan perlahan melupakan kenangan buruk yang pernah menimpanya. Sejak saat itu pula ia tidak pernah pulang kerumahnya selama lima tahun ini***.
Saat ini..
Jalanan kota Shinzuku masih terus ramai sampai kapanpun. Banyak hotel, restoran dan tempat nongkrong tersebar di berbagai penjuru. Banyak warga asing disana karena Shinzuku merupakan salah satu daerah wisata.
Erika tidak pernah meninggalkan kamera di tas nya. Kemana pun ia pergi, ia selalu membawanya. Hari ini adalah hari terakhir ia berada di Shinzuku. Beberapa restoran di Tokyo sudah ia datangi untuk direview pada blog nya. Kali ini ia mendatangi tempat paling spesial baginya dan Vino. Kedai ramen yang biasa ia dan kedua orangtuanya kunjungi. Ia masih ingat dimana kedai itu berada.
"Tadaima!" seru Erika ketika membuka tirai yang menutup pintu kedai. Tadaima dapat diartikan aku pulang. Kedai itu mengharuskan pengunjungnya untuk mengatakan hal itu ketika berkunjung. Menurut mereka, kata-kata itu terdengar seperti keluarga yang baru saja pulang.
"Okaeri!" jawab salah satu koki. Mereka terkejut ketika melihat siapa yang datang. Karena sering datang ke kedai ini, mereka mengenal Erika dan Vino dengan baik. Salah satu pemilik langsung membawa mereka ke sebuah ruangan agar lebih leluasa dan nyaman.
"Arigatou" ucap Erika bersemangat. Ia mulai mengeluarkan kameranya dan menyimpannya di meja. Salah seorang pelayan membawakannya dua gelas teh ocha. Ia tidak perlu mengatakan makanan apa yang akan mereka pesan karena mereka sudah tahu dengan pasti kesukaan mereka berdua.
Vino memegang kamera itu dan menatap kakaknya. "Apa gak bosen kerja dibalik layar?" tanya Vino. Ia melihat isi kamera.
"Justru kakak lebih tenang. Gak ada yang bisa menyakiti kakak lagi." jawab Erika sambil tersenyum.
"Trus nanti kakak pulang lagi ke sini?" tanya Vino.
"Aku udah selesai kuliah. Aku malah mangkir dari panggilan papa setahun ini buat nemenin kakak disini. Aku ikut kemanapun kakak pergi. Aku sekarang mau pulang dan melanjutkan bisnis papa. Kakak mau sampai kapan menghindar untuk tinggal dirumah bareng mama sama papa?Apa yang kakak hindari? Lima tahun udah cukup buat kakak melupakan kenangan buruk kakak disana. Kakak udah berubah. Kakak wanita kuat. Kalo perlu, kakak bisa nunjuk pria manapun untuk bisa jadi pacar kakak." jelas Vino.
Erika mengerutkan keningnya. "Ini pertama kalinya kamu ngomong banyak sama kakak." ucap Erika senang. Ia mencubit pipi Vino.
"Aku serius." ucap Vino sambil melepaskan cubitan Erika.
"Kakak juga serius. Kakak udah punya pekerjaan ini. Kakak gak mau lepas pekerjaan ini dengan mudah. Kakak harus bekerja keras agar karya kakak dibaca dan diketahui orang-orang. Penghasilan dari blog ini bisa bikin kakak keliling dunia." ucap Erika bangga.
"Tapi enggak ke Eropa. Ada apa disana? Kenapa cuma negara-negara Eropa yang kakak hindari? Apa ada yang aku gak tau?" tanya Vino curiga.
Erika tertawa. "Kamu udah kayak mama. Cerewet. Kamu harus menyadari kalau kamu itu laki-laki. Jadi kenapa Kakak gak ke Eropa? Karena kakak belum sempet bikin schedule di Eropa, Vino sayang." jelas Erika.
