
Vino membuka laptopnya. Entah mengapa ia teringat ucapan orangtuanya untuk segera pindah dan memiliki rumah sendiri. Ia mencari lahan kosong. Ia menyukai rumah di perbukitan seperti rumah ibunya yang ia tempati sekarang. Ia ingat beberapa kali ketika dalam perjalanan pulang ke rumah, ia sering melihat tanah kosong disepanjang jalan.
"Cari apa?" Tanya Dimas ketika baru sampai. Ia melihat sahabatnya sedang serius menatap laptop didepannya.
"Lahan kosong." jawab Vino tanpa berbalik ke belakang.
"Proyek baru? Kenapa baru bilang? meeting kapan?" Seru Dimas langsung duduk disampingnya.
"Proyek pribadi. Papa sama mama minta aku dan Sierra pindah rumah."
"Pindah rumah?"Tanya Dimas bingung. Ia melihat laptop sahabatnya. "Kalau rumah baru, berarti kalian hidup sebagai suami istri sesungguhnya. Kalian akan susah dipisahkan. Lebih hebatnya lagi kalian bakal sulit buat bercerai." goda Dimas.
"Aku gak pernah berniat bercerai. Aku pikir Sierra memang ditakdirkan untuk hidup sama aku. Siapa lagi yang sanggup berumah tangga dengan pria kayak aku?"
"Sherly? Bisa saja.." jawab Dimas cuek.
"Dim, bulan depan kita ke tokyo buat meeting. Aku udah dapet jadwalnya." Vino sedang tidak ingin mendengar tentang Sherly. Ia langsung membelokkan pembicaraan.
"Ajak istri masing-masing? Kita langsung ke disneyland jepang. Sekalian honeymoon."
"Ini final proyek kita. Aku gak mau acara kita diganggu sama urusan pribadi." Jawab Vino tanpa melepaskan tatapannya pada laptop. "Lagian Sierra lagi bener-bener sibuk akhir-akhir ini."
"Sekarang kamu tahu schedule Sierra. Aku bangga ternyata kamu bisa melupakan seorang Sherly dengan cepat. Aku pikir Sherly gak bisa lepas dari otak kamu. Padahal kalian baru bertemu beberapa minggu sebelum pernikahan kan? Tapi Sierra udah bisa merubah kepribadian kamu. Asal kamu tau Vin, dulu kamu gak punya sense of humor. Kamu terlalu dingin dan kurang bicara. Kalo Sherly yang jadi istri kamu, mungkin kamu masih sama kayak Vino yang aku kenal."
Vino terdiam tanpa membantah ucapan sahabatnya.
Dimas duduk disampingnya. "Benar kan Vin? Kamu cepat sekali melupakan seorang Sherly"
Vino menghentikan tatapannya ke laptop. "Aku ketemu Sierra waktu kita meeting di Jepang beberapa bulan yang lalu. Aku ketemu dia di kedai ramen yang biasanya kita datangi itu. Cuma waktu itu kamu telepon katanya kantor kita kebakaran."
Dimas terkejut. "Kenapa kamu baru bilang?"
"Buat apa? Kami enggak kenal waktu itu."
"Tanpa sadar kamu jatuh cinta pada pandangan pertama? Jadi waktu itu Sherly memang perlahan sudah kamu lupakan. Pantesan waktu orangtua mau jodohin kamu, kamu gak nolak setelah tau calon istri kamu adalah Sierra. Aku pikir pertemuan pertama kalian disini.."
"Udah. Cukup. Aku gak mau bahas." Jawab Vino sambil berlalu. Padahal, jika Dimas tau Sierra masih marah padanya gara-gara panggilan Sherly, sahabatnya itu pasti menyalahkannya. Sama seperti dugaan awalnya. Sierra adalah wanita yang sulit memberikan maaf. Ia hampir frustasi mendapati tatapan angkuh dari istrinya itu setiap hari. Terkadang ia bingung. Dengan cara apalagi ia harus meminta maaf dan memberikan penjelasan padanya.
...***...
Sierra baru saja pulang dari ķantor ketika ibu mertuanya menghubunginya. Semalam Dimas mengatakan jika mereka akan pergi membereskan kantor barunya karena mereka akan mulai pindah beberapa hari ke depan. Ia sedikitpun tidak peduli. Selama Vino tidak memberikan penjelasan dan permintaan yang tulus, ia tidak akan memaafkannya begitu saja.
"Halo ma" jawab Sierra.
"Halo, kamu dimana?"tanya Sandra.
"Baru sampai rumah ma. Ada apa?"jawab Sierra sambil berjalan ke dapur untuk mengambil minum.
"Andi sama Ojo udah kesana buat jemput kamu. Kamu temani mama ya hari ini. Sebentar aja, setelah itu kamu menginap disini semalam. Mama nanti bilang sama Vino. Kamu gak usah khawatir."
"Iya ma. Aku siap-siap dulu." Sierra baru saja akan bersiap-siap ketika mendengar klakson mobil kakaknya telah berada diluar. Iapun tidak mengganti pakaiannya dan berlari keluar.
