
Hampir satu bulan Andi dan Erika menghabiskan waktu di Brussel. Apapun yang mereka lakukan, akan dilakukan bersama. Pengakuan cinta sudah mereka katakan. Tidak ada lagi yang mereka tutupi.
Siang ini mereka berada didalam pesawat untuk kembali ke rumah. Ya, Tante Clara terus menghubungi mereka agar cepat pulang. Ia tidak sanggup terus berbohong tentang kepulangan mereka ke rumah pada kedua orang tuanya masing-masing.
Erika membuka matanya perlahan. Ia melihat ke jendela. Mereka masih berada diatas pesawat. Ia merasakan tangan suaminya masih tersimpan di perutnya. Ya, dia begitu antusias sejak pertama kali tahu jika ia sedang mengandung anaknya. Ia menatap wajah Andi yang sedang tertidur. Terlihat damai sekali. Iapun mencoba melepaskan tangan yang ada diatas perutnya itu. Tapi kedua mata itu terbuka. Ia melirik.
"Kenapa? Kamu pusing?" tanya Andi panik. Ia memang melepaskan tangannya dari atas perutnya. Tapi kini ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya. "Kepala kamu pusing?" tanyanya kembali.
Erika tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia melepaskan kedua tangan itu. "Aku gak pusing. Perut aku berat karena tangan kamu daritadi disini" protesnya sambil menunjuk perutnya.
"Takut ilang." jawab Andi polos.
Erika tak kuasa menahan tawanya mendengar ucapan suaminya yang konyol itu. Ia tertawa dengan sangat kencang sehingga beberapa penumpang melihat mereka.
"Ini gak mungkin ilang, sayang.." bisik Erika sambil tertawa pelan.
Andi langsung tersenyum. "Aku becanda. Pegang perut kamu jadi kebiasaan aku yang baru. Aku mau menikmati perkembangan perut kamu ini." jawabnya pelan.
"Bukan cuma perut aku yang besar. Badan aku juga nanti besar. Lama-lama kamu bosen sama aku. Nanti kamu cari wanita yang lebih cantik dan langsing. Trus aku ditinggalin." goda Erika.
Andi langsung mencubit pipi Erika. "Jangan ngomong aneh-aneh. Mau badan kamu sebesar gajah sekalipun, aku gak masalah. Karena aku cintanya sama kamu. Bukannya sama gajah." goda Andi. Ia langsung memeluk Erika dengan erat. "Aku penasaran sama mama-mama kita nanti pas tau kita pulang." tambahnya.
Di terminal kedatangan bandara.
Cello menatap jam tangannya. Ia sudah menunggu satu jam tapi pesawat yang ditumpangi sepupunya masih belum mendarat. Ketika ibunya mengatakan tentang kedatangan sepupunya, ia senang sekali. Ia meninggalkan butiknya hanya untuk menjemput keduanya.
Tiba-tiba ia mendengar pengumuman bahwa pesawat yang ditumpangi kakaknya mendarat. Ia semakin bersemangat untuk bertemu keduanya.
Beberapa penumpang terlihat keluar dari pintu keluar. Ia berjinjit untuk melihat mereka. Pria-pria didepannya sedikit tinggi sehingga ia agak kurang bisa melihat penumpang yang baru datang.
"Cello!" panggil Andi.
Cello menoleh kebelakang. Ia melihat kedua orang yang dijemputnya sudah ada dibelakang mereka. Ia mengerutkan keningnya. Kenapa bisa mereka keluar dari pintu lain? Tapi itu tidak masalah. Ia begitu bahagia melihat keduanya. Ia berlari dan memeluk Andi terlebih dahulu.
"Kak Andi!" teriaknya bahagia.
Andi tertawa dan membalas pelukan Cello. "Akhirnya kita ketemu.."
"Akhirnya ada yang bisa jajanin aku makanan enak. Aku kangen sama kalian kak." ucap Cello senang. Andi menarik rambut Cello ke atas sehingga gadis itu sedikit meringis.
"Jajan apa? Kebiasaan. Kalo kamu banyak makan, yang ada badan kamu makin besar, Cell.."
Cello melepaskan pelukannya. "Kalo Kak Andi gak mau, aku minta sama Kak Erika aja." ucapnya sambil memeluk Erika.
Erika tertawa. "Gampang. Bisa diatur Cell.."
Sedangkan dilain tempat.
"Aku gak ngerti sama mereka berdua. Udah satu bulan mereka tinggal di Brussel. Emangnya Andi udah gak ada kerja?" tanya Alena pada Sandra. Karena pada saat ini ia dan beberapa orang terdekatnya sedang berada dihalaman belakang rumahnya.
Clara hanya melirik pada kakaknya. Ia tidak sabar melihat wajah terkejut kakaknya ketika melihat anaknya pulang.
Sandra menghela nafas. "Dan mereka susah banget ditelepon. Tadinya kita mau ke London terpaksa batal karena Ojo yang minta kita buat batalin."
Firly tersenyum. Ia senang melihat keduanya menjadi besanan setelah kejadian hari itu. Seandainya waktu dulu ia dan Alena yang menonton film, ia yakin saat ini anaknya yang menikah dengan anak Alena.
"Oh ya, kak Firly.. anak kakak dua perempuan kan?" tanya Clara.
