
Vino melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah mamanya Sierra. Ia menatap handphonenya yang sejak tadi bergetar. Panggilan dari Sierra.
"Ada apa malam-malam kamu kesini? Sierra mana?"tanya Firly senang ketika ia melihat menantunya. Tapi ia tidak melihat Sierra pulang dengan Vino. Firly sedikit curiga dengan sikap menantunya yang aneh. Ia terlihat kebingungan. "Sierra baik-baik aja kan?"
"Vino cuma mau kesini aja ma. Sierra masih di korea buat kerjaan. Vino boleh bermalam disini sampai Sierra pulang ma?"tanya Vino bingung.
Firly benar-benar menatap menantunya dengan kebingungan. Ini adalah pertama kalinya ia ingin menginap disana. Rasanya aneh. Ia tidak berharap sesuatu akan terjadi nanti.
"Ya udah. Kamu tidur dikamar Sierra ya. Aneh rasanya , ini pertama kali kamu tidur disini sejak kalian menikah. Dan lebih anehnya, kamu sendirian kesini" Jawab Firly sambil tersenyum.
Vino memeluk ibunya. "Maafin Vino ma, Vino belum bisa membahagiakan Sierra."
Firly memukul bahu Vino. "Kamu ngomong apa sih nak? Membahagiakan seseorang itu membutuhkan waktu. Apalagi sebelumnya kalian belum kenal. Dan alasan kalian menikah itu..."
"Buat Vino itu udah terlalu lama. Vino sayang anak mama. Perjodohan itu bukan alasan. Toh perasaan Vino sama Sierra nyata." Jawab Vino sungguh-sungguh.
Firly melepaskan pelukan Vino dan menatapnya. Ia memegang tangannya. "Mama cuma minta satu hal. Jangan sakiti Sierra. Ia sudah lama menahan sakit. Pertama karena kejadian papanya. Ia harus berkorban banyak. Kedua karena tunangannya. Jangan sampai kamu membuat Sierra merasakan sakit lagi untuk yang ketiga kalinya. Kalau sampai kamu berbuat seperti itu, mama gak akan pernah memaafkan kamu, Vino." Ancam Firly.
Vino melangkah ke sofa dan duduk. Ia mengalihkan pembicaraan. "Aku mau tanya-tanya tentang Sierra sama mama."
Firly pun duduk didepan Vino. "Kamu mau tanya apa tentang anak mama?"
Vino terdiam. Ia tampak berfikir.
"Oh ya, ijazah Sierra sudah dikembalikan pihak perusahaan. Sekarang Sierra bebas, Vin. Ia bisa bekerja di manapun. Ia bisa mengejar mimpinya kembali."
Vino kembali terdiam. Ingin sekali ia mengatakan semua hal pada ibu mertuanya. Tapi ia takut. "Ma, seandainya bisa, aku mau tinggal jauh dari sini. Berdua sama Sierra. Yang penting ada Sierra. Bukan yang lain."
Firly mengerutkan keningnya. "Kamu tidur aja. Jangan ngomong yang aneh-aneh. Besok kita bicara lagi." ucapnya sambil berdiri. Iapun mengantar Vino ke kamar Sierra.
Vino menatap kamar Sierra yang terasa nyaman itu untuk pertama kalinya. Sudah beberapa bulan kamar itu tidak ditempati sejak Sierra menikah dengannya. Tapi ruangan itu tetap bersih dan wangi khas Sierra. Ia tahu itu. Ia berjalan menuju meja dimana terdapat foto-foto Sierra. Foto-foto ketika Sierra masih kecil hingga dewasa terpampang didepan matanya. Ia mengambil salah satu foto Sierra ketika masih belia. Ia terlihat sangat cantik. Tanpa sepengetahuan Sierra, ia mengambilnya beberapa buah dan menyimpannya di tas.
Apa yang harus ia lakukan? Tiba-tiba ia teringat pada Mili. Ia pun menghubunginya.
"Plagiat? Kamu tau dari mana?" tanya Mili terkejut.
"Gak penting. Apa bener Sierra pernah kena masalah plagiat?" tanya Vino hati-hati.
"Pernah sebelum ia melanjutkan kuliah lagi. Dia melanjutkan kuliah lagi karena masih belum percaya diri kemampuan dirinya. Tapi, aku kenal sama Sierra waktu kasus itu udah selesai. Jadi aku gak pernah tanya darimana awal mula kasus itu dimulai." jawab Mili.
"Mili, jangan kasih tau Sierra kalo aku tanya kamu soal ini."
"Aku tau. Sebenernya cerita itu mimpi buruk buat Sierra. Karena udah terjadi lama, jadi Sierra bisa sedikit lupa. Tapi kalo sampai di blow up lagi, aku gak tau kayak gimana perasaan dia."
Mendengar penjelasan dari Mili saja membuatnya lemas. Ia bingung karena tidak mengerti apapun soal design pakaian. Lalu sekarang, apa yang harus ia lakukan? Sedangkan Sherly siap bertindak kapanpun ia mau. Ia tidak mungkin diam dan membiarkan wanita itu melakukan sesuatu yang dapat merugikan Sierra. Ia duduk di pinggir tempat tidur dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
Saat ini.
