Love Actually

Love Actually
Episode 101



Mobil Vino berjalan menuju tempat yang sepertinya tidak asing untuk Sierra siang ini. Setelah semalam mereka tinggal di hotel, siang ini Vino membawa Sierra pulang ke "rumahnya".


"Vin, kayaknya baru bulan kemarin aku ketempat ini." Ujar Sierra bingung. Ia melihat ke kiri dan ke kanan.


Vino menjawab tanpa melihat Sierra. "Ya, aku tahu. Pernikahan klien kamu itu di kebun nya mama."


Sierra menatap Vino tidak percaya. "Bukannya pemilik rumah itu namanya Dimas? Temen aku yang telepon langsung."


"Dimas itu asisten aku sekaligus sahabat aku. Rumah itu memang sementara dijadikan kantor karena aku lagi buat kantor di daerah deket rumah ini. Tinggal 20%."


"Oh ya, Kalau memang kita pernah ketemu, kenapa kamu gak pernah bilang?"


"Aku gak pernah sengaja ketemu sama kamu. Itu cuma kebetulan aja. Lagian buat apa? Kenal gak kenal kita tetep nikah kan?" Ucapan Vino membuat Sierra terdiam.


Mereka terdiam sampai mobil mulai memasuki halaman rumah. "Waktu itu kamu foto-foto disana." tunjuk Vino.


Sierra hanya melirik tanpa mengatakan apapun.


Sierra dan Vino mulai memasuki rumah itu. Walaupun Sierra pernah ke rumah itu, tapi ia baru tahu jika ada sesuatu yang tersembunyi dibaliknya. Rumah bagian depan itu dibuat seperti kantor. Ditengahnya terdapat pintu besar seperti penghubung.


Ketika Vino membukanya, sierra terkejut dan tidak bisa menutup mulutnya. Ia terkejut melihat rumah itu. Ada rumah didalam rumah. Ia kagum pada orang yang telah membuat rumah seindah itu. Vino membuka salah satu pintu, yang terlihat oleh Sierra adalah taman luas disisi kiri dan kanan. Ditengah-tengah terdapat batu-batuan yang menjadi penghubung langkahnya untuk masuk kedalam rumah.


"Aku antar kamu ke kamar" Ucap Vino. Ia membawakan tas dan koper kedalam ruangan lain. "Perlu kamu tahu, aku belum siap kalau kita tidur dalam satu kamar."


"Begitu juga denganku." Ucap Sierra cepat.


"Bagus. Aku gak perlu susah-susah buat meyakinkan kamu. Pernikahan kita terlalu cepat."


"Aku tau. Aku juga punya keinginan."ucap Sierra.


"Apa?" Vino membalikkan badannya.


"Aku masih mau kerja. Beberapa bulan ke depan jadwal pernikahan sangat padat. Aku masih mau melakukannya. Please!" Sierra memohon. Wajahnya yang memohon seperti itu tampak menggemaskan.


"Setuju. Karena aku juga harus menyelesaikan pekerjaan yang terganggu gara-gara pernikahan ini. Sebenernya aku gak pernah memaksa agar kamu berhenti bekerja. Apalagi kalo aku kerja, kemungkinan kamu kesepian. Kamu butuh kegiatan." Jawab Vino dengan membalikkan wajahnya.


Vino membuka sebuah pintu kamar. Ia menyimpan koper itu disudut ruangan. "Kamu bisa pake kamar ini." ucapnya.


"Oke.." jawab Sierra. Ia melihat isi kamar. Tidak buruk. Satu ranjang ukuran besar dengan lemari yang hampir senada. Ia pikir ini adalah kamar utamanya karena ukurannya yang besar. Ia berjalan ke kamar mandi. Sebuah tirai besar dan lantai dari bebatuan. Terkesan tropis. Ia melihat Vino keluar dari kamarnya. Ketika pintu ditutup, ia mulai membereskan pakaian dan isi kamar itu. Ia membuka jendela kamarnya. Ternyata jendelanya terhubung pada kamar Vino. Suaminya itu kini sudah ada disana.


...***...


