
Setelah menutup telepon dari Ojo, ia melangkah kembali ke ruangan ayahnya. Keputusannya kali ini tepat. Ia harus mengesampingkan urusan pribadinya terlebih dahulu. Ia akan fokus menangani bisnis keluarganya ketika ia pulang nanti.
“Prince..” panggil Alena.
Andi menoleh sebelum ia membuka pintu. Ibunya datang membawa beberapa bungkus kotak kertas berisi makanan. Andi menghampiri ibunya dan mengambilnya.
“Mama udah beli makanan kesukaan kamu. Sekalian beli kopi dari cafe yang didepan. Kesukaan kamu kan?” tanya Alena.
“Thanks ma.”
Mereka berduapun masuk kedalam. Tapi, Alena hampir saja menjatuhkan barang yang dibawanya tadi. Semuanya terjadi tiba-tiba. Suaminya sudah membuka kedua matanya. Ia langsung berlari ke samping ranjang dan memegang tangan Dave.
”Aku pikir kamu bakal tinggalin aku, Dave!” Isak Alena.
Dave tersenyum. “Gak mungkin sayang. Aku gak akan pernah tinggalin kamu. Sekarang aku ada dimana?” tanya Dave lemah.
“Kamu di rumah sakit di Brussel. Kamu inget kejadian waktu kamu kecelakaan?”
Dave mengangguk pelan. “Aku inget. Maafin aku karena bikin kamu cemas. Edward gimana?”
“Jangan ngomong gitu, Dave. Edward baik-baik aja. Mungkin sebentar lagi dia kesini.”
Andi melihat kedua orangtuanya dari depan pintu. Ia tidak berani menghampiri kedua orangtuanya yang terlihat saling mencintai itu. Wanita yang seperti ibunya yang ia butuhkan untuk menjadi pendampingnya kelak. Mulai detik ini, ia akan berhenti menggoda wanita manapun. Hanya wanita seperti ibunya yang akan ia kejar suatu saat nanti jika waktunya sudah datang, Ibunya selalu ada saat ayahnya sedang kesulitan. Begitu pula dengan ayahnya selalu ada saat ibunya kesulitan. Mereka saling melengkapi. Ia merasa iri sejak awal pada kedua orangtuanya.
“Prince!” panggil Alena.
Andi menatap kedua orang yang sedang menatapnya itu.
“Kenapa malah bengong. Kesini!” panggil Alena.
Andi tersenyum. “Aku iri sama kalian. Kenapa sih kalian ini selalu berbuat manis seakan dunia ini milik kalian berdua?”
Dave tersenyum.
Andi menghampiri ayahnya. “Pah.. gimana keadaan papa?”
“Seperti yang kamu liat. Sekarang papa gak bisa gerakin kaki papa.” jawab Dave.
Alena langsung berdiri. “Mama mau panggil dokter.” ucapnya sambil berjalan keluar.
Dave menatap Andi. “Papa gak bisa jalan lagi? Jawab dengan jujur”
Andi duduk disampingnya. “Sementara pah. Butuh waktu buat kembali normal.”
“Pah..” ucap Andi.
“Kenapa? Ada masalah di kantor?”
Andi terdiam sejenak. Rencananya harus ia ungkapkan sekarang. Ayahnya harus tahu dengan semua rencana dan persiapannya.
“Papa percaya sama Andi?” tanya Andi serius.
“Kalo papa gak percaya sama kamu, papa gak mungkin minta kamu menggantikan papa di kantor.” Jawab Dave. Ini adalah kali pertama ia melihat Andi berbicara dengan serius.
“Sebagai anak papa, tolong ijinkan Andi dan tim yang mengurus semua masalah di Eropa.”
Tiba-tiba pintu terbuka bahkan saat Dave belum mengeluarkan jawabannya. Alena datang bersama seorang dokter. Andi pun berdiri untuk membiarkan dokter mengecek keadaan ayahnya. Ia sedikit menjauh dan melihat dengan serius dokter itu. Ia masih memegang kopinya. Rasanya ia terlalu terburu-buru mengatakan hal itu. Padahal ayahnya baru saja sadar dari tidur panjangnya.
Ia mendengar dengan serius bagaimana ayahnya meminta kepada dokter untuk dipulangkan dan dirawat di Indonesia. Ia kemudian menatap ibunya yang juga menganggukkan kepalanya pertanda setuju pada ucapan ayahnya. Lebih baik ia menunggu di luar sampai dokter beres memeriksa ayahnya.
Ia kemudian mengeluarkan ipadnya. Ia terus belajar dari data yang diberikan Viar padanya sejak beberapa hari yang lalu. Ia sudah melihat semua data hotel yang tersebar di Eropa. Jika ayahnya mengijinkan, ia tinggal melancarkan aksinya beberapa minggu kedepan. Tentu saja dengan bantuan Viar yang notabene seorang ahli manajemen. Cukup lama ia menatap ipadnya. Tiba-tiba ia teringat Om Calvin. Sebelum pulang kemarin, ia sempat memintanya untuk memberikan kabar mengenai ayahnya.
Calvin masih duduk di taman belakang malam ini. Ia melihat panggilan dari nomor luar. Ia yakin ada kabar terbaru dari Dave.
“Halo”
“Om. Ini Andi.”
“Gimana kabar papa kamu?” tanya Calvin cepat.
“Papa udah sadar om.” jawab Andi.
“Baguslah. Om bisa tenang sekarang. Papa kamu laki-laki kuat.” ucap Calvin. Iapun berdiri dan berjalan disekitar taman.
“Iya. Oh ya Om, aku mau minta tolong. Bisa tolong aku, Om?”
Calvin mengerutkan keningnya. “Bantuan apa yang bisa Om kasih ke kamu? Kamu kurang uang?”
“Bukan Om, pembicaraan kita terakhir waktu aku nganter Om ke bandara udah aku sampaikan sama papa. Om bisa jadi sponsor aku? Bukan dalam bentuk materi. Tapi supportnya Om. Nanti kalau papa pulang, Om bisa promosiin aku ke papa sama Om Edward biar mereka ijinin niat baik aku.” jelas Andi.
“Tentu aja Om bakal support kamu. Kamu masih muda. Masih banyak pengalaman yang akan kamu dapatkan. Om bangga sama kamu. Kamu bisa diandalkan, Andi!” ucap Calvin sambil tersenyum. Sejak ia duduk ditaman ini, ia terus memikirkan ucapan Andi ketika mereka berbincang di bandara. Ia belum pernah menemukan anak muda yang terlihat sangat antusias melihat peluang didepannya. Ia cetakan Dave. Semua sifat dan jiwanya menurun dari Dave.
“Om yakin sama kemampuan aku?” tanya Andi kembali
“Ya. Walaupun Edward belum yakin. Tapi Om beda sama Om kamu itu.”
“Thanks ya om. Nanti kalo kita pulang, aku kabarin lagi.” ucap Andi senang. Om Calvin adalah orang baik. Ia mengerti apa yang perusahaan butuhkan. Ia bisa menjadi pengganti ayahnya dalam hal pekerjaan. Ia merasa beruntung karena ayahnya memiliki sahabat sepertinya. Dalam pekerjaan, ia membutuhkan support selain dari orangtuanya. Iapun masuk kembali ke ruangan ayahnya setelah dokter yang memeriksanya keluar dari ruangan.