Love Actually

Love Actually
Sisi Bumi



Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Erika dan Bumi tak henti nya tertawa karena membahas pengorbanan Bumi untuk sampai ke tempat Erika berada.


"Tadi tambah lagi. Waktu turun dari mobil, aku belum sempet nemuin kamu, ada ibu-ibu teriak histeris pas ngeliat aku." ucap Bumi sambil tertawa.


"Kenapa?" tanya Erika.


"Katanya, aku mirip sama anaknya. Dia langsung peluk aku tadi. Tapi pas suaminya dateng, ibunya langsung disemprot. Ternyata anaknya itu masih umur 10 tahun." jawab Bumi.


Gelak tawa tak urung keluar dari mulut Erika. Ia tidak tahan dengan candaan Bumi. Selama ia mengenal Bumi, pria itu membuat harinya semakin cerah. Ia senang jika ada Bumi ada disampingnya. Bukannya itu yang ia inginkan selama ini? Ia menatap Bumi lama.


"Aku cakep ya? Banyak sih yang bilang gitu." jawab Bumi sambil tersenyum


"Apaan sih?" jawab Erika sambil mencubit lengan Bumi.


"Aduh, sakit. Tapi gak apa-apa. Terusin dong cubitnya." goda Bumi


"Bumi!" rengek Erika.


"Ya, becanda." ucapnya sambil memegang tangan Erika. "Tadi pagi aku shock liat kamu ada di televisi. Aku juga shock waktu liat kamu berdua sama tentara itu. Secepat itu kamu punya fans.."


Erika menatap tangannya yang sedang digenggam Bumi. "Aku juga gak tau bakal masuk berita." jawabnya.


"Aku tadi refleks langsung jemput kamu. Aku takut kamu tergoda sama tentara itu. Nanti aku keduluan." ucap Bumi.


"Keduluan apa?" tanya Erika dengan jantung berdebar.


"Aku suka kamu Erika. Aku berniat buat jaga kamu seperti yang udah aku bilang sama papa kamu. Aku gak mau kamu sama laki-laki lain." jawab Bumi sambil memegang erat tangan Erika.


Erika merasa gugup. Bumi memperlihatkan sisinya yang lain. Ia terlihat gugup juga. Pegangan tangannya begitu erat. Seorang Bumi yang humoris kalah jika ia sedang serius. Ia sesekali melirik Erika. Kemudian ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Erika. Kalau kita melanjutkan hubungan ke tingkat yang lebih serius gimana? Aku emang public figure dimana semua kehidupan aku terekspos media. Tapi aku bisa membuat hubungan kita gak sampai terendus. Kita bisa main cantik." tanya Bumi dengan wajah serius.


Erika terdiam sejenak.


"Kamu pikirin dulu aja. Gak apa-apa kok. Mungkin kamu kaget kenapa tiba-tiba aku aneh.."


"Aku mau" ujar Erika.


"Kamu mau?" tanya Bumi tidak percaya.


"Itu pasti. Aku gak mungkin sakitin kamu. Gak akan pernah." ucap Bumi cepat.


Dan itulah yang terjadi tadi siang ketika mereka berada di perjalanan pulang. Malam ini Erika masih berada dirumah sakit untuk bertemu dengan Dokter Ivan. Ada dokumen yang harus ia pelajari untuk membuat menu makanan besok pagi. Dokter Ivan meminta perubahan untuk menu makanan agar sesuai standar yang ditetapkan departemen kesehatan.


Malam ini pula ia sengaja tidak makan karena Bumi akan memasakkan makanan untuknya. Ketika ia berada diruangan tadi, ia masih berfikir. Apakah yang ia putuskan untuk berhubungan dengan Bumi adalah sesuatu yang baik? Ia tidak tahu sama sekali masa lalu Bumi. Ia tidak mengenal Bumi dengan baik. Ia hanya tahu Bumi jika sedang bersamanya. Ketika ia berada diluar, ia sendiri tidak tahu. Bagaimana kesehariannya di lokasi syuting? Bagaimana karakter teman-temannya? Bagaimana keluarganya? Ia memiliki berapa saudara? Pertanyaan itu mulai datang kepadanya.


Sepertinya, ia akan mengetahuinya perlahan. Ia akan menanyakannya nanti. Iapun mengambil dokumennya dan berjalan keluar untuk menemui Dokter Ivan.


Pintu diketuk pelan. Dokter Ivan berada di meja kerjanya dengan serius.


"Dok, saya sudah datang." ucap Erika.


Dokter Ivan tersenyum. "Artis rumah sakit ini langsung dikasih pekerjaan." godanya.


"Gak apa-apa dok. Tugas saya. Dan satu lagi. Saya bukan artis." jawab Erika sambil tersenyum.


Dokter Ivan langsung tertawa. "Ya, mana dokumennya. Nanti kalau sudah saya baca, saya telepon kamu. Lebih baik kamu pulang sekarang. Maaf karena nyuruh kamu kesini padahal kamu baru aja pulang. Sampai ketemu besok. Saya mau coba menu yang kamu tawarkan nanti ke pasien." jawabnya.


Erika mengangguk dan berpamitan. Ia tidak membawa apapun ke rumah sakit. Seluruh perlengkapannya sudah dibawakan Bumi tadi. Iapun mengangkat handphonenya. Ia menghubungi Bumi.


"Ya sayang.." jawab Bumi.


Erika tersenyum. Baru beberapa jam yang lalu mereka memutuskan untuk berpacaran. Sekarang ia sudah memanggilnya dengan ucapan sayang.


"Aku pulang sekarang."


"Oke, aku nunggu kamu dibawah." jawab Bumi.


Perjalanan dari rumah sakit ke apartemen tidak terlalu lama. Malam ini cuaca tidak terlalu dingin. Ketika sampai didepan lobi apartemen, ia melihat Bumi sedang menunggunya. Ia tersenyum padanya.


"Ngapain jemput aku. Aku bukan anak kecil." jawab Erika.


Bumi langsung memegang tangan Erika dan mengangkatnya ke bibirnya. "Aku takut ada yang rebut kamu diluar." goda Bumi.


Erika langsung tertawa. Iapun langsung memeluk Bumi dengan erat.


"Cepet, aku lapar. Kita masak sekarang." ujar Bumi sambil melepaskan pelukannya. Ia menarik tangan Erika masuk kedalam.