"Aku masih belum beres ngomong. Aku masih mau ngomong. Aku gak pernah ngomong sebanyak ini. Aku butuh penjelasan. Aku peduli sama kakak" ucap Vino.
"Oke, kakak jelasin. Pertama. Jepang jadi homebase kakak masalah pekerjaan ini. Tanpa kamu sadari, kakak nyaman tinggal disini. Jadi kakak harus balik lagi kesini. Kedua, kakak gak menghindar. Kakak jauh lebih nyaman tinggal disini daripada disana. Intinya semua ini adalah kenyamanan. Ketiga, kamu mau pulang silahkan kamu pulang. Tapi jangan ajak kakak. Oke, puas kan? Kakak tau kamu peduli. Tapi jangan terlalu ikut campur urusan kakak terlalu dalam, Vin. Kakak butuh privasi." ucap Erika.
Vino mengangkat kedua tangannya di meja. "Aku gak puas dengan jawaban kakak." ucapnya.
Erika mengangkat bahunya dan menarik mangkok yang sudah disajikan oleh pelayan. Ia tidak peduli pada tatapan Vino saat ini. Ia langsung mengeluarkan buku catatannya dan mulai menulis sesuatu. Ia kemudian mulai merasakan ramen itu dan sesaat kemudian menulisnya.
Vino menggelengkan kepalanya. "Makan dulu kak. Kamu anggap ucapan aku angin lalu. Masuk telinga kiri keluar telinga kanan."
Erika mengangkat kepalanya dan melihat Vino. "Kamu udah kayak mama." jawab Erika sambil tertawa. Iapun menyimpan pena dan buku catatannya di samping. Kemudian ia mulai makan.
Besok ia dan Vino akan pulang dengan pesawat pagi. Jadi malam ini ia harus membereskan barang-barangnya. Ia tidak akan membawa banyak pakaian karena ia akan kembali lagi ke sini. Terkadang ia bingung pada Vino. Adiknya itu biasanya dingin tapi terkadang pula ia cerewet. Ia masih mengingat ucapan Vino ketika di kedai ramen tadi. Apapun yang Vino protes kan, ia tetap tidak bisa mengubah keputusannya untuk pindah dari Tokyo.
Erika menatap dirinya di cermin. Ia menggunakan camisol berwarna coklat. Rambutnya yang panjang terurai dengan indah. Ia tersenyum. Terdengar jahat, tapi ia tidak pernah pulang ketika memutuskan untuk pergi lima tahun yang lalu. Ibunya pasti akan terkejut dengan perubahannya dalam berpakaian. Ibunya juga akan terkejut melihat putrinya sekarang menjadi jauh lebih feminim dari sebelumnya. Padahal ketika beberapa tahun yang lalu ia tinggal dengan mereka, ibunya lah yang mengurusi gaya pakaiannya.
Perubahan itu terjadi ketika ia mendapatkan teman melalui media sosial. Seorang perempuan yang usianya berbeda dua tahun darinya. Davi merupakan seorang pegawai bank dengan gaya fashion luar biasa. Ia pemerhati fashion dan tentu saja makanan. Awalnya ia sering saling komentar. Namun pada akhirnya pertemuan mereka di Jepang membuat mereka berteman hingga sekarang. Hanya Davi yang mengerti dirinya. Kepulangan ke Indonesia pun karena perempuan itu.
Ia menatap kotak yang ada di atas tempat tidur. Ia membukanya. Gaun yang ia pesan dari salah satu designer Jepang membuatnya terus terpesona. Ia sempat mencobanya satu kali ketika gaun itu hampir selesai. Gaun itu sudah pasti cocok dipakai olehnya nanti. Ia mengangkat gaun itu dari kotak. Ia tidak peduli dengan belahan rendah gaun itu di bagian belakang. Gaun itu terlihat sexy bagi siapapun yang memakainya. Ia menghela nafas. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Davi dan rencana yang akan dibuatnya ketika berada di Indonesia nanti.