
Lima Tahun Kemudian
Cello mengeluarkan kopernya dari kamar tamu dengan cepat. Ia menatap jam tangannya. Ia keluar dari kamar dan menyimpan kopernya tepat didepan tangga untuk turun. Ia melirik sekitar. Tidak ada siapapun. Kemudian ia melihat kebawah. Tetap tidak ada satu orangpun. Ia mengerutkan keningnya. Apakah kakak sepupunya masih tidur? Iapun berjalan menuju kamar pria itu.
Sudah satu minggu ia tinggal di penthouse milik sepupu tampannya itu karena hari ini ia akan pulang ke Indonesia. Beberapa hari ini ia ada pekerjaan terakhir di London, ia sengaja tinggal di penthouse sepupunya karena jika ibunya tahu ia tinggal di hotel, ia akan marah. Lagipula sepupunya itu lebih senang tinggal di kantor daripada penthouse nya. Alasannya karena ia malas sendirian. Ia sering membiarkan penthouse nya kosong.
Cello mengetuk pintu kamar pria itu dengan kencang.
"Kak! Kamu udah bangun belum?" Panggil Cello.
Tak lama pintu terbuka. Andi membuka pintu sambil bertelanjang dada. Rambutnya acak-acakan dan wajahnya terlihat kusut. Terkadang Cello merasa kasihan. Pria itu menatapnya dengan mata tertutup sebelah.
"Aku baru bangun!" Ucapnya sambil berjalan kembali ke dalam.
Cello ikut masuk kedalam kamarnya. Ia melihat sepupunya dari belakang. Jika dibandingkan lima tahun yang lalu, sosok Andi jauh lebih dewasa sekarang. Tubuhnya sekarang lebih atletis karena ia melakukan gym satu minggu dua kali di salah satu tempat gym terbaik di kota ini. Wajahnya tentu saja semakin tampan. Jika ia bukan sepupunya, mungkin saja ia sudah jatuh cinta pada pria itu. Bahkan teman-temannya pun banyak yang menyukai sosok Andi. Ia teringat kejadian empat bulan lalu. Cello mengajaknya untuk mengunjungi salah satu fashion show yang saat itu diselenggarakan di London. Sosok sepupunya pernah dikatakan misterius oleh salah satu surat kabar di London. Tapi ia tidak peduli berapa banyak wanita yang menyukainya. Ia terlalu dingin. Padahal usianya tidak lagi muda. Iapun belum pernah mendengar sepupunya memiliki hubungan dengan wanita manapun selama berada di London lima tahun ini.
"Naik pesawat jam berapa?" tanya Andi saat ia melangkah ke kamar mandi.
"Jam 10 kak." jawab cello
"sekarang jam berapa?"
"Jam 7 pagi."
"Are you kidding me, Cel?" tanya Andi. Ia berdiri didepan pintu kamar mandi sambil memegang sikat gigi.
"I'm not kidding you, kak. Masih ada waktu buat check in bandara." jawab Cello sambil tertawa. Rasanya lucu melihat sepupunya seperti itu.
Iapun berdiri untuk melihat seluruh ruangan. Kamar seorang pria lajang dengan tata ruang minimalis. Ia yakin penthouse ini dibuat dengan keinginan sepupunya. Ia juga teringat sepupunya hampir saja mundur dari nama keluarganya karena projek yang dikerjakannya tidak sesuai rencana. Tapi dengan adanya penthouse yang sudah ia beli dua tahun yang lalu, itu menandakan jika ia sudah sukses dengan semua yang dikerjakannya lima tahun ini. Roda kehidupan seseorang pasti berubah. Jika awalnya sepupunya itu terpuruk di tahun pertamanya, tapi ternyata ia bisa sukses di tahun berikutnya. Semuanya karena kerja keras.
Tiba-tiba matanya terpaku pada sebuah surat kabar Indonesia yang terlihat diselipkan disalah satu buku yang ada di meja kerja. Ia melihatnya. Sebuah berita tentang seorang artis dan skandalnya. Ia mengerutkan keningnya. Sejak kapan kakak sepupunya suka pada berita gosip seperti ini? Ia tahu jika pria itu adalah salah seorang artis yang saat ini sangat terkenal. Tapi wanita itu siapa? sepertinya ia merasa tidak asing.
Dengan cepat surat kabar itu ditarik ke atas kepalanya. Ia menoleh karena terkejut.
"Gak usah kepo. Ini harusnya udah jadi bungkus makanan." ucap Andi yang sudah siap dibelakangnya.
"Kenapa masih disimpen? Padahal kan udah lima tahun?" tanya Cello penasaran.
Andi memegang kepala Cello dan mendorongnya keluar. "Kita pergi sekarang. Kakak anter kamu sampai check ini di bandara." Ia mengabaikan pertanyaan sepupunya itu.
"Ya, ya, aku cek dulu ke kamar. takut ada yang ketinggalan." ucap Cello sambil berlari ke kamarnya. Sesekali ia melirik ke belakang untuk melihat wajah sepupunya itu.
"Kak, kamu gak akan pulang?" tanya Cello ketika mereka berada didalam mobil.
"Aku pulang pas Viar nikah." ucap andi sambil memakai kacamata hitamnya.
"Kenapa gak hari ini aja?"
"Karena seminggu ini, kakak ada meeting penting. Jadi kakak gak bisa ninggalin pekerjaan."
Cello mengerutkan keningnya. Ia teeringat sesuatu. "Bukannya Kak Viar udah pulang?"
"Emang udah. Kakak pulang ke Indonesia minggu depan." jawab andi sambil tertawa.
"Ini adalah kepulangan kakak pertama kali setelah lima tahun. Kakak kangen sama rumah?"
"Normal. Kakak kangen semuanya." jawab Andi.
"Eh kakak tau gak kalo Cilla gak akan bisa pulang dua tahun ini?" tanya Cello.
Jika membicarakan kembaranya, ia selalu bersemangat untuk membahasnya,
"Kakak udah gk mau bahas soal Cilla. Dia gak bisa kakak kasih tau. Padahal kakak udah bilang sama dia jangan asal ambil pekerjaan. Sekarang yang salah dia sendiri. Dia gak bisa ngatur schedulenya sendiri. Kalo mama kamu tau, nanti kakak lagi yang kena marah." ucapnya dengan nada kesal. Tiba-tiba ia menghentikan mobilnya. "Shit! handphone kakak ketinggalan!' pekiknya.
Cello tertawa melihat tingkah sepupunya. "just marry, Kak." goda nya.
"Marry? Kamu gak nyambung." jawab Andi.
Cello tertawa semakin keras. "Bukan kali ini aja kakak lupa. Kemarin juga sama. Kemarin-kemarinnya lagi? sebelumnya juga. Sadar gak sadar setiap hari kakak selalu lupa sama sesuatu. if you have a wife beside you, aku jamin semua pnyakit lupa kakak akan hilang."
"Sok tau." jawab Andi sambil menjalankan kembali mobilnya.
"Aku yakin kalo kakak pulang nanti, yang diributin mama Alena pasti soal itu. Lagian kakak itu aneh."
Andi mengerutkan keningnya. "Aneh gimana?"
"Kenapa aku gak pernah liat kakak pacaran? Atau mau aku kenalin sama Cindy? Dia model baru yang baru gabung sama Cilla. Dia orang Indonesia juga kak."
"No. Jangan bahas itu lagi. Kalo kamu mancing-mancing, kakak turunin disini." Ancam Andi.
"Oke, aku nurut." Ucap Cello sambil menutup wajahnya denan topi yang dipegangnya.