Love Actually

Love Actually
Manchester City



Mobil melaju dengan kencang menuju kota Manchester. Hampir 4 jam mereka berada diperjalanan. Lumayan jauh jika menggunakan mobil. Kota Manchester yang terkenal dengan sepakbolanya itu nampak ramai karena telah dijadikan tempat wisata. Beberapa wisatawan terlihat berfoto-foto disepanjang jalan.


“Parkir didepan.” ucap jefry.


“Kamu tau tempat ini? Aku aja yang 5 tahun tinggal di London, baru pertama kali kesini.”


“Cukup tau karena aku yang nganter Jane tinggal di apartemen mini disini. Aku yang nyari tempat ini.”


Jefry turun terlebih dahulu. Dan Andi pun keluar. Ia berdiri didepan mobil untuk melihat apartemen yang ditinggali Jane. Bukan apartemen mewah seperti miliknya. Apartemen didepannya seperti apartemen kelas menengah namun masih layak dihuni. Didepan mereka sebuah tangga yang akan mengantarkannya keatas sudah terlihat sedikit usang walaupun masih kokoh. Ia melihat Jefry menaiki tangga. Iapun mengikuti dari belakang. Sepertinya apartemen Jane berada di lantai dua. Ia hanya menaiki tangga sedikit untuk mencapainya. Jefry diam didepan sebuah pintu.


“Jane..” panggil Jefry.


Terdengar suara Jane menyahut dari dalam. Tak lama pintu terbuka. “Jef, akhirnya kamu dateng. Aku nunggu kamu dari tadi. Kamu dateng sama siapa?” tanyanya sambil melihat pria disampingnya. Ia terkejut ketika bertatapan dengan pria yang pernah ada dihatinya itu. “Andi? Kenapa ada disini?”


“Hai Jane, aku kebetulan ketemu Jefry waktu di London tadi siang.” ucap Andi.


Jane membuka pintu lebih lebar dan membiarkan keduanya masuk kedalam apartemen mininya.


Andi menatap seluruh ruangan. Semuanya sangat sederhana. Kursi tamu yang mungkin kepunyaan pemiliknya. Kemudian ia hanya melihat sebuah kamar dan kamar mandi disebelahnya. Dapur masih menyatu dengan ruang makan dan hanya disekat oleh sebuah tembok untuk menuju ruang tamu.


“Selamat datang di apartemen mini Jane. Sebetulnya ini cuma nyewa. Aku gak beli apartemen ini karena aku gak sanggup.” jawab Jane sambil tertawa hambar. “Oh ya, katanya kamu pindah ke London 5 tahun ini?”


Andi mengangguk. “Karena waktu itu papa sakit, jadi aku yang ganti.”


“Kamu hebat. Ternyata kita sedekat ini tapi gak pernah tau. Kita lost contact ya?” ucap Jane sambil duduk di kursi.


Andi pun duduk di salah satu kursi. “Aku udah denger semuanya dari Jefry. Aku ikut prihatin.” ucap Andi.


Jane langsung menatap Jefry. Beberapa kali ia mengatakan pada saudaranya itu untuk tidak mengatakan kepada siapapun tentang kesulitannya.


“Aku yang maksa Jefry buat cerita tentang kamu.” ucap Andi cepat ketika melihat wajah Jane berubah menjadi cemas.


“Sekalian aku mau cerita sama kamu.” ucap Jefry.


Baik Andi maupun Jane langsung menoleh pada Jefry.


“Kerjaan aku disini udah selesai. Kemungkinan bulan depan aku pulang, Jane. Kamu gak apa-apa kalo aku tinggal?”


Jane tersenyum. “Gak apa-apa. Kan ada Andi..” jawabnya senang.


Erika berjalan mondar mandir di beranda penthousenya. Ia melihat London Bridge yang berkilau karena cahaya lampu malam ini. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam tapi suaminya belum terlihat pulang. Telepon pun sulit dihubungi. Sejak siang ia selalu menduga-duga kemana suaminya pergi. Walaupun mereka sudah menikah, seharusnya seorang Prince Andi tidak semena-mena padanya. Apalagi ia tinggal sendiri di penthouse. Jadi kemana suaminya pergi? Dua jam yang lalu ia menghubungi Viar untuk menanyakan keberadaan suaminya. Tapi hasilnya nihil. Suaminya tidak pernah menghubunginya. Apakah suaminya marah padanya? Atau apakah suaminya sudah mulai bosan berada disampingnya?


Iapun duduk disalah satu sofa dan membuka laptopnya. Sejak menikah, ia hiatus dari blog yang membesarkan namanya. Jika memang suaminya mulai bosan, bagaimana jika ia mulai aktif lagi membuat blog? Ia melihat sebentar tapi rasa kantuknya sudah tidak tertahan. Iapun berdiri dan berjalan masuk kedalam. Iapun menutup pintu beranda dan berjalan ke kamar. Ia kembali memakai camisolnya untuk tidur. Ia tidak peduli suaminya akan pulang atau tidak. Iapun berbaring di tempat tidur dan mulai terlelap.


 


"Kamu masih tinggal di London kan?" tanya Jane ketika Andi memutuskan untuk pulang.


"Iya." jawab Andi.


"Kalo pas aku sama anakku main kesana, gimana kalo kita ketemu?" tanya Jane kembali.


Andi menatap Jane didepan pintu. Ia menghela nafas. "Nanti aku tanya istri aku dulu. Aku pulang." Jawab Andi sambil berjalan menuruni tangga.


Menikah? Andi sudah menikah? Dengan siapa?