Love Actually

Love Actually
Episode 96



Erika menatap handphonenya sambil berfikir. Setiap hari dan setiap saat ia memikirkan Vino. Ketika ia berada dirumahnya yang kini ditempati Vino, ia bertemu dengan Dimas yang sudah sangat ia kenal ketika berada di Jepang dulu. Ia mengatakan sesuatu tentang Sherly. Pertemuan terakhir mereka memang tidak terlalu baik karena pada saat itu Sherly baru saja pulang. Tapi ada yang menjadi pikirannya saat ini. Apakah Sherly dengan sengaja telah menarik ulur perasaan Vino? Ia tahu Vino belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Apalagi sifat Vino yang dingin pada wanita membuatnya ketakutan.


"Gak usah banyak pikiran, Jo.." sebuah tangan diletakkan disalah satu bahu Erika.


Erika menoleh ke sampingnya. Andi membawakan satu gelas susu untuknya. Ia mengambilnya dan mulai meminumnya. Sedangkan Andi memegang bahu Erika dengan kedua tangannya.


"Makasih." jawab Erika.


"Jangan terlalu banyak dipikirin tentang Vino." ucap Andi pelan.


Terdengar pintu kamar mereka diketuk. Keduanya salah bertatapan. Erika hanya menggelengkan kepalanya.


"Jo, kamu udah tidur? Mama pengen ngobrol sama kamu." panggil Sandra diluar kamar.


Erika berdiri diikuti oleh Andi.


"Kenapa ma?" tanya Erika.


Sandra masuk dan menutup pintu kamar itu. "Menurut kalian gimana dengan rencana mama buat menjodohkan Vino?"


"Vino belum tentu mau ma.." jawab Erika sambil duduk disisi ranjang.


"Bisa mama paksa. Daripada harus sama model itu. Mama gak setuju Jo kalo Vino harus sama wanita itu. Dia bukan calon istri yang baik."ucap Sandra menggebu-gebu.


"Memang mama mau jodohin Vino sama siapa?" tanya Andi.


"Sama anaknya Tante Firly. Mama sempet kasih tawaran sama Tante Firly. Kalo denger cerita tentang keluarganya bikin mama sedih. Mama tau gimana kehidupan Tante Firly sebelum menikah sampai akhirnya menghilang. Mama menawarkan melunasi hutang Tante Firly asalkan anaknya bisa menjadi menantu mama."


Erika tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Mama udah ketemu sama anaknya Tante Firly?"


"Kamu gak tau aja kalo mama hampir setiap hari mampir ke rumahnya yang sederhana. Mama ketemu sama Sierra. Dia baik. Apalagi katanya Sierra baru ditinggal menikah. Dia harus cepet-cepet move on, Jo."


Erika menunduk sambil mengelus perutnya. Ia dapat membayangkan bagaimana penolakan Vino pada ibunya. Jika menurut ibunya terbaik, belum tentu menurut Vino terbaik. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Iapun mengangkat kepalanya kembali dan menatap mata ibunya.


"Memang berapa hutang Tante Firly ma?" tanya Andi.


"Ya, setelah mama paksa akhirnya Tante Firly bilang berapa hutangnya. Hutangnya segini." jawab Sandra sambil mengangkat tangannya.


"150juta?" tanya Andi.


Sandra menggelengkan kepalanya. "Milyar" jawabnya


"15 milyar?" tanya Erika terkejut.


...***...


Hampir dua minggu Daniel dan Sierra merencanakan pernikahan itu. Mereka bekerja keras. Sejak pagi Sierra tidak pernah pergi dari tempat yang telah disulap menjadi taman seindah itu. Pengantin bahagia begitu pula dengannya.


"Thank, ra! We can do it now!" Ujar Daniel sambil bersiap-siap pergi. Ia memakai jaketnya. "Kamu kan baik Ra, aku pergi sekarang." ucapnya terburu-buru.


"Aku tahu pasti gini akhirnya." Jawab Sierra kecewa. Ia memegang HT milik Daniel yang sejak tadi ia pegang. Iapun masuk kembali ke tempat acara itu. Didalam, ia dicegat oleh beberapa wanita muda.


