Love Actually

Love Actually
Episode 97



Vino keluar dari mobil sport merahnya. Ia merindukan rumah itu. Rumah kedua orangtuanya. Setelah pindah kerumah yang menjadi kantor bayangannya saat ini, ia tidak pernah pulang bahkan bertemu dengan kedua orangtuanya. Ia melangkah masuk kedalam rumah.


Didalam rumah, Sandra menatap Vino dari balik jendela. Ia sudah tahu jika anaknya akan pulang malam ini. Sangat sulit memintanya untuk pulang. Sudah beberapa hari yang lalu ia mendapatkan jawabannya jika Sierra menerima lamarannya. Ketika ia mampir kerumah Firly pun, ia tidak bisa bertemu dengan Sierra karena masih bekerja.


Vino masuk kedalan rumah dan mendapati kedua orangtuanya tengah duduk santai didepan televisi. "Halo, ma" ucapnya sambil memeluk ibunya. Kemudian ia memeluk ayahnya. Sesuatu yang sangat jarang terjadi.


Erika hanya diam sambil melihat mimik Vino yang terlihat santai. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ibunya berucap.


"Ada apa ma?"tanya Vino ketika mereka duduk santai diruang televisi. Ia kemudian menatap kakaknya. "Kakak ngomong apa sama mama?"


Erika menggelengkan kepalanya. "Enggak. Tapi ini tentang masa depan kamu."


Vino sedikit bingung. "Masa depan?"


"Mama udah melamar seorang gadis buat kamu." Ucap Sandra.


"Kamu terlalu cepat, Sandra. Seharusnya kamu tanya dulu gimana kabar Vino saat ini." Sela suaminya.


"Udah gak ada waktu lagi. Seperti yang sudah-sudah, Vino pasti menolak dengan tegas. Alasannya? Dia lagi nunggu model internasional mengubur mimpinya untuk menjadi istri seorang Vino. Lagipula mau sampai kapan anakku menunggu? Ia juga harus punya kehidupan. Kehidupan bukan cuma pekerjaan dan menunggu sesuatu yang gak pasti aja. Kalo dia udah nikah, semuanya udah paket komplit." jelas Sandra.


"Ma.. aku udah bilang dari awal. Saat ini aku gak mau menikah. Aku mau nunggu Sherly"


"Gak bisa. Mama udah minta sama sahabat mama mengenai putrinya."ucap Sandra sambil mengeluarkan handphonenya. Ia membuka sebuah foto yang kemudian ditunjukkan pada Vino. Ia menyimpannya di atas meja.


Masih dengan hati kesal, ia meliriknya sekilas. Kemudian ia mengambil handphone ibunya yang ada dimeja. Ia terkejut ketika melihat foto itu. Seorang gadis yang memakai pakaian yang sama dan tempat yang sama ketika ia melihatnya untuk pertama kali.


"Gimana?" Tanya Sandra. Ia tahu wajah anaknya berubah. Ia mulai merasakan kemenangan ada didepannya. Tidak mungkin anaknya akan menolak disandingkan dengan gadis yang kecantikannya sebanding dengan seorang Sherly. Hanya saja Sierra lebih menyukai riasan tipis jika dibandingkan Sherly.


Vino berdiri dan berjalan menjauhi kedua orangtuanya. "Terserah." Ucapnya kemudian.


Sandra tersenyum bahagia begitu pula dengan suaminya. Erika pun terkejut dengan jawaban Vino. Secantik apakah seorang Sierra Dimata ibunya?


Ia mengambil handphone ibunya yang ada di atas meja. Ia melihat dengan serius. Restoran itu tidak asing. Ternyata Sierra pernah berada di Jepang? pikir Erika. Tapi, wajahnya tidak asing?"


"Apa ada sesuatu sama Vino? Kenapa dia enggak menolak seperti biasanya?" Tanya suaminya bingung.


"Karena anakku gak berkomentar, buat apa kita bahas lagi soal ini. Kita tinggal cari waktu yang pas.." Jawab Sandra senang.


Erika berdiri dari duduknya. "Aku pergi kerumah mama Alena dulu ma.." ucapnya sambil berjalan keluar.


Ketika keluar rumah, Erika masih memikirkan tentang Vino. Diam bukan berarti setuju. Ia akan bertanya lagi pada Vino nanti. Iapun sempat terlibat kegundahan saat setelah menikah dengan suaminya. Tapi ketika mereka saling mengutarakan isi hati masing-masing, mereka bisa menjalaninya. Jika Vino dan gadis itu menikah tanpa saling mengenal terlebih dahulu, bagaimana kehidupan rumah tangga mereka nanti?


Tanpa sadar ia sudah tiba didepan rumah ibu mertuanya. Ia berjanji membantunya memasak untuk makan malam. Ketika masuk rumah, ia melihat ibunya sedang sibuk didapur.


"Ma.." panggilnya.


Alena menoleh. "Ya..Sini Jo. Bantu mama." panggilnya.


Erika mendekati Alena.


"Gimana kandungan kamu?" tanya Alena. Ia langsung memegang nadi tangan menantunya. Kemudian ia memegang wajahnya. "Kamu lagi mikirin apa? Morning sick nya masih sering?"


Erika mengangguk. "Aku mikirin Vino ma. Mama mungkin udah tau tentang ini."


Alena tersenyum. "Kamu percaya sama pilihan mama kamu Jo. Mama yakin terbaik. Tante Firly itu sahabat mama sejak sekolah dulu. Mama tau tentang keluarganya. Cuma ya gitu, mama sempet lost contact berpuluh-puluh tahun karena saat itu Tante Firly pindah ke Amerika."


"Aku sebenernya mikirin perasaan calon istri Vino mah. Soal Tante Firly memang aku udah tau. Mama sering cerita waktu dulu. Tapi ini soal anaknya. Dia harus menikah karena uang 15 miliar itu. Sebagai perempuan, aku mikir tentang ini. Kalau Vino tau, apa dia bakal marah?"


"Dia mau dijodohkan pun mungkin karena udah tau tentang ini. Dia udah tau konsekuensi dari sebuah pernikahan. Tapi mama pikir, Sierra bukan gadis bodoh. Mama yakin Vino bakal suka sama kepribadian Sierra. Sierra mirip papanya tapi versi wanita. Dia cantik dan baik. Waktu mama ketemu pun dia sopan sekali." jawab Alena sambil membayangkan pertemuan mereka pertama kali.


Erika hanya mengangguk sambil tersenyum. Yang penting gadis itu bukanlah gadis bodoh. Ia harap bisa merubah sifat dingin Vino jika bersama dengan wanita.


Vino duduk disofa panjang yang berada dikamarnya. Jendelanya terbuka dengan lebar sehingga ia bisa melihat awan yang terlihat cerah itu walaupun kabut malam mulai menghampiri.


Sierra, ia sudah tahu gadis itu bernama Sierra. Bagaimana ia bisa melupakannya. Ia baru saja melihatnya beberapa hari yang lalu. Ia terkejut ketika melihat foto gadis itu. Wajahnya sangat ceria. Ia memakai mantel berwarna peach. Memakai topi pria tapi rambutnya yang panjang terurai dengan indah. Ia ingat bagaimana gadis itu meminta makan pada pemilik kedai. Wajahnya yang tanpa beban dan polos terus diingatnya.