
Vino melihat jam dindingnya. Pukul 4 pagi. Ia harus pergi sekarang. Ia keluar kamar dan berdiri didepan kamar Sierra. Ia menyimpan telapak tangannya di pintu dan berucap pelan. "Aku pergi." Ia tidak mau membangunkan istrinya. Iapun berjalan keluar dan meninggalkan rumah. Ini pertama kalinya ia pergi jauh setelah menikah.
Sierra tidak bisa tidur semalaman. Ia merasa tubuhnya lemas, menggigil dan nafasnya begitu berat. Ia tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Ketika Vino pergi, ia tahu karena ia tidak tidur. Ia sedang menangis merasakan kesakitan. Dengan sulit, Sierra menelpon ibunya.
"Ma.." ucapnya lemas.
"Ada apa sayang? Kamu baik-baik saja kan?" Tanya ibunya cemas.
"Aku sakit ma.. mama kesini sekarang ya." ucap Sierra.
Firly segera bergegas untuk pergi kerumah Sierra. Ketika ia sampai, Sierra sudah berada diruang tamu dengan piyama dan selimutnya yang tebal. Wajahnya pucat sekali.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Firly cemas.
"Aku lemas ma."
"Vino mana?"
"Vino udah pergi ke Jepang. Dia gak tahu kalau aku sakit ma. Aku gak mau Vino membatalkan perjalanan bisnisnya gara-gara aku sakit."
"Tapi dia itu suami kamu. Kamu seharusnya bilang."
"Aku dirumah mama aja ya sampai Vino pulang."
"Ya udah, ayo mama pegang biar gak jatuh." Firly membawa Sierra langsung kerumahnya. Jika tidak membaik, Sierra akan ia bawa ke rumah sakit.
"Kenapa?"tanya Dimas ketika melihat Vino gelisah. Pesawat baru saja take off menuju Tokyo.
"Sierra. Kemarin waktu aku pulang, dia gak nunjukin kalau dia sakit. Masakannya juga masih enak, malahan kita ngobrol sampai malam."
"Trus kenapa kamu cemas gitu?"
"Semalaman aku mendengar ia batuk-batuk. Aku takutnya dia gak bilang."
"Nanti pas kita sampai di Tokyo, kamu langsung telepon istri kamu dan tanyakan kabarnya."jawab Dimas bijak
Vino hanya mengangguk.
Beberapa kali Ritha masuk kekamar untuk mengecek keadaan Sierra. Badannya masih tetap menggigil. Ia merasa harus membawanya ke rumah sakit. "Sierra, ayo bangun sayang. Mama bawa kamu kerumah sakit."
Sierra membuka matanya. "Tolong jangan kasih tahu Vino ya ma. Dua hari ini dia benar-benar sibuk. Jangan diganggu "
"Iya mama tahu. Duh, kamu itu aneh. Suami sendiri gak boleh tau" Jawab Firly cepat. Iapun mencoba mengangkat Sierra dan membawanya kerumah sakit.
Firly melihat Sierra dibalik pintu. Keadaannya masih belum baik. Firly melangkah ke kamarnya dan menghubungi seseorang .
"Halo.."
"Sandra. Maaf aku ganggu." ucap Firly pelan.
"Bisa kamu ke rumah aku? Sierra lagi sakit. Aku gak bisa bujuk dia buat ke rumah sakit."
"Oh, Vino lagi ke Jepang ya? Dia tau? Sierra sakit apa? Apa dia hamil?" tanya Sandra tidak sabar.
"Bukan. Lebih baik kamu ke rumah dulu. Aku tunggu ya."
Tidak perlu waktu lama untuk Sandra datang. Ia datang bersama Erika.
"Sakit apa?" tanya Sandra cemas.
"Hamil, Tante?" tanya Erika penasaran.
"Bukan. Kayaknya dia kecapean. Dia menggigil terus. Demamnya juga belum turun-turun." jawab Firly.
Sandra dan Erika masuk ke kamar Sierra. Ia melihat Sierra berbaring dengan selimut tebal. Wajahnya pucat. Sandra langsung duduk di samping tempat tidur.
"Gimana sekarang?" tanya Sandra panik.
Erika langsung menyentuh lengan Sierra. Bagaimanapun ia pernah bekerja disalah satu rumah sakit sebagai ahli gizi. Kalau untuk memeriksa seperti saat ini, ia bisa tahu.
"Ma, kita bawa ke rumah sakit." ucap Erika.
Vino puas pada presentasinya kali ini. Pemerintah daerah kota tokyo sangat mengapresiasi design yang ia buat. Ketika mereka memuji, ia hanya ingat ucapan Sierra. Wanita itu telah membuatnya bersemangat mengerjakan proyek ini. Jika Sierra tidak mendorongnya untuk segera manyelesaikan proyek itu, semuanya akan terbengkalai. Bahkan belum selesai sampai sekarang. Ia mulai berfikir. Kehidupannya menjadi lebih baik sejak Sierra hadir di hidupnya.
"Dim, aku pulang besok pagi aja. Aku udah liat tiket pesawat. Tinggal booking. Presentasi besok gak terlalu penting. Kamu bisa sendiri." Ucap Vino sambil membereskan laptopnya.
"Baru aja dua hari pergi dari rumah, kamu udah kangen istri kamu. Pengantin baru memang kayak gitu. Cinta bertaburan. Aku juga sama waktu baru nikah" goda Dimas sambil tertawa.
"Terus aja.."Seru Vino.
"Aku senang kamu bisa melupakan Sherly"
"Dia masa lalu aku. Aku lebih senang kalo liat masa depan." jawab Vino sambil berjalan keluar dari ruang rapat.
Pesawat Vino telah sampai di bandara tepat waktu. Ia merasa bersemangat bisa pulang hari ini. Sudah dua hari ia tidak mendengarkan suara Sierra. Bukannya ia tidak mau memberi kabar padanya, tapi ia sendiri takut jika ia merindukan wanita itu.
Entah apa yang terjadi pada hatinya. Tidak terbayangkan jika ia kehilangan wanita itu. Awalnya memang ia bersalah karena telah menuduh Sierra dan ibunya tentang uang lima belas milyar itu. Namun ternyata Sierra dan ibunya bukan seperti apa yang ia bayangkan. Mereka keluarga baik-baik.
Vini sesekali menatap bungkusan ditangannya sambil tersenyum. Ketika ia di bandara tadi, ia membeli oleh-oleh untuk Sierra. Bukan barang mahal tapi Sierra pasti sangat menyukainya.
"Vino.." panggil seseorang.
Vino membalikkan tubuhnya kebelakang. Sherly tengah berdiri tak jauh darinya sambil membawa satu koper besar disampingnya. Gadis itu berjalan mendekatinya.
"I'm back, Vino. Just for you. For us. I leave my job and my dream only for you." Ucapnya manis