Waktu sudah hampir malam. Pantas saja perutnya bergejolak. Iapun membuka pintu kamarnya. Tidak terlihat tanda keberadaan Vino.


“Sierra.” Ucap Dimas menggoda Vino. Ia ingin menggoda sahabatnya sejak siang tapi tidak ada kesempatan. Ia begitu sibuk hari ini.


Vino melirik “Kenapa?” jawabnya ketus.


“Cantik loh Vin. Gak jauh beda sama Sherly. Eh, sifat aja yang beda kayaknya. Boleh aku menggoda istri kamu sebentar?” goda Dimas kembali.


“Bukan urusan aku.” jawab Vino tanpa melepaskan tatapannya pada media didepannya.


“Yakin kamu Vin?” Goda Dimas. Ia menatap wajah sahabatnya dengan menggodanya. “Aku samperin istri kamu ya.”


Ketika Dimas pergi, Vino membalikkan badannya ke belakang untuk melihat kepergian sahabatnya itu. Ada perasaan waspada tapi ia langsung menyingkirkannya.


Sierra berjalan ke depan pintu. Terlihat lampu kantor Vino menyala. Dan terdengar satu orang lagi. Mereka sedang berbicara. Mungkin pekerjaan. Sierra tidak mau mengambil pusing. Ia berjalan ke dapur dan membuka lemari es.


Ia merasa takjub. Mungkin ibu mertuanya yang menyiapkan semuanya. Baru beberapa jam saja ia merasa senang. Kegiatannya di dapur membuat seseorang penasaran untuk mendekatinya. Sierra bahkan tidak menyadari keberadaannya.


"Halo." Ucapnya mengejutkan Sierra.


Sierra membalikkan badannya dengan cepat. Ia menghembuskan nafas lega. "Kamu ngagetin aku!"


Dimas tertawa. "Maaf, maaf. Dari tadi aku diam disini. Kamu gak sadar?"


"Enggak."


Sierra tertawa. "Semuanya serba kebetulan. Maaf waktu itu mungkin aku enggak bersahabat. Aku kelelahan."


"Aku maklum. Kalian berkeliling mencari tempat. Itu memang tidak mudah."


Sierra tersenyum.


Vino mendengar suara tertawa Sierra dari kantornya. Ia terlalu fokus membuat gambar sampai ia lupa kalau Dimas sedang menggoda istrinya. Iapun berdiri dan menghampiri Sierra dan Dimas. Ia penasaran, apa yang mereka bicarakan.


"Aku harus minta ijin Vino terlebih dahulu."ucap Dimas ketika Vino masuk ke dapur.


"Apa?"tanya Vino. Wajahnya terlihat lelah.


"Sierra ngajak aku makan malam disini. Sebenarnya aku gak enak karena seharusnya pengantin baru menghabiskan waktu berdua aja." Ucap Dimas menggoda Vino. Vino hanya menatapnya tajam.


"Ijinkan aku masak buat kalian berdua. Mungkin masakanku gak sesuai dengan level kalian. Tapi masih bisa dimakan kok. Gimana Vin?"tanya Sierra


"Terserah. Kalo masakan kamu gak enak dan enggak sesuai seleraku, jangan pernah masak lagi. Buang-buang makanan. "ucap Vino tajam.


Dimas menatap Sierra yang terlihat terkejut dengan jawaban Vino. "Jangan dianggap perkataan suamimu ini. Dia memang seperti itu. Aku aja sering sakit hati sama ucapannya."


"Aku gak masukin ke hati. Dengan begini aku jadi tau punya suami seperti apa" ucap Sierra sambil tersenyum. Iapun berbalik dan melanjutkan kegiatannya.


Dimas menggelengkan kepalanya. "Benar-benar istri yang baik. Cantik lagi."Bisiknya pada Vino.


Vino hanya diam namun matanya terus memperhatikan Sierra.


"Halo.."ucap Dimas kencang ketika handphonenya berbunyi. "Ya, Oke sayang." ucapnya berbohong. Padahal yang berbunyi adalah suara alarm. Bukan panggilan telepon.


Sierra membalikkan badannya kebelakang dan menatap Dimas. Begitu pula dengan Vino.