Erika dan Andi ternyata sudah menunggu diluar. Sierra membuka pintu mobil.
"Baru pulang ya?" tanya Erika ramah.
"Iya kak. Kalian darimana?" tanya Sierra.
"Dari dokter. Udah periksa." jawab Andi. Sesekali ia memegang perut istrinya yang sudah terlihat membesar itu.
Sierra tersenyum. "Berapa bulan kak?"
"Lima bulan."
"Rencana mau lahiran dimana kak?"
Andi menoleh pada Sierra yang duduk dibelakang. "Sebisa mungkin di rumah." jawab Andi bersemangat.
"Di rumah? Emang bisa?" tanya Sierra bingung.
"Kata dokter bayinya sehat." jawab Andi.
Sierra tersenyum. " Kak Andi semangat banget."
"Sejak tau aku hamil, yang paling bersemangat ya dia.." ucap Erika. "Eh iya, kamu udah hamil?"
Sierra menggeleng dengan cepat. "Belum..belum kak.."
"Gak apa-apa. Sabar aja. Kalo udah waktunya, kamu juga nanti hamil." ucap Erika.
Sierra hanya tersenyum mendengar ucapan Erika dan suaminya itu.
Dilain tempat. Vino dan Dimas bertemu dengan klien baru mereka disebuah dermaga pelabuhan. Vino baru kali ini mendapat proyek membuat resort. Dan kebetulan orang yang ia datangi memiliki sebuah perumahan elit didekat laut. Vino langsung terpikir untuk membuat rumah disekitar pesisir. Karena sebelum ia sampai disini, ia melihat ada perumahan baru. Sierra sepertinya tidak akan menolak untuk tinggal ditempat seperti ini.
"Aku kepikiran bikin rumah daerah sini" Ucap Vino.
Dimas terkejut. "Rumah untuk kalian?"
"Memangnya aku bikin rumah untuk siapa?"seru Vino dibalas senyuman Dimas.
"Terlalu jauh Vin, kasihan istri kamu. Kalau kecapean nanti kalian susah dapet anak." Ucap Dimas menggodanya.
Vino langsung pergi menuju mobilnya. Ia mengabaikan ucapan Dimas. Hari sudah menjelang sore. Jika ia tidak cepat-cepat pulang, kasihan Sierra seorang diri dirumahnya. Perjalanan sedikit tersendat karena saatnya orang-orang pulang kerja. Sesekali Vino melihat jam mobilnya.
Sesampainya dirumah, ia melihat lampu masih gelap. Sierra belum pulang. Ia masuk kedalam rumah dan melangkah ke dapur. Tidak ada penampakan telah terjadi kegiatan disana. Ia menatap jam dindingnya. Sudah pukul 8 malam. Iapun menghubungi kantor Sierra dan mendapati Sierra sudah pulang. Mungkin istrinya sudah berada dijalan, pikirnya.
Sebaiknya ia segera mandi. Biasanya pulang kerja Sierra langsung memasak. Ia sudah mulai merasa lapar. Ketika dijalan ia sengaja tidak makan karena ingin makan masakan Sierra. Iapun duduk didepan ruang makan agar bisa melihat langsung jika istrinya itu pulang.
Sierra merasa sangat lelah sekali. Selepas pulang kerja tadi ia mengantar ibunya bertemu dengan teman-temannya semasa sekolah. Setelah dari itu mereka melanjutkan pergi ke tempat syuting untuk bertemu dengan teman artisnya. Pada intinya ibunya ingin memamerkan menantunya pada orang-orang.
Ibunya meminta maaf karena membuat Sierra kelelahan. Tapi Sierra tidak masalah dengan itu. Jika tidak seperti itu, kapan ia dapat melihat dan merasakan ranjang milik Vino. Ya, ia kini berada dikamar Vino. Sierra sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tapi kemudian ia bangun. Ia belum mengganti pakaiannya. Iapun berjalan ke lemari milik Vino. Ia mengeluarkan satu buah kaos dari dalam lemari. Ia memakainya. Sedangkan celananya, ia pakai celana dalaman pendek karena tadi ia memakai rok. Jika kakaknya tidak pergi, ia bisa meminjam baju tidur pada kakaknya sementara. Tapi sejak ia pulang dengan ibunya, ia tidak melihat kakaknya itu ada dirumah. Ia mulai menguap. Ia benar-benar lelah.
Vino cemas karena Sierra masih belum pulang. Ia berjalan ke depan dan kembali kebelakang. Terdengar suara handphonenya berbunyi. Ibunya menelpon.
"Ya mam, kenapa?" Tanya Vino cepat. Ia tidak dapat menutupi rasa cemasnya.
"Kamu kenapa Vin?"tanya Sandda menahan tawa.
"Gakada apa-apa."
"Kamu cemas istri kamu belum pulang?"