Sierra berjalan ke meja nakas nya. Ia mengambil tas dan membuka isinya. Ia melihat buku tabungannya. Penghasilannya sebagai designer baju pengantin akhir-akhir ini membuat uangnya bertambah pesat. Sepertinya jika ia pindah ke Paris dan melanjutkan semuanya disana, uangnya akan cukup. Ia bisa tinggal dirumah Mili sementara waktu. Semua hal buruk bisa saja terjadi kapanpun tanpa ia mau.
...***...
Sherly tengah duduk di sofa panjang yang berada dirumah Vino. Rumah itu sangat disukainya. Ia pernah membayangkan jika ia akan tinggal dengan Vino disana ketika mereka sudah menikah. Sejak pagi Vino berada diruang kerjanya. Sayangnya Dimas tidak ada. Ia tidak bisa menggoda pria yang membencinya itu.
Ternyata membuat Vino kembali padanya tidak sesulit dan tidak selama yang dibayangkan. Kasus plagiat itu tanpa sengaja ia dapatkan. Hanya dua hari ia bisa membuat Vino datang ke apartemennya.
Vino tidak peduli dengan keberadaan Sherly dirumahnya. Wanita itu bisa mendapatkan apa yang ia mau tapi tidak hatinya. Berulang kali ia membaca artikel yang menjelaskan tentang kasus plagiat designer internasional. Tapi tidak ada yang berakhir dengan baik. Ia kesal karena tidak bisa melindungi Sierra. Ia menatap gambar didepannya. Rumah masa depan untuknya dan Sierra. Jika mereka berpisah, akankah ia mendapatkan Sierra kembali? Setidaknya rumah itu sudah dikerjakan tanpa sepengetahuan orang lain kecuali Dimas. Seandainya Dimas ada disampingnya, ia tidak akan pusing seperti ini.
Perpisahan sementara dengan Sierra pasti akan terjadi. Tapi ia tidak akan diam. Ia tidak akan membiarkan Sierra mendapatkan pria lain selain dirinya. Ia akan menyewa mata-mata semahal apapun untuk menjaga Sierra. Ia akan menyelesaikan semuanya demi kebaikan Sierra. Ia akan menyingkirkan Sherly dengan caranya sendiri. Ia harap Sierra mengerti. Sherly telah membuat kepalanya pusing. Ia hanya berharap Sierra mau menunggunya.
Terdengar suara mobil diluar. Vino melihat dari jendela. Ia melihat Sierra keluar dari mobil itu dan barang-barangnya. Ia tersenyuh. Ingin rasanya ia memeluk Sierra karena merindukannya. Apa daya? Ia harus melakukannya. Ia harus membuat Sierra menjauhinya.
Sierra menatap rumahnya. Sejak berada di pesawat, ia merasa tubuhnya demam. Ia tidak tidur semalam karena memikirkan suaminya. Ketika keluar dari taxi, ia melihat telah terparkir mobil berwarna merah metalik dan ia tahu siapa pemilik mobil itu.
“Lets do this.”ucapnya bersemangat. Sierra masuk dengan percaya diri kedalam rumah. Ketika ia masuk, ia melihat Vino dan wanita itu sedang duduk di sofa. Sherly tampak bersandar pada bahu suaminya.
“Vin” Panggilnya.
Vino membalikkan badannya. “Kamu udah pulang?”
“Ya.”jawab Sierra sambil melihat wanita disebelah Vino. “Aku mau ke kamar.”
Vino mengikuti Sierra ke dalam kamarnya. Sierra merasa lelah sekali. Ia duduk di pinggir tempat tidur dan menatap suaminya. Ia ingin mendengarkan penjelasannya langsung kenapa wanita itu ada dirumah ini. Ia hanya menatap Vino tanpa bicara. Tanpa bertanya pun seharusnya Vini sudah bisa menjelaskan.
“Sherly berubah. Ia minta kesempatan.” Ujar Vino sambil menatapnya tidak tega karena itu bertentangan dengan hatinya. Namun hal itu ia lakukan untuk meyakinkan Sierra bahwa ucapannya benar.
“Jadi, kalian akan memulainya dari awal? Kamu mau kita berpisah?” tanya Sierra tenang. Padahal ia pun merasa sakit.
Vino membenci dirinya kali ini. Perubahan wajah Sierra membuat hatinya sakit. Ia tidak mau menatapnya. Iapun berjalan menghampiri Sierra dan duduk disampingnya.
“Gak juga.” ucapannya benar-benar tercekat. Ia melihat mata Sierra berkaca-kaca.
“Lalu? Kamu mau kami berdua ada disisi kamu?”tanya Sierra.
Vino memegang tangan Sierra. “Aku mau milih salah satu dari kalian.” ucapnya sambil menunduk.
“Oke. Aku setuju. Yang bisa ambil hati kamu, dia pemenangnya.” Jawab Sierra cepat. Ia membalikkan tubuhnya sehingga membelakangi Vino. Semudah itu Vino mengatakannya. Jangan biarkan ia membenci Vino saat ini. Ia mencengkeram kain sprey karena kesal.
Vino menarik tubuh Sierra dan mencium bibirnya dengan mesra. Sierra terkejut. Ketika ia melepaskan bibirnya, Vino memeluk tubuh Sierra yang dirindukannya. Lama sekali ia memeluknya hingga ia mulai berbisik tepat di telinga Sierra. "Don't give up, sayang. I love you” Bisiknya. Iapun berjalan keluar.
Siera masih sedikit bingung. Untuk apa Vino mengatakannya untuk jangan menyerah? Apa yang terjadi?