“Kak, dari Wedding Organizernya ya?” tanya salah satu dari mereka.


“Iya, ada yang bisa dibantu?" tanya Sierra ramah.


“Dress pengantinnya siapa yang design kak? Kok lucu ya. Unik..”


“Saya sendiri.” Jawab Sierra sambil tersenyum senang.


“Bisa minta nomor teleponnya?”


Suara ramai pernikahan terdengar dari luar. Vino menyimpan pensilnya kembali. Ia termenung. Iapun bangkit dari duduknya dan berjalan kebawah. Ia keluar rumah. Rasanya hari ini ia ingin istirahat dahulu.


Suasana pernikahan itu terasa berbeda. Semakin malam acara itu semakin terasa. Ia dapat melihat pengantin sedang berdansa diiringi musik romantis. Matanya menatap berkeliling. Namun ia terpaku ketika melihat seorang wanita yang nampak kelelahan. Ia berdiri didepan pintu masuk dan mengawasi acara yang ada didalam. Raut wajahnya yang serius membuatnya menjadi lebih menarik. Bukan itu saja, wajahnya masih terlihat cantik walaupun ia tahu ia lelah. Ia pikir wanita itu yang akan menikah. Ternyata bukan.


Tiba-tiba ia menoleh dan menatapnya sekilas. Lalu ia berpaling kembali karena ada seseorang yang menghampirinya. Vino terdiam ditempat. Ia ingat gadis itu. Gadis yang pernah ia lihat ketika di Jepang.


Vino tersenyum. Dunia sungguh sempit. Awalnya Ia pikir gadis itu orang Thailand karena wajahnya yang cantik. Ia harus bertanya pada Dimas dimana gadis itu tinggal. Iapun masuk kedalam dan mencari Dimas. Karena sejak pagi Dimas sibuk didalam.


"Kak, saya diutus Pa Daniel untuk melanjutkan. Kakak disuruh pulang dan istirahat aja. Biar saya disini." Ujar pria yang terlihat sangat rapi itu. Usianya masih sangat muda.


"Oke. Saya pulang sekarang."


"Kakak bawa kendaraan? Biar saya antar sampai dapat taxi."


"Tapi kan jauh Kak"


"Gak apa-apa. Saya pergi sekarang ya." Ucap Sierra sambil menyerahkan HT yang ia pegang."Saya serahkan sisanya sama kamu." tambahnya pelan.


"Oke Kak. Hati-hati."


Vino menghentikan langkahnya didekat tangga ketika ia akan menemui Dimas. Temannya itu pasti mengejeknya dan memintanya mengingat Sherly. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui Dimas dan kembali keluar untuk melihat wanita itu.


Vino berkeliling mencari gadis itu kembali tapi tidak ada. Ia menggelengkan kepalanya dan kembali. Tiba-tiba handphonenya berbunyi.


"Halo mam.." ucapnya pelan


"Vin, besok kamu harus pulang. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan. Tolong tinggalin kerjaan kamu sehari aja untuk bertemu kami." Sandra berkata dengan tegas. Ia tahu jika anaknya tidak dikatakan seperti itu, ia tidak akan datang.


"Yes, mam. Besok aku pulang."


"Siapkan jantung dan hati kamu!" Seru ibunya sambil menutup telepon.


Vino bingung. Apa yang ibunya katakan? Apakah kakaknya mengatakan sesuatu tentang Sherly?


"Biasanya kamu gak pernah segalak itu sama anak, ma" ujar Calvin, suaminya.


"Kali ini aku harus gitu pah. Anaknya Firly benar-benar cantik dan baik. Aku liat dan kenalan langsung. Vino gak boleh menolak. Mau sampai kapan dia nunggu wanita itu. Kata temen mama juga Sherly itu model yang terlalu mementingkan karir daripada kehidupan pribadinya " Sandra berkata dengan kesal.


"Aku tahu. Aku percaya sama pilihan kamu."


Ketika telepon ditutup, Vino melihat seseorang yang dicarinya dari kejauhan. Ia berjalan meninggalkan pesta dengan berjalan kaki. Vino mengikuti langkah sosok perempuan itu dibelakangnya. Suasana malam sepi. Beraninya wanita itu berjalan sendiri di jalanan yang sepi.


Wanita itu adalah Sierra. Vino tahu dari pakaiannya. Ia melihat gadis itu menjingjing tasnya. Sesekali ia terdengar menghela nafas. Vino langsung berfikir, apakah pekerjaannya seberat itu?


Tiba-tiba ia menyadari jika mereka telah berjalan begitu jauh dari pesta itu. Setelah berada diujung jalan besar, gadis itu menghentikan taxi yang melintas tepat didepannya. Vino masih tidak melepaskan tatapannya pada gadis itu. Bahkan ketika taxi itu telah berjalan begitu jauh dari tempatnya berdiri.


...***...


Firly termenung didalam kamarnya. Ia menatap beberapa billing tagihan dari berbagai bank dan koperasi. Selama ini ia selalu mengandalkan Sierra untuk membayar semua itu. Ia tidak tahu sampai kapan ia harus membayar. Setiap awal bulan ia selalu berfikir. Darimana ia bisa menutupi semua hutang-hutangnya? Ia merasa kasihan pada Sierra karena harus dibebankan pada semua hutang-hutangnya. Ia bingung. Semua hartanya sudah habis. Hanya tersisa mobil biasa milik suaminya dulu. Tapi tadi pagi ia menerima bantuan dari Sandra karena ia telah lewat masa tagihan.


Ya, hampir setiap hari Sandra menemuinya dirumah yang sederhana ini. Ia dengan senang hari mendengarkan keluh kesahnya. Dan malam ini ia merasa bersalah menerima lamaran Sandra untuk putrinya. Ia seperti menjual Sierra padanya. Padahal ia tidak ingin melakukannya, tapi Sandra bersikeras ingin mempersatukan kedua anaknya.


Tidak terasa airmata yang tidak pernah keluar setelah kematian suaminya, sekarang menetes. Ia kecewa namun semuanya telah terjadi. Tidak terlihat olehnya, Sierra sedang memperhatikannya dibalik pintu.


“Ma”panggil Sierra pelan.


Firly langsung mengelap airmatanya dengan cepat. Sayangnya terlambat. Sierra sudah tahu jika ibunya menangis.


“Ma.. kenapa?”tanya Sierra sedih.


Firly menatap Sierra sedih. Ia memegang wajahnya. “Mama minta maaf, Sierra."


Sierra menatap kertas-kertas yang dipegang ibunya. Ia tahu jika ibunya memiliki hutang yang cukup besar ke bank. Ibunya bahkan menggadaikan rumah mereka untuk meminjam uang. Kejadian dua tahun yang lalu tidak akan pernah ia lupakan. Bagaimana ia dan ibunya mencari dana yang besar untuk memulangkan jenazah ayahnya yang meninggal ketika bekerja disebuah perusahaan di Amerika.


Mereka kehilangan banyak uang karena ayahnya saat itu dirawat dirumah sakit di Amerika. Belum lagi uang kompensasi yang begitu besar.


"Kenapa mama minta maaf? Mama gak bisa bayar untuk bulan ini? Tenang ma, Sierra yang akan mencari jalan keluarnya." Ucap Sierra tegas.


Firly menggelengkan kepalanya. "Bukan itu, sayang"


"Lalu apa ma?"


"Tante Sandra sudah membayar sebagian hutang mama. Tapi, sebagai gantinya.."


Sierra menatap ibunya dan menunggu jawaban selanjutnya. Ia menatap ibunya dengan serius.


"Memang gak secara langsung. Dia meminta kamu untuk menjadi menantunya. Maafkan mama, Sierra. Mama akan mencari jalan keluarnya." Isak Firly.


Sierra terkejut namun ia berusaha tenang. Ia memegang lengan ibunya. "Gