
Erika sedang memegang snack nya dan memakannya sambil berjalan. Ia melirik pria disamping nya. Sejak di supermarket tadi ia memaksa membawakan belanjaannya. Jadi terpaksa ia menurut. Lagipula ia senang. Ia bisa memakan snack nya sambil menunggu makan malam. Ibunya belum menghubunginya sampai sekarang. Ia tidak tahu apakah mereka sudah sampai di apartemen atau belum. Ia belum menyerahkan salah satu kunci apartemennya ke mereka.
"Kamu emang biasa makan sambil jalan ya?" tanya Bumi sambil menggelengkan kepalanya.
Erika melirik sambil tersenyum. "Bilang aja kamu mau!"
"Mau asal disuapin." goda Bumi.
Erika langsung tertawa. "Kayak gak punya harga diri. Baru kenal beberapa jam yang lalu langsung minta disuapin."
Bumi ikut tertawa. "Aku cuma becanda." jawabnya.
Ketika pintu lift terbuka, ia melihat kedua orangtuanya sedang berdiri menunggunya didepan pintu.
"Mama?" panggil Erika. Ia berlari menghampirinya.
Sandra dan Calvin menoleh ke asal suara. Mereka berdua mengerutkan keningnya. Bukan pada anaknya. Tapi pada pria disamping anaknya.
"Siapa?" bisik Calvin pada Sandra.
Sandra hanya mengangkat bahunya.
"Maaf, aku dari supermarket beli kebutuhan." ucap Erika sambil melihat tangannya. Ia pun tertawa ketika mengingat belanjaannya dibawakan oleh tetangga sebelahnya. Ia berlari menuju Bumi dan mengambil barang belanjaannya.
"Siapa?" bisik Sandra.
Erika tersenyum sambil membuka pintu. "Tetangga sebelah ma, namanya Bumi. Oh iya, kenalan dong." ucap Erika senang.
"Ini Tante Cassandra yang asisten produser itu?" tanya Bumi dengan wajah takjubnya.
Sandra mengerutkan keningnya. "Iya. Kamu siapa?"
Bumi langsung mengulurkan tangannya. "Halo Tante, saya Bumi. Fans berat Tante." ucap Bumi. Ia menoleh pada Calvin dan tersenyum. "Halo om. Kebetulan saya biasa jadi host sama penyanyi di salah satu acara kampus. Kebetulan juga waktu itu, di kampus lagi dibahas orang-orang Indonesia yang berkarya di Jepang. Kebetulan ada nama Tante Cassandra. Nah dari situ saya mulai cari tahu."
Calvin mengangguk sambil tersenyum. "Kamu penyanyi juga?" tanya Calvin.
"Iya."
"Kalo gitu kita ngobrol didalam sambil makan malam. Tante udah masakin makanan kesukaan Ojo dirumah tadi." ucap Calvin sambil merangkul bahu Bumi.
"Kamu kenal kapan sama dia?" bisik Sandra pada Erika.
"Tadi siang ma, waktu aku pindahan." jawab Erika.
"Awas, hati-hati ketemu orang baru." bisik Sandra.
Erika mengangguk sambil tersenyum. Mereka berdua pun mengikuti ayahnya kedalam.
Dilain tempat.
Alena menatap makan malamnya dengan malas. Sudah beberapa hari ia tidak enak makan. Apalagi menyangkut tentang Erika Ojo. Entah sejak kapan ia begitu menyayangi gadis itu. Mendengar ucapan Sandra tentang berakhirnya perjodohan itu membuatnya sedih.
"Kenapa?" tanya Dave
Alena menatap suaminya dan kembali menatap makanannya. "Gak apa-apa. Aku cuma lagi males makan aja."
"Apa gara-gara aku mau pergi ke Eropa lusa besok?" tanya Dave. Ia langsung memegang tangan Alena. "Cintaku, aku pergi cuma sebulan atau paling lama dua bulan aja. Kamu bisa susul aku waktu kamu senggang. Aku udah ijinin kamu pergi buat bakti sosial selama aku pergi. Kenapa lagi?"