Vini mengerutkan keningnya. "Mama tahu dimana Sierra? Aku nunggu dari tadi. Dia belum pulang juga."
"Tentu saja mama tahu. Tadi pulang kerja, istri kamu mama culik. Mama sengaja memperkenalkan menantu mama pada teman-teman."
"Lalu sekarang Sierra dimana? Dia harus cepat pulang karena aku lapar."
"Telepon saja." Jawab Sandra sambil menutup teleponnya.
Vini merasa kesal. Iapun menghubungi Sierra dengan cepat. Lama tidak diangkat.
"Halo."Jawab Sierra masih dengan mata tertutup.
"Kamu dimana?"
"Aku dikamar kamu"
Vino mengerutkan keningnya. "Kamar mana? Jangan becanda" ucapnya kesal.
"Kamar dirumah kamu. Mama gak bolehin aku pulang. Lagian kita masih musuhan. Gak usah peduli sama aku." Sierra langsung menutup matanya kembali.
"Aku lapar, Sierra. Pulang sekarang atau aku jemput."ucap Vino. Tidak terdengar jawaban Sierra. Yang terdengar hanya suara nafas Sierra yang berat. Tanpa sadar Vino tersenyum.
Tanpa banyak pikir, ia langsung membawa mobilnya kerumah ibunya. Ia menembus jalanan dengan cepat tengah malam. Ketika ia baru sampai, ibunya yang membuka pintu rumah.
"Mama kira kamu gak akan kesini. Kamu mau jemput Sierra tengah malam begini?"
Vino masuk sambil marah. "Aku lapar. Aku pikir Sierra udah pulang dan masak. Aku belum makan dari siang!"
"Kalau kamu lapar, kenapa tidak makan diluar? Banyak yang bisa kamu beli."
Vino tidak mau mendengarnya. Ia berlarimenuju kamarnya. Semakin lama ia tinggal disana, ibunya akan terus menggodanya. Ia mengetuk pintu perlahan. Sierra tidak membukanya. Ternyata
Pintu kamarnya tidak dikunci. Iamasuk kedalam dan menemukan Sierra sedang tidur dengan memakai kaos miliknya. Menggemaskan melihatnya seperti itu. Tiba-tiba matanya terbuka. Ia terkejut melihat Vino ada disana.
"Kenapa kamu datang kesini?" tanya Sierra dengan rambut berantakan.
Vini tertawa geli. Ia mengangkat tangannya untuk merapikan rambut Sierra "Tentu aja karena ini rumah aku. Aku bisa dateng kapan aja."
"Bukan. Maksudku kenapa kesini?" Tanya Sierra gelagapan.
"Aku ingin makan. Perut aku lapar Kamu masakin aku ya. Mie juga gak apa-apa" rengek Vino.
Sierra bangun dan menyadari ia hanya memakai celana super pendek dan tertutupi kaos Vino yang besar. Pahanya yang mulus terpampang didepan Vino Namun ia tidak peduli. "Aku pinjam kaosnya."Ucapnya pelan.
Vino berdeham pelan ketika melihat Sierra seperti itu. Ia merasa bergetar karena tertarik. Ia tidak pernah menyadari jika istrinya memiliki kulit semulus itu.
Sierra merasa malu ketika ditatap seperti itu oleh Vini. Ia memakai roknya dan langsung berlari keluar.
"Suami kamu itu gak pernah kayak gitu sebelumnya." Ujar Sandra ketika menghampiri Sierra di dapur. "Dia ganggu tidur kamu ya. Dasar!"
"Wajar karena aku suaminya."Seru Vino yang saat itu telah berada dibelakangnya.
"Kamu masak apa tengah malam begini?"tanya Sandra sambil melihat apa yang dikerjakan Sierra. Ia kemudian menatap Vino. "Tega kamu, istri kamu kelelahan karena mengantar mama. Lalu dia dibangunkan. Lusa dia pasti bantu kamu pindah kantor. Gimana kalo Sierra sakit?"
Vino mendesah kesal. "Sierra, jawab pertanyaan mama."
"Aku gak apa-apa ma. Udah kewajiban ku." Jawab Sierra sambil tersenyum geli melihat pertengkaran ibu dan anak itu.
Vino tersenyum bahagia. Ia menatap ibunya sambil tersenyum. Sandra mengalah dan pergi dari dapur secepatnya.
Vino menghampiri Sierra. Sedangkan Sierra langsung berbalik dan mengangkat sendok yang sedang ia pakai. "Jangan kepedean. Kita masih musuhan. Aku belum maafin kamu."
"Sherly mantan pacar aku. Berulang kali aku bilang sama kamu. Trus waktu itu aku marah sama kamu karena aku lagi ada masalah di kerjaan. Aku marah karena kamu angkat telepon itu. Padahal aku sendiri gak pernah angkat kalo dia telepon."
Sierra hanya diam. Ia membawa piring ke meja makan. Kemudian ia berniat ke kamar lagi tapi tangannya ditarik oleh Vino. "Temenin aku dulu makan."