Love Actually

Love Actually
Episode 123



Dimas baru saja mendapat telepon dari Vino jika ia ingin mengakhiri hidupnya. Tanpa alasan yang jelas, ia bingung ketika mendapat telepon tadi. Ia berlari mencari sahabatnya itu. Untung saja ketika di Jepang kemarin, ia masih menghubungkan GPS nya ke handphone milik Vino.


Ia melihat handphonenya sesekali dan membawa mobilnya ke tempat dimana Vino berada. Sebuah bar yang ada didalam gang sempit. Sesuatu yang tidak pernah sama sekali Vino lakukan. Jangankan ke bar, mabuk pun ia tidak pernah sama sekali. Ia khawatir dengan kondisi Vino. Setelah parkir di ujung jalan, ia berlari menuju bar tersebut.


Suasana bar itu terlihat sedikit ramai. Banyak wanita penghibur disana. Ia penasaran, siapa yang memberitahu Vino tempat ini?


Ia mencari dan terus mencari. Vino ada di ujung sebuah tempat. Ia terkulai lemas di sofa itu. Ia setengah sadar. Dimas langsung berlari menghampirinya. Pakaiannya acak-acakan. Dompetnya sudah tersimpan diluar tanpa uang selembar pun. Tidak ada apa-apa lagi disana selain kartu-kartu miliknya.


"Vino! Vin! Bangun Vin!" teriak Dimas. Ia memukul wajahnya agar bangun.


Vino menggerakkan tubuhnya. Ia menyipitkan matanya ke Dimas.


"Dim.." panggilnya.


Dimas mengangguk. "Ya, kita pulang. Nanti kita bicara di jalan." ucapnya sambil mengangkat tubuh Vino. "Mereka kayaknya memanfaatkan kamu. Uang kamu gak ada selembar pun." ucapnya marah.


Ia melewati beberapa perempuan yang menghalanginya. "Minggir! Kalo enggak aku pukul kalian satu-satu!" ucap Dimas marah. Wanita-wanita penghibur itupun berlarian karena takut.


Sepanjang jalan Dimas hanya menatap Vino. Wajahnya merah karena mabuk. "Kamu minum berapa gelas sih?"


Tidak ada jawaban dari Vino. Dimas pun membawa Vino ke rumahnya. Ia harus menunggu sampai Vino bangun. Terdengar telepon rumahnya berbunyi.


"Halo."


"Vino... kamu udah pulang? Sierra udah pergi Vin. Gimana hubungan kalian?" tanya Erika cemas.


"Kak, ini Dimas. Vino gak sadar. Waktu aku temuin, Vino mabuk berat. Aku masih tunggu dia sadar buat nanya ada apa."


Terdengar isakan Erika. "Tolongin Vino ya Dim. Cuma kamu yang ngerti Vino. Mama juga sekarang gak sadar waktu tau Sierra pergi."


"Kak Ojo tenang aja. Dimas nanti tanya sama Vino."


"Makasih ya Dim.."


Ketika telepon ditutup, ia melihat Vino sedang berdiri di belakangnya. Wajahnya masih merah. Ia seperti mau menangis. Tiba-tiba tubuhnya ambruk. "Sierra minta cerai..."


"Let's divorce, Vino.." ucap Sierra tenang.


Vino terkejut ketika mendengarnya. "Divorce?"


Sierra mengangguk. "Aku udah pergi dari rumah kamu. Begitu juga dari kehidupan kamu."


"Kamu bilang cinta sama aku. We can talk, Sierra.." ucap Vino


"Dari awal pernikahan kita, aku menegaskan sama kamu. Gak ada orang ketiga diantara kita. Apapun alasan kamu, maaf Vino.. aku kecewa. Aku gak bisa memaafkan kamu setelah apa yang kamu lakukan sama aku. Aku gak akan mempersulit proses perceraian kita. Aku harap kamu bisa jaga diri. Kamu harus sehat dan bahagia." jelas Sierra sambil berdiri. Ia mengangkat tangannya untuk mendapatkan balasan tangan Vino. Tapi pria itu tidak mengindahkannya. Ia hanya menatapnya dengan wajah merah.


Sierra tersenyum. Iapun berbalik dan berjalan meninggalkan Vino di mejanya.


"Jadi ini alasan kamu mau mengakhiri hidup?" tanya Dimas sambil berjongkok didepannya.


"Pengorbanan aku sia-sia dim. Bener kata kamu. Coba aku bilang semuanya sama Sierra. Pasti dia mau ngerti. Aku bodoh. Semuanya gara-gara aku. Sierra pergi. Aku harus gimana lagi? Dia mau berpisah sama aku.." jawab Vino sambil memeluk lututnya. "Waktu aku hubungan sama Sherly, aku gak ketakutan kayak gini waktu dia bilang mau memilih karirnya. Tapi Sierra beda. Daging aku kayak lepas dari tulang waktu liat dia pergi. Aku lemas dim. Aku gak sanggup harus kehilangan dia. Tolong dim, bantu aku.." isaknya.


