
Tidak membutuhkan waktu yang lama ketika ia makan terlebih karena perutnya yang lapar. Ia bisa dengan cepat menghabiskannya. Sesekali ia melihat ke kiri dan ke kanan. Tidak biasanya kedai setenang ini. Hanya ada seorang pria yang duduk tak jauh darinya. Itupun dandanannya aneh. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup topi. Setelah menghabiskan dua mangkuk ramen, Sierra keluar dari kedai itu setelah makan malam yang sangat diimpikannya.
Dua tahun setelah semuanya berakhir. Ia memulainya dari awal. Menjadi seorang single fighter tidaklah sulit. Ia fokus pada pekerjaannya sebagai designer. Ia menjadi salah satu designer di sebuah rumah mode sekelas Gucci dan D&G. Namun, berada di Tokyo satu hari saja membuatnya tidak ingin kembali ke Milan. Ketika ia melangkah tak jauh dari kedai, ia dipanggil seseorang.
“Sierra!”panggil seseorang dari belakang. Ia membalikkan badannya kebelakang dan terkejut melihat pria itu.
“Dimas?”tanya Sierra terkejut
Dimas menghampirinya. “Kamu sama siapa?”
“Aku sendirian.”
“Kebetulan. Udah nikah lagi?”tanya Dimas menggodanya.
Sierra menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Aku fokus kerja dulu. Belum ada waktu buat cari pasangan."
“Vino juga masih single. Kenapa gak balikan aja?” goda Dimas.
Sierra tersenyum samar. “Aku gak mau mundur kebelakang Dim.”
Dimas tersenyum. "Tapi kalo sama Vino gak nolak kan?"
"Jangan ngomong gitu." ucap Sierra.
Dimas membelokkan pembicaraan. “Kamu tinggal disini? Aku sama Vino juga kebetulan ada proyek lagi sama goverment Tokyo.”
“Vino disini?”
Dimas hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Kamu pasti kangen sama Vino. Berulang kali Vino bilang hal itu sama aku
Vino baru saja selesai minum-minum dengan para pegawai goverment. Tapi ia tidak minum banyak karena ia tahu jika mereka akan menyewa wanita-wanita Jepang untuk menemani mereka. Untuk itulah ia harus sadar sampai semuanya berakhir. Ia kembali ke hotel.
Dimas membuka pintu kamar hotel. Ia tersenyum ketika melihat Vino. Ia ingin segera memberitahunya. “Tau gak aku ketemu siapa?”
Vino menggelengkan kepalanya.
“Orang yang pernah kamu sakitin dua tahun lalu.”
Vino terkejut sampai-sampai ia bangkit dari duduknya. “Sierra? Dimana?”
“Dikedai tempat langganan kamu makan.”
“Kamu tanya gak dia tinggal dimana?”
“Aku gak tanya.” Jawab Dimas dengan wajah menyesal. “Tapi aku ikutin dia tinggal dihotel mana.”
...***...
Pagi ini Sierra sudah berencana untuk berwisata ke Hokkaido. Ia sudah memesan taxi untuk pergi ke stasiun Tokyo. Sierra sengaja tidak memakai pesawat karena ia ingin melalui jalur darat. Ia bisa menggunakan shinkansen yang membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk sampai kesana.
Setelah berada di stasiun, ia menunggu kedatangan kereta. Sambil menunggu, ia menelpon ibunya.
“Halo, nak.” Ucap ibunya yang begitu ia rindukan. Sudah hampir dua tahun ia tidak pulang ke Indonesia. Ibunya lah yang biasa mengunjunginya di Milan. Tadinya ia berencana untuk memboyong ibunya ke Milan. Tapi ditolak. Alasannya ia tetap ingin tinggal di Indonesia.
“Ma, dimana?”
“Mama lagi barengan sama mama Alena. Ada acara pertemuan alumni.” Jawab Firly. Dari nada suaranya ia terlihat senang. Ya, sampai sekarang ia dan mamanya masih berhubungan baik dengan sahabatnya.
“Aku mungkin minggu depan pulang ma. Ada kerjaan disana.”
“Akhirnya kamu pulang juga.” Jawab mamanya.
“Eh ma, nanti sambung lagi ya, keretanya udah dateng.” Ucap Sierra sambil berdiri untuk bersiap-siap.
"Selamat bersenang-senang.." seru ibunya.
Ketika masuk kedalam kereta, ia dibantu oleh seorang penumpang lain untuk mencari nomor tempat duduk. Ada seseorang yang sudah duduk di samping bangkunya. Melihat tempat lain kosong, kenapa ia harus duduk dengan orang ini?
“Sorry” ucap Sierra yang kemudian duduk disampingnya. Pria itu masih tidak bergerak. Melihat pemandangan yang begitu indah membuatnya mengantuk. Entah sejak kapan ia merasa nyaman ketika ia tidur di bahu seseorang.
Sierra terbangun ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. Ketika ia membuka matanya, ia melihat keluar. Ternyata telah sampai Hokkaido. Iapun turun dari kereta. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Vino berada didepannya sambil tersenyum.
“Vino.” Bisik Sierra. Dua tahun sudah mereka tidak bertemu. Rasanya sedikit menyakitkan karena rindu. Pria itu masih tetap sama.
Vino menghampirinya. “Apa kabar, Sierra?”
