Love Actually

Love Actually
Episode 118



Hampir satu minggu Sierra lalui dengan perasaan cemas. Ia harus terbiasa melihat wanita itu memberikan perhatian penuh pada Vino. Dan ia tidak bisa diberikan waktu sebentar saja. Semua adalah kesalahannya. Ia yang menyebabkan wanita itu ada dirumah ini. Ia yang memberikan pilihan pada wanita itu. Hanya ucapannya yang terus terngiang di telinganya. Hubungannya dengan Vino pun sedikit terganggu. Ia tidak bisa menghabiskan waktu berdua dengannya. Dan ada satu hal yang mengganggunya. Vino berubah. Ya, sejak wanita itu datang, Vino seperti menghindarinya. Setiap hari ia selalu menghabiskan waktu di kamarnya untuk menggambar. Ia baru keluar untuk membuat makan siang dan makan malam untuk Vino. Semuanya ia lakukan agar ia tidak melihat bagaimana wanita itu memberikan perhatian pada suaminya. Tapi sayangnya, Vino malah jarang masuk ke kamarnya sejak terakhir ia kembali dari Korea.


Ia keluar dari kamar dan semua ruangan sudah gelap. Sepertinya wanita itu belum pulang. Ia mendengar suara tertawa dari arah kantor Vino. Karena penasaran, Sierra mengendap-endap untuk melihat apa yang mereka lakukan.


Sierra mengintip dari balik pintu dan melihat layar besar yang memuat video kebersamaan mereka selama ketika mereka berada di Jepang. Posisi mereka membuat Sierra menahan nafas. Vino sedang duduk dibawah sofa dengan Sherly duduk diatasnya. Tubuh Vino menyandar pada sofa. Dan Sherly sedang memeluk tubuh Vino dari belakang. Sesekali mereka tertawa dan tidak menghiraukan apa yang terjadi. Sierra berlari ke kamarnya dan menangis tersedu-sedu. Ia menyerah sekarang. Sudah cukup untuknya bertahan.


Vino merasa tidak tenang. Ia tidak melihat Sierra sejak sore tadi. Apakah terjadi sesuatu? Sayangnya ia tidak bisa melihatnya. Ia ingin Sierra menyerah. Dan itu pasti menyakitinya. Ia melepaskan tangan Sherly. "Cukup Sher. Lebih baik kamu pulang. Udah seharian kamu ada disini."


"Emang kenapa kalo aku ada disini. Ini rumah kamu kan?"


Vino menarik tangan Sherly dan mendorongnya keluar dari rumahnya. "Aku bilang cukup. Aku ikuti semua kemauan kamu. Kamu puas sekarang?" tanya Vino dengan nada tinggi.


Sherly tersenyum. "Finally Vino yang aku kenal udah kembali. Please speak louder, sayang. Aku suka itu. Aku pulang dulu. Bye.."


Vino menutup pintu dan berjalan menuju bangunan tempatnya tinggal. Lampu masih padam. Iapun mengurungkan niatnya untuk berada disana. Ia akan mengawasi Sierra cukup dari kantornya.


Tiba-tiba ia teringat seseorang. Iapun menghubungi orang itu.


"Halo..."


"Mili.." panggil Vino.


"Yes.."


"Mili, kita sahabat kan?"


"Wait. Sahabat? Aku gak kenal sama kamu selain kamu adalah suami sahabat aku."


"Help me.." ucap Vino pelan. Ia terdengar serius.


"Masalah Sierra?"


"Ya. Jaga Sierra buat aku. Sementara sampai semuanya selesai. Aku terpaksa harus menjauhkan Sierra. Semuanya serba mendadak. Aku gak tau harus minta bantuan sama siapa lagi. Aku cinta sama Sierra. Aku gak mau kehilangan Sierra. Please jaga Sierra. Kasih dia Support." ungkap Vino sedih


"Ini bener-bener serius? Apa karena masalah plagiat itu?"


"Ya, aku diancam seseorang. Aku harus selesaikan ini dulu. Aku diminta buat bercerai sama Sierra."


"Tapi kamu mau? Kamu bodoh kalo mau berpisah sama Sierra gara-gara wanita itu."


"Sampai kapanpun aku gak rela harus bercerai. Tapi, aku harus melepaskan Sierra sementara. Jangan pernah bilang tentang masalah ini sama Sierra. Aku mau langsung selidiki. Untuk meyakinkan wanita itu, Sierra memang harus pergi."


"Jangan terlalu lama. Jangan salahin aku kalau Sierra gak mau kembali sama kamu."


"Please, Mili.. " ucap Vino. Tapi telepon Mili sudah ditutup. Mungkin aneh jika gara-gara masalah ini, ia harus menjauhkan Sierra dari sisinya. Ia memikirkan perasaan Sierra. Ia ingin Sierra hidup lebih baik. Ia ingin Sierra menjadi seorang designer tanpa sebuah skandal plagiat. Ia ingin Sierra menjadi designer yang terkenal dengan caranya sendiri. Untuk itulah ia harus melakukan ini.