Firly mengangguk. "Ya.."
"Sekarang ada dimana?" tanya Clara kembali.
Sandra dan Alena menatap Firly bersama-sama. Setelah pertemuan kembali dengan Firly, ia belum bertanya tentang apa yang terjadi dengan keluarganya. Mereka hanya tahu jika suami Firly sudah meninggal karena sakit yang dideritanya.
Firly menunduk. Ia terlalu malu untuk mengatakannya.
"Gak apa-apa kak, cerita aja.." ucap Clara.
"Sierra, dia anak kebanggaanku. Usia Sierra mungkin hampir sama dengan usia salah satu anak kalian. Dia anak keduaku. Aku sama suami terpaksa harus mengubur mimpi Sierra untuk jadi perancang busana internasional." ucap Firly sambil membayangkan bagaimana sulitnya kehidupan mereka saat itu. "Tapi itu dulu. Sekarang kami sudah bangkit." tambahnya sambil tersenyum.
"Sierra kerja? Atau sekarang lagi sibuk apa?" tanya Alena.
"Sierra sekarang jadi agen di salah satu wedding organizer. Jadi kalo ada salah satu anak kalian yang menikah, kalian bisa hubungi Sierra."
"Trus anak yang satu lagi?"
"Pergi kemana?" tanya Sandra.
"Dre ikut sebuah yayasan yang fokus pada pemulihan pasca ketergantungan drug. Aku gak pernah berharap Dre kembali. Karena, aku dan Sierra sudah memutuskan untuk melepaskan Dre. Kalaupun dia pulang, dia akan menyiksa kami perlahan."
Alena mengerutkan keningnya. "Sejak kapan Dre ketergantungan obat?"
"Sejak papa nya meninggal. Cuma Dre yang dekat sama suami aku. Sierra dekat sama aku."
Sandra menatap Firly. "Sekarang Sierra ada dimana?"
"Dia lagi ke Jepang.."
"Jepang? Anakku juga lagi di Jepang." ucap Sandra bersemangat.
"Tunggu..tunggu... Jadi apa maksud kak Sandra?" tanya Clara sambil berdiri. "Jangan sampai kejadian dua kali. Pertama Erika sama Andi. Sekarang ada lagi?" tanya Clara.
"Why not kalo bisa merubah sifat anakku?" ucap Sandra.
"Duh.. apa sih ribut-ribut. Mau jodoh-jodohin siapa?" tanya Andi yang baru saja masuk ke halaman belakang rumahnya.
Keempat wanita yang usianya tak lagi muda itu langsung menoleh pada dua sosok yang paling dirindukannya itu bersama-sama.
"Prince! Ojo!" teriak Alena sambil berdiri.
"Hai, nenek! Kami pulang." goda Andi. Ia datang dengan memeluk bahu Erika. Senyuman keduanya membuat suasana menjadi lebih ceria.
"Nenek?" tanya Sandra yang ikut berdiri.
Alena menatap tajam keduanya. "Nenek? Prince, jangan bilang mama mau jadi nenek.."
"Yas, mam.." jawab Andi sambil memegang perut Erika.
"Andi, jangan gini. Malu!" seru Erika sambil melepaskan tangan suaminya.
"Loh, wajar dong aku mau sebarkan kebahagiaan sama orang-orang disini." Jawab Andi.
Erika menggelengkan kepalanya. Ia malu. Terdengar suara ibunya memanggilnya pelan. Ia menoleh untuk melihat ibunya. Kedua mata ibunya berkaca-kaca. Ia hampir menangis jika Erika tidak menghampirinya.
"Ma.." ucap Erika terharu.
Sandra mengangkat kedua tangannya. "Apa bener mama mau jadi nenek?"
Erika memeluk ibunya erat. "Iya ma."
"Jo,, mama bahagia. Ini pertama kalinya mama merasa kebahagiaan mama meningkat Jo.. Makasih Jo, kabar ini harus langsung mama kasih tau papa. Mama yakin papa seneng. Nanti kalo kamu pulang lagi ke London, mama pasti...."
"Gak ada lagi London ma. Aku sama prince pulang.." jawab Erika sambil tersenyum.
Alena menatap Andi. "Kalian pulang? Kok bisa?"
Andi menunjuk Clara yang sedang duduk sambil tersenyum puas.
"Jadi kamu tau kalo kedua anak ini pulang?" tanya Alena.
"Aku tau. Aku kasian liat kakak kesepian disini." jawab Clara sambil tertawa.
"Jangan bohong, Clara.." ucap Dave.
Alena menoleh pada Dave yang baru saja tiba. "Kamu udah tau?"
"Iya, aku tau karena kita yang mengatur semuanya."
Alena merasa kesal karena sudah dibohongi. "Apa alasan kamu, Dave?"
"Memang sudah saatnya mereka pulang." jawab Dave tenang.
Tiba-tiba saja Cello masuk membawakan kue tart dengan hiasan lilin diatasnya. Mereka masuk sambil menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.
"Happy birthday ma.." ucap Andi sambil mencium pipi ibunya.
Alena merasa sangat terharu. Ia tidak bisa mengucapkan apa-apa kecuali air mata kebahagiaan. Ia memeluk Dave dengan erat. "Thank you Dave."