Dimas menghela nafas. "Kamu kasih waktu dulu buat Sierra."


"Udah terlambat Dim. Tadi Sierra bilang gak akan mempersulit perceraian kita." jawab Vino.


"Aku gak pernah liat seorang Vino menyerah sama wanita. Bisa aja sekarang kalian berpisah. Tapi nanti? bulan depan? atau tahun depan? Kita gak pernah tau apa yang terjadi. Mungkin ini jalan kalian buat bisa bersama. Aku yakin hati kalian gak akan kemana-mana. Kalian bisa jaga itu."


"Apa kamu pikir aku bisa kembali sama Sierra?" tanya Vino.


Vino terdiam. Ia hanya menatap sahabatnya. Ucapan Dimas ada benarnya. Mungkin mereka memang harus berpisah untuk sementara.


...***...


Vino menatap lembaran kertas tidak penting itu. Ya, surat perceraian antara dirinya dan Sierra. Sierra menepati janjinya untuk tidak mempersulit perceraian mereka. Setelah pulang dari pengadilan, ia langsung pergi ke perumahan yang sengaja ia beli seperti niat awalnya ketika menikah dengan Sierra.


Ia tidak peduli kemana Sierra menghilang saat ini. Semua orang yang dekat dengan Sierra diam seribu bahasa. Tapi ia yakin hatinya masih setia. Hanya Sierra yang ada dihatinya.


Mobilnya telah sampai didepan rumah yang perlahan sedang dibangun itu. Ia hanya melakukan sedikit perbaikan karena rumah itu awalnya sudah bagus. Rumah masa depan untuknya dan Sierra. Iapun turun dari mobil dan masuk untuk bertemu dengan para pekerja.


Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Telepon dari ibunya.


"Halo, ma.."


"Ojo melahirkan, Vino... cepet kamu ke rumah sakit!" teriak ibunya histeris.


"Melahirkan? Bukannya baru 8 bulan?" tanya Vino bingung.


"Kamu ke rumah sakit dulu. Andi masih ada di jalan sama papa kamu. Cuma kamu yang mama harapkan. Sekarang cepat kesini!"


"Oke..oke.. aku pergi sekarang.." jawab Vino sambil tertawa. Ia ingat bagaimana antusiasnya ibunya menjadi seorang nenek.


Ketika sampai dirumah sakit, ia melihat ibu dan ayahnya berada diluar ruangan. Ia menghampirinya.


"Gimana ma?" tanya Vino.


"Udah. Perempuan. Akhirnya mama punya cucu perempuan." seru Sandra senang. "Eh, kamu dari mana?"


"Ambil surat cerai di pengadilan. Trus dari rumah baru." jawab Vino tenang.


"Beres cerai tapi mukanya tenang gitu. Aneh.." ucap ayahnya.


"Karena Vino yakin, Sierra gak akan kemana-mana. Vino yakinkan papa sama mama, Vino yang akan tarik Sierra lagi untuk jadi menantu kalian.."


Sandra tersenyum. "Harus Vin. Mama gak mau menantu lain selain Sierra.."


"Halo..." ucap seseorang dibelakang mereka.


Ketiganya menoleh. Alena ada disana. Tapi ia semakin terkejut ketika melihat Firly ada disana. Vino langsung mendekat.


"Ma.. Apa kabar?" tanya Vino seraya memeluk Firly.


"Baik. Vino.." jawab Firly.


"Maafin aku ma. Tolong maafin aku." ucap Vino.


"Mama udah tau semuanya dari Andi. Dia cerita semuanya. Sayang terlambat ya.. Sierra saat ini bahagia dengan pilihannya." jelas Firly.


"Bahagia dengan pilihannya? Tolong jangan bikin aku takut ma.. Pilihan apa maksudnya?" tanya Vino.


"Pilihan Sierra. Mimpinya itu. Masa kamu gak tau?" goda Firly.


Vino akhirnya tersenyum. Siapa lagi yang mengetahui mimpinya selain ia dan ibunya. "Kalo gitu, lebih baik aku biarin Sierra mengejar mimpinya. Kalo boleh tau, sekarang Sierra ada dimana?"


"Belum saatnya kamu tau." jawab Firly sambil menghampiri Alena dan Sandra. Vino berdiri mematung ditempatnya berdiri. Ia mengepalkan tangannya.


Tunggu saat yang tepat aku bisa ambil hati kamu lagi, Sierra.. Tunggu aku!