
Pernikahan bukan sesuatu yang salah. Semuanya nyata. Orang-orang yang menghadirinya juga nyata. Dekorasi pelaminan, dekorasi taman dan makanan semuanya nyata. Beberapa koki dan pelayan terlihat mondar mandir di sekitar acara resepsi. Ia teringat lima tahun yang lalu. Ia bukan siapa-siapa sebelumnya. Tapi kini, apa yang ia lakukan menjadi buah bibir. Ya, sejak ia mengumumkan hiatus dari dunia blogger, banyak tawaran padanya dengan bayaran fantastis. Wajahnya pun kini sudah diketahui oleh banyak orang. Beberapa diantaranya menginginkan kehidupan pribadinya di ekspos. Banyak yang ia pikirkan. Ini bukan soal uang. Tapi kenyamanan dan keamanan dalam bertindak. Ia sudah menjadi seorang istri pengusaha dimana suaminya adalah sosok yang dikenal luas di bidang pariwisata. Ia tidak mau menghancurkan semua yang sudah suaminya rintis sejak awal.
Terkadang ia berfikir. Jika saja dulu mereka tidak salah paham dan mengikuti ego masing-masing, apakah kini mereka masih tetap akan menikah? Ini bukan soal cinta. Ini soal kedewasaan seseorang. Suaminya memutuskan untuk menikahinya karena sebuah pertimbangan. Mereka berdua bahkan tidak mengatakan kata cinta. Tapi pernikahan mereka tetap berjalan sesuai rencana. Rasa patah hati karena dikhianati pernah terjadi pada mereka berdua. Namun rasa cemas, takut, dan bimbang menghampirinya beberapa hari ini. Ia takut mimpinya akan terhenti. Ia takut jika suaminya memutuskan sebuah pernikahan karena nafsu nya yang sesaat.
Untuk kesekian kalinya Erika menatap dirinya di cermin. Kini ia sudah didandani sedemikian rupa. Ia lebih cantik daripada sebelumnya. Gaunnya yang berwarna putih dan panjang menjuntai menambah kesan elegan. Pernikahan ini nyata. Berulang kali ia mengatakannya. Beberapa orang terlihat berlalu lalang dan sibuk menyiapkan sesuatu. Ia sendirian di ruang rias. Semalam ia sempat berselisih dengan Andi karena suaminya itu pergi keluar tanpa memberitahunya. Ia tidak mau mengatakan pergi kemana. Tapi hingga sekarang ia masih kesal. Sempat terpikir dalam hati, jangan-jangan Andi pergi menemui mantan-mantan pacarnya?
“Jo, ada video call dari Davi.” ucap Sandra sambil memegang handphone miliknya. Ibunya membuyarkan lamunannya.
Erika mengambil handphone itu dari tangan ibunya. Ia kemudian menjawabnya.
“Arrrrgggghhh! Bonekaku akhirnya!!” teriak Davi.
“Hai, Dav!” jawab Erika sambil tersenyum.
“Kok cemberut sih? It’s your day, Erika!”
“Semalem aku berantem sama Andi. Dia pergi dari pagi sampe malam tanpa ngasih tau aku. Dia udah gak jujur sama aku.” ucap Erika.
“Jangan marah dulu. Kemarin suami aku juga sibuk. Katanya ada masalah mendadak. Tapi karena suami kamu ada disana, jadi dipending dulu. Mungkin masalah itu.” ucap Davi.
“Dia gak pernah mau ngomong masalah pekerjaan sama aku.” jawab Erika.
“Nanti kamu tanya dia. Aku yakin soal itu. Tapi ngomong-ngomong kamu bener-bener cantik, Erika. Sayangnya aku gak bisa pulang buat liat pernikahan kalian.”
"Nanti kalo aku ke London, kamu harus sambut aku mewah." ucap Erika.
"Penthouse milik Andi itu mewah banget.. Mau aku sambut kamu juga masih kalah mewah." ucap Davi."
“Kalo gitu aku tutup teleponnya. Nanti aku telepon kamu lagi.” ucap Erika cepat ketika melihat pintu ruangannya terbuka. Ia melihat Andi yang datang. Ia sempat terdiam didepan pintu sambil menatapnya.
“Kamu masih marah sama aku?” tanya Andi ketika menghampirinya.
“Enggak. Tapi aku butuh penjelasan kamu.”jawab Erika.
Andi mendekati Erika. “Aku takut kamu gak setuju. Aku mau ngasih kabar. Entah ini baik atau buruk buat kamu. Tapi, besok kita harus pergi ke London pagi-pagi. Kamu gak apa-apa kan honeymoon kita diundur?” tanya Andi.
Erika menggelengkan kepalanya. “Aku gak keberatan. Apa kerjaan kamu se urgent itu?”
“Kalo menurut aku semuanya bisa diwakilkan. Tapi sayangnya klien aku gak mau.”
Erika menghela nafas. “Kenapa kamu gak pernah cerita masalah pekerjaan kamu sama aku?”
“Aku gak mau kamu ikut mikir tentang masalah kerjaan aku. Tapi nanti kalo kamu gak keberatan, aku pasti ngomong.”jelas Andi.
"Aku mau kamu ngomong semua masalah kamu sama aku. Aku gak mau kamu menyimpannya sendiri." ucap Erika sambil menunjuk dadanya.
"Oke, Nyonya Andi.." goda Erika.
Brak!!
Cello masuk dengan tergesa-gesa. “Kak, ada masalah.”ucapnya dengan wajah pucat.
Baik Erika maupun Andi menoleh cepat. “Masalah apa?” tanya mereka bersamaan.
“Aku gak tau. Lebih baik kalian langsung keluar.” ucao Cello.
Karena penasaran, baik Erika maupun Andi langsung berlari keluar sambil berpegangan tangan. Diluar, ia melihat tamu-tamu undangan sudah memadati taman yang menjadi tempat resepsi mereka berdua. Merekapun berbaur dengan para undangan. Terdengar tawa Cello yang tidak bisa ditahan. Andi segera menghentikan langkahnya dan menoleh pada gadis yang berprofesi sebagai perancang busana itu.