
Andi terbangun di kamarnya seorang diri. Ojo tidak ada disampingnya. Semalam ia pulang dini hari dan ia tidak mau mengganggu istrinya yang sudah terlelap. Ia berfikir sejenak. Sepertinya kepergiannya ke Manchester kemarin adalah sesuatu yang salah. Ia tidak seharusnya meninggalkan istrinya sendirian dirumah dan tepat di hari libur pula. Tapi entah kenapa ketika Jefry mengatakan Jane mengalami kekerasan, ia penasaran. Ya, ia hanya penasaran dengan apa yang terjadi pada Jane selama lima tahun ini. Ia teringat wajah anak Jane yang waktu itu mereka lihat ketika Jane menjemputnya di tempat penitipan. Ia tiba-tiba membayangkan jika dirinya dan Ojo memiliki seorang anak, bagaimana wajahnya nanti?
Ia menggelengkan kepalanya. Fokus kepada Jane. Kemarin ia terlalu penasaran dengan Jane. Pengkhianatan Jane pernah membuat hatinya sakit. Tapi disisi lain, ia telah berbohong pada Ojo. Apakah Ojo mencurigai sesuatu darinya? Jika ia jujur pagi ini, bagaimana reaksinya? Apakah Ojo akan marah? Bagaimana jika Ojo tidak menerimanya? Bagaimana jika Ojo pergi meninggalkannya?
Iapun turun dari tempat tidur dan berjalan keluar. Ia melihat ruang keluarga masih sepi. Namun terdengar suara sibuk di dapur. Ia menoleh dan melihat Ojo sedang memasak. Ia berjalan menghampiri istrinya yang terlihat membelakanginya.
Dengan cepat ia melingkarkan tangannya diperut istrinya. Ia menunduk di bahu istrinya dan menghirup harum istrinya yang sudah mandi.
"Kenapa gak bangunin aku?"
"Aku masak.." jawab Erika tanpa melihat suaminya.
"Jo..." panggil pria itu.
"Hmm.."
"Kamu marah sama aku gara-gara kemarin?" tanya Andi.
"Sedikit.."
"Maafin aku. Aku mau cerita sama kamu."
Erika mengecilkan kompor dan memegang tangan suaminya. Ia melepaskan tangan yang melingkari perutnya. Ia membalikkan badannya dan menatap Andi. "Mandi dulu baru kita bicara. Hari senin ini harusnya kamu dateng pagi."
"baiklah, Tuan Putri.." jawabnya sambil tersenyum.
Erika melihat kepergian suaminya. Entah bagaimana ia menunjukkan rasa kecewanya pada pria yang sudah menjadi suaminya itu. Semalam, bukan.. ia baru pulang pukul 2 pagi. Bagaimana ia bisa tidur jika suaminya tanpa kabar dan belum pulang hingga pagi. Ia marah tapi ia tak mampu. Ia ingin melawan, tapi ia takut. Jadi sebenarnya pernikahan apa yang sedang mereka jalani?
Tak lama suaminya menghampiri meja makan. ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Makanan pun sudah tersedia di meja makan. Mereka mulai sarapan tanpa berbicara. Erika pun masih melayani suaminya dengan mengambilkan air putih padanya.
"Oke, aku sekarang mau cerita. Kalo aku ngomong pas kamu lagi makan, aku takut selera makan kamu hilang. Gini, kemarin aku ketemu sama Jane di Manchester." Ucap Andi
"Aku paham wanita. Aku tau didalam otak kamu, pasti kamu mulai berfikir yang macam-macam." ucap Andi.
"Wajar karena aku istri kamu." jawab Erika tajam.
"Nah justru itu aku mau cerita sama kamu. Aku gak mau kamu berfikir kalau aku khianati kamu. Seperti yang dilakukan mantan kamu."
Erika mengerutkan keningnya. "Kenapa harus bawa-bawa mantan aku? Ini gak ada hubungannya.."
"Ini cuma perumpamaan. Maaf kalo kamu tersinggung." ucap Andi.
"Tentu aja aku tersinggung. Kita mau membahas seorang wanita bernama Jane, dan kamu malah membandingkan Bumi disini. Yang bahkan gak ada didalam cerita yang akan kita bahas sekarang." ucap Erika marah.
"Oke, aku bahas Jane sekarang. Alasan aku datang kesana adalah penasaran." ucap Andi.
"Semuanya bisa berawal dari penasaran, prince. Lama-lama kamu kasihan. Itu kan yang mau kamu ceritakan? Ada kejadian apa sama Jane? Kenapa dia bisa ada di Manchester? Kenapa seorang Jane bisa membuat kamu pergi dengan jarak yang menurut aku gak dekat?"
"Ya, setelah dari sana aku lihat sendiri kondisi dia. Aku kasihan." jawab Andi.
Erika mengepalkan tangannya. Jantungnya berdebar dengan kencang. Ia tidak berharap suaminya akan menjawab hal yang berdasarkan perkiraannya. "Lalu, kamu mau kembali sama Jane?" tanya Erika dengan nada bergetar.
Andi langsung menatap Erika. Wajahnya langsung merah karena marah. "Apa maksud kamu?"
"Kalo kamu ngerasa kasihan, lebih baik kamu kembali sama dia. Mumpung pernikahan kita masih baru. Kita juga menikah bukan karena cinta. Aku gak mau menikah dengan pria yang masih berhubungan sama masa lalu. Aku gak sanggup."
Andi berdiri dan mengangkat gelasnya tinggi dan melemparkannya di lantai. "Aku gak pernah dikasih kesempatan buat ngasih penjelasan sama kamu. Aku juga cukup. Jangan pernah mudah kamu bilang soal perpisahan sama aku!" serunya marah. Ia langsung berjalan cepat menuju pintu dan keluar.
Erika menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pertengkaran mereka kenapa harus tentang wanita lain?