"Bukan gara-gara itu." jawab Alena.
Dave melepaskan tangannya. Ia mengerutkan keningnya. "Apa kamu puber lagi? Males sama aku?" goda Dave.
"Dave.. bukan itu!" seru Alena sambil tertawa.
"Perjodohan antara Erika sama Andi berakhir. Sandra minta sama aku buat gak menjodohkan mereka lagi." ucap Alena sedih.
"Itu bagus dong. Kita gak bisa memaksa mereka." jawab Dave.
"Bukan cuma itu aja. Erika menolak apartemen yang tadinya mau aku pinjemin sama dia. Padahal sebelumnya dia seneng banget. Apa mungkin ada sesuatu antara Andi dan Erika yang gak kita tau?" tanya Alena.
"Jangan banyak berfikir yang enggak-enggak. Mereka itu sahabatan."
"Iya tapi aneh." seru Alena.
Tiba-tiba terdengar suara sepatu dan high heel bersamaan. Mereka berdua mengangkat kepalanya dan menoleh ke asal suara.
"Ma.. Pah.." ucap Andi.
Alena menarik nafas menghembuskanya perlahan. Ia melihat Andi datang dengan seorang wanita sambil menggenggam tangannya. Ia langsung menunduk. Sepertinya ia tahu apa yang terjadi pada Andi dan Erika.
"Malem om, Tante.." Ucap Jane.
"Kamu itu kalo gak salah pernah ke kantor. Kalo gak salah klien baru?" tanya Dave.
"Iya om. Saya Jane. Salah satu klien om." jawab Jane sambil tersenyum.
Andi mendorong kursi makan agar Jane bisa duduk. Iapun duduk disamping ayahnya. "Kirain papa udah gak inget." ucap Andi.
"Kalo klien, papa pasti inget." jawab Dave.
Alena pun mengangkat kepalanya. "Siapa ini Andi?"
Andi tersenyum pada ibunya. "Temen Andi, ma."
"Temen atau pacar?" tanya Alena tajam.
"Iya, baru jadi pacar Andi." jawab Andi sambil terkekeh.
Alena menatap wanita didepannya dari atas kepalanya dan wajahnya. Tetap baginya, Erika yang lebih. pantas bersama Andi. Tiba-tiba ia merasa pusing. "Kalian makan aja. Tiba-tiba kepala mama pusing. Mama mau tiduran." ucap Alena..
"Mau Jane anter, Tante?" ucap Jane sambil berdiri.
Alena mengangkat tangannya dan menutup mata. "Kamu disini aja. Tante bisa sendiri ke kamar." ucapnya sambil berjalan ke kamarnya. Tidak dapat dipercaya, Andi begitu mudahnya mendapatkan pacar.
Acara mengobrol dan membahas pekerjaan tercipta di meja makan diantara ketiganya. Mereka menikmati makan malam yang tersedia dengan nikmat.
"Kayaknya mama kamu gak suka sama aku." ucap Jane ketika mereka berada di mobil.
"Enggak. Jangan mikir kayak gitu. Mama lagi pusing makanya langsung ke kamar. Kamu tadi liat kan wajah mama agak pucat." ucap Andi.
"Tetep aja. Mama kamu harusnya jangan kayak gitu sama aku. Gimanapun aku ini pacar kamu." sewot Jane.
"Loh, jangan gitu dong Jane. Kamu mau ngajarin mama aku gimana caranya bertindak? Kamu ini aneh." ucap Andi kesal.
"Iya, aku ini emang aneh. Trus kenapa kamu mau sama aku?" tanya Jane marah.
Andi menggenggam stir mobil dengan kencang. Ia benar-benar kesal pada Jane.
"Oke, aku salah. Aku minta maaf, Oke?"
Jane tidak menjawabnya. Ia masih cemberut. Ia bahkan tidak mau menatapnya.
Andi membawa mobilnya dengan berbagai pikiran di otaknya. Ia mengantar pulang Jane dengan berbagai kejengkelan di kepalanya.