“Aku, em..baik.” jawab Sierra gugup.
Tidak pernah terpikir olehnya akan bertemu dengan Vino di Hokkaido. Vino melepaskan pelukannya dan menatap Sierra. Ia menyusut airmata Sierra dengan kedua tangannya. “Maafin aku.”
Sierra kemudian menjauh. “Maaf, aku kebawa suasana.” Ucapnya sambil mengelap air matanya. “Lagi apa kamu disini? Dimas yang bilang kalo aku ada di Tokyo?"
“Aku lagi ada proyek. Dari malem aku ngikutin kamu pas di hotel. Waktu Dimas bilang kamu ada disini, aku gak bisa diem aja."
Sierra terbelalak. “Konyol. Kamu ngikutin aku dari hotel?Dimas ikutin aku?"
“Ya, aku konyol kalau buat kamu.”
Sierra mulai berjalan. Ia diikuti oleh Vino. “Kamu mau kemana?”
“Aku mau jalan-jalan. Kamu ikutin aku?”
Vino hanya tersenyum.
Vino dan Sierra menikmati pemandangan Hokkaido dimalam hari. Seharian mereka melakukan aktifitas berwisata tanpa bercerita apapun. Mereka hanya menikmati kebersamaan karena penatnya pekerjaan.
“Aku gak minta kamu cerita dengan siapa kamu dekat. Ceritain aja apa yang kamu lakuin setelah kita bercerai.” Tanya Vino.
Sierra tersenyum. “Aku pindah ke Milan setelah satu bulan tinggal di Paris.”
“Milan?Pantesan aku nyari kamu di Paris gak ketemu.” Sahut Vino
“Kamu nyari aku?”
“Iya. Mama aku, mama kamu gak ada yang ngasih tau. Mili juga sama. Temen kamu itu malah marah-marah gak jelas sama aku.”
Sierra semakin terkejut mendengar jawaban Vino. “Kamu ketemu Mili?”
“Ya, waktu ke Paris beberapa kali tahun lalu.”
“Mili gak pernah cerita.”
“Dia benci ma aku. makanya dia gak ngasih tau. Trus aku mau tau. Mau sampai kapan kamu tinggal di Milan? Kamu gak akan pulang kerumah?”
Sierra sedikit tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya.
Vino menggelengkan kepalanya. “Gak bisa. Kamu harus pulang. Rumah yang aku siapin udah jadi. Kalo kamu gak akan pulang, aku juga mau tinggal di Milan.”
Sierra tertawa. “Konyol. Lagian kita udah bukan suami istri. Ngapain aku pulang kerumah kamu.”
Vino melotot. “Sebentar lagi kita jadi suami istri lagi. Dan aku gak mau ditolak. Kalo ditolak aku bunuh diri didepan kamu.”
“Kamu gila Vino...”
“Ya, aku memang gila sejak berpisah sama kamu.”
Sierra langsung serius. “Gimana Sherly?”
“Sherly? Sejak kita cerai, Sherly udah pergi dari masalah aku. Aku gak mau ngebahas tentang dia lagi.”
"Aku denger dari Mili ceritanya. Sherly fitnah aku soal gambar itu. Kenapa gak nanya langsung sama aku?"
"Karena waktu itu aku ketakutan kehilangan kamu. Tapi, aku memang bodoh. Aku harus kehilangan kamu."
Tiba-tiba ia berjongkok didepan Sierra yang duduk di kursi. Ia mengeluarkan sekotak yang Sierra pikir adalah cincin. Ketika dibuka, Sierra takjub karena ia lihat kalung dengan beberapa mutiara disekelilingnya.
“Will you marry me again?”tanya Vino.
Sierra melihat sekeliling. Suasananya begitu sepi. Entah kemana orang-orang yang tadi ada disekitarnya. Ia menatap Vino. "Kita baru ketemu hari ini."
”Will you marry me again? Seriously married. A husband and wife who love each other. Sleep in one bed.”tanyanya sambil tersenyum. Vino hanya mengabaikan ucapannya. "I know we still love each other. Please, aku cuma mau kamu..."
“I do” Jawab Sierra tiba-tiba sambil tersenyum. Entah mimpi apa ia tadi malam? Rasanya seperti masih bermimpi.
“Thank you.”ucap Vino senang. Ia langsung memeluk tubuh Sierra dan mengangkatnya. Mereka mendapatkan tepukan tangan. Ketika Sierra melihatnya, ia terkejut ketika melihat mamanya ada disana. Begitu pula dengan dimas dan istrinya. Dari kejauhan ia dapat melihat sahabatnya Mili sedang berlari kearahnya.
“Hey, what are you doing, Pinokio”teriak Mili.
Sierra langsung memeluk kedua ibunya. “Mama udah tau?” rengeknya manja.
“Kami berdua juga dadakan. Tadi pagi pas kamu nelpon mama, kita lagi di bandara. Tadi malem Vino bilang mau bikin kejutan buat kita. Makanya kita langsung dibeliin tiket pesawat.” Jelas ibunya.
“Dasar Pinokio, susah-susah aku jauhin kamu dari sahabat aku.” ucap Mili kesal. Tapi akhirnya ia tersenyum. “Tapi, kalo Sierra senang, aku juga senang.” Ucapnya sambil memeluk Sierra.