"Sorry, aku pulang sekarang. Istriku minta diantar kerumah mama." Ucap Dimas cepat-cepat. Ia ingin melihat sikap keduanya ketika tidak ada orang lain dibalik pintu.


Sierra mengangguk. Dimas segera berlari.


"Dimas seperti suami takut istri." Ucap Sierra sambil tertawa. Vino hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia melihat Sierra menyiapkan piring dan memberikan padanya.


"Mudah-mudahan kamu suka." Ucap Sierra pelan sambil memberikan beberapa menu praktis. Ia sengaja membuat menu sedikit western karena melihat sosok suaminya. Ia terbiasa membuat makan malam sendiri ketika kuliah di Paris dulu. Apalagi masa kecilnya ia habiskan di Amerika. Makanan western tidak terlalu sulit untuknya.


Kemudian Sierra duduk dibangkunya. Ia tidak mau makan terlebih dahulu sebelum mengetahui apakah Vino menyukainya atau tidak. Ia menyimpan kedua tangannya di atas meja dan menatap suaminya dengan serius.


Perlahan Vino memulai makannya. Mimik wajahnya biasa saja. Sierra masih penasaran apakah Vino menyukainya?


Vino menyimpan sendoknya dan menatap Sierra. "Enak."


Sierra tersenyum bahagia. Ia baru saja akan memulai makan, Vino berkata kembali. "Apa kamu memang biasa masak ini? Ini menu western. Apa karena menikah denganku kamu sudah belajar memasak masakan western kesukaanku?"


Senyum Sierra menghilang. "Apa maksud kamu?"


"Aku tahu tentang uang 15 milyar itu."ucap Vino santai. Sierra tidak bisa berkata-kata. Ia menatap Vino dengan wajah malu. Ia tidak pernah berharap Vino akan membahas tentang uang itu. "Aku gak tahu dimana harga diri kamu. Karena menikah denganku, ibu kamu bisa mendapatkan uang kompensasi sebesar itu. Dipake buat apa uang 15 miliar itu?Bersenang-senangkah?"


Sierra menggebrak meja makan dengan keras. Ia menatap marah pada Vino. Matanya mulai berkaca-kaca. "Asal kamu tahu, hampir 3 tahun aku belajar di Paris. Aku bukan orang miskin yang bisa kamu hina seenak kamu sendiri. Aku juga pernah hidup berkecukupan. Kenapa aku bisa masak western? Karena aku tinggal di Amerika!" Ucap Sierra dengan bibir bergetar. Ia mulai menangis. "Aku tahu harga diriku gak ada. Apa salahnya membuat ibuku bahagia? Bagaimana bisa aku melihat ibuku terus-terusan bermasalah dengan hutang sebesar itu karena kematian ayah? Dasar brengsek!" Sierra berlari ke kamarnya tanpa melanjutkan makannya.


Vino masih terdiam ditempat duduknya. Ia menatap kepergian Sierra. Baru kali ini ia melihat seorang gadis menangis didepannya. Ia menatap piring dihadapannya. Perlahan ia memakannya kembali. Paris? Amerika? Pantas saja Sierra bisa membuat makanan western seperti ini. Ada hal yang ia tidak ketahui. Ia menoleh kembali ke belakang. Terdengar suara pintu ditutup dengan kencang.


Dimas menggelengkan kepalanya. Sahabatnya benar-benar keterlaluan kali ini. Iapun menghampiri Vino yang masih duduk dikursi makan."Kali ini kamu keterlaluan, Vin"


Vino menatap Dimas bingung. "Bukannya tadi kamu pulang?"


"Aku bohong. Aku mau lihat interaksi kalian berdua. Aku diam dibalik pintu. Kali ini kamu benar-benar keterlaluan. Istri kamu bahkan belum makan sedikitpun. Tapi kamu sudah membuat suasana hatinya buruk. Kamu tega."


"Diam.. Itu urusanku."


"Aku tahu itu urusanmu. Sebagai sahabat aku cuma memberikan nasihat. Jadi, minta maaf sama istri kamu ya. Kasian dia.."


Vino hanya diam mendengarkan Dimas bicara.