Ia kini berada didepan kamar Sierra dan sedikit tertegun. Ia mendengar suara tangisan. Vino ingin mengetuk pintu namun ia urungkan. Ia tidak kuat mendengar Sierra menangis. Ia tidak sanggup. Semuanya gara-gara ia. "Di masa depan, aku gak akan pernah bikin kamu menangis, Sierra.." bisiknya. Ia mendengar Sierra sedang berbicara dengan seseorang.


“Mili, I’m quit.” Ucap Sierra terbata-bata.


“I will divorce Vino soon.”


“What??” pekiknya. Ia tidak menyangka masalah sahabatnya begitu berat. Menjaga Sierra, tentu saja ia bisa melakukannya. Tapi jangan harap Vino dapat menemukan Sierra. “Kamu kesini ya, sayang. Kita mulai dari awal. Mulai lupain semuanya. Kita atur kepergian kamu dari sana.” ungkap Mili sedih.


Vino terdiam ketika mendengar percakapan Sierra. Ia akan berpisah dengan Sierra? Ia berjalan ke kamarnya dengan tatapan nanar. Ia seperti tengah bermimpi. Berpisah dengan Sierra? Sanggupkah ia? Ia teringat pertemuan pertama kali dengan Sierra. Kemudian saat menikah, salah paham, saling mengungkapkan perasaan masing-masing, dan banyak hal yang akan ia lewati ketika Sierra pergi.


Vino terduduk dilantai. Bagi seorang laki-laki, menangis adalah suatu kelemahan yang tidak boleh ia lakukan. Tapi kali ini ia tak bisa menahannya. Ia berjalan ke meja nakas dan melempar lampu kamar ke tembok. Kaca dari lampu itu pecah kemana-mana. Ia tidak peduli. Tidak ada yang bisa mensupport nya malam ini. Ke siapa lagi ia harus mengadu? Orangtuanya? tidak mungkin. Orangtua Sierra? Juga tidak mungkin.


...***...


Keesokan paginya, Vino tengah duduk dengan Sherly diruang makan. Sherly datang kerumahnya pagi sekali. Bahkan ketika ia masih tertidur. Terdengar suara roda mulai mendekatinya. Ia menutup matanya. Ia tak sanggup menatap wajah Sierra. Ia sudah tahu Sierra akan pergi pagi ini.


“Sherly, mulai saat ini aku menyerahkan Vino sama kamu. Semoga kalian berbahagia ”Ucap Sierra tegar. Ia tersenyum samar pada Sherly.


“Beneran?”tanya Sherly semangat. “Sayang, aku menang.”sahutnya pada Vino.


Vino tidak menggubrisnya. Ia bahkan tidak mau menoleh ke belakang hanya untuk melihat Sierra.


Sherly pun berdiri didepan Sierra. “Oke, aku keluar dulu. Kalo kamu mau ngobrol sama Vino aku kasih ijin. Itung-itung jadi pertemuan terakhir antara kalian.”


Sierra menghampiri Vino yang terlihat tidak terpengaruh tentang kepergiannya. "Vino" panggilnya.


"Ya" jawab Vino tanpa menoleh ke belakang.


"Aku pergi Vino. Ternyata kamu lebih baik sama Sherly. Dia bisa bahagiain kamu. Kalian udah kenal lama. Sherly lebih tau kamu daripada aku." ucap Sierra dengan nada bergetar.


Vino masih saja tidak bergeming. Ia bingung harus berkata apa. Vino merasa sedih tak tertahankan. Ia tidak mau menatap wajah Sierra untuk terakhir kalinya.


"Vin.. gak bisakah kamu liat dulu wajah aku?" Ucap Sierra terbata-bata. "Kamu bener-bener tega sama aku?"


Vino menghentikan makannya. Iapun berdiri dan menatap Sierra. Mereka kini berhadapan dan Sierra melangkah ke depan sehingga jarak mereka dekat. Ia menatapnya.


"Aku cuma berharap kamu bisa melanjutkan mimpi kamu. Jangan berhenti berharap karena harapan itu masih ada. Jangan menyerah.." Ucap Vino tanpa melihat matanya. Ia bisa melihat Sherly berada di belakang tembok. Ia masih saja memata-matainya.


"Tatap mata aku Vino, please.."bisik Sierra.


Perlahan Vino mulai menatapnya. Ia melihat kedua mata Sierra merah menahan tangis. Vino langsung memeluknya.


"Maafin aku, Sierra. Tolong maafin aku. Aku harus lakuin ini. "ucap Vino ikut terbata-bata.


Sierra memeluk tubuh Vino dan menangis. Mereka saling berpelukan beberapa saat sebelum saling melepaskan. Sierra mendekatkan wajahnya dan mengecup ringan pipi Vino. Iapun berbisik "Aku cinta kamu, Vin. Tapi sayang, aku terlambat. Selamat tinggal." Ia langsung berbalik dan mendorong kopernya untuk pergi. Setidaknya ia sudah merasa lega karena perasaannya tersampaikan.


Vino terdiam. Ia menatap kepergian Sierra.


"Aku seneng Vin.." seru Sherly yang baru saja keluar dari balik tembok.


AARGGHHHH!! teriak Vino. Ia menarik taplak meja makan sehingga semua yang disimpan diatasnya berjatuhan tak tertahankan.