
Vino membuka kedua matanya ketika terdengar suara burung bangau bersaut-sautan. Ketika menoleh kesamping, Sierra sedang menatapnya sambil tersenyum. Pemandangan yang sangat sempurna pagi ini. Ia menarik leher Sierra dan memeluk tubuhnya.
“Jangan bangun.”bisiknya.
Tadi malam adalah pesta pernikahan mereka untuk kedua kalinya. Vino dan Sierra tidak merayakan dengan mewah. Hanya teman dan keluarga dekat yang hadir. Tapi tidak mengurangi khidmat acara itu. Perasaan terharu, sedih dan bahagia campur menjadi satu. Andaikan yang pertama seperti ini, ia tidak akan menolak.
Teringat ketika Vino membawa Sierra ke rumah barunya yang sudah ia siapkan setahun yang lalu, Sierra menangis haru. Dimas benar. Ia pernah berkata jika wanita akan menangis jika diberikan kejutan berlapis. Sierra sama seperti wanita lain yang Dimas ceritakan. Ia membenci Sierra ketika merasa kesakitan dengan menangis. Tapi tangisan kali ini berbeda. Ia merasa bangga.
"Lagi mikir apa?" tanya Sierra yang sejak tadi melepaskan diri dari pelukan Vino.
"Aku lagi pikirin kamu. Ternyata buat kamu menangis semudah itu." jawab Vino sambil bangun. Ia duduk disamping Sierra.
"Ya, aku terharu semalam. Aku gak nyangka ternyata kamu cinta banget sama aku. Kalo laki-laki lain, mana mungkin mau menunggu selama dua tahun. Kamu siapin rumah ini jauh-jauh hari. Itu karena kamu mau bertanggungjawab tanpa campur tangan orangtua kita."
Vino menyandarkan kepalanya di bahu Sierra. Ia memeluknya. "Aku seneng kita pindah. Aku seneng kita menikah. Aku pikir, kamu bakal berubah gak jadi nikah sama aku. Aku pikir kamu lebih mementingkan karir kamu."
"Tadinya aku berubah pikiran, tapi liat kamu terlalu serius, aku kasian.."
"Ya, kasian terus sama aku. Biar kamu terus ada disamping aku.."
“Aku mau denger semuanya. Kenapa dulu kamu lebih milih Sherly dan sakitin aku?”
"Harusnya kamu bilang sama aku dari awal soal plagiat itu. Salah sendiri kamu diem."
"Aku gak menyangkal soal itu."
“Tapi, akhirnya kita nikah lagi dengan perasaan yang berbeda. Sekarang kita tulus.” Jawab Sierra sambil memegang tangan Vino.
“Kalo waktu itu gak ada Dimas, aku gak tau lagi kayak gimana. Waktu kamu pulang kerumah dan sakit, hati aku hancur. Waktu itu aku lagi urus semua masalah Sherly di paris. Aku gak datengin kamu, aku salah. Aku bener-bener bersalah. Aku rela ditampar berkali-kali sama mama waktu kamu minta cerai”
Sierra memeluk Vino. “Yang penting saat ini. Yang lalu jangan kita ungkit lagi.” Jawab Sierra sambil turun dari ranjang. Ia mengganti pakaiannya didepan Vino yang menatapnya bingung. “Ayo kita jalan-jalan diluar. Ini hari pertama kita pindah kerumah baru. Kita belum pernah lihat pantai di pagi hari.”
Itulah Sierra, walaupun ia pernah tersakiti olehnya dengan sangat parah, ia masih bisa melupakannya dengan cepat. Terkadang ia sendiri bingung tapi begitulah. Wanita itu adalah wanita yang paling dicintainya saat ini, nanti dan yang akan datang. Wanita yang akan membahagiakannya, wanita yang akan memberikan keturunan untuknya dan wanita yang mencintai keluarga besarnya. Ia beruntung memiliki seseorang yang mengisi hidupnya seperti Sierra.
“Ayo, jangan bengong!”ucapnya sambil berjalan menyusuri sepanjang pantai di utara kota.
Mereka berjalan sambil bergenggaman tangan dengan erat. Mereka pernah berpisah sebelumnya. Kali ini setiap kaki yang ia langkahkan ke depan, membuat mereka tidak mau kembali. Mereka akan terus maju menyongsong masa depan yang lebih indah. Berbagai tantangan akan mereka lalui selama bersama.
"Kamu bahagia?" bisik Sierra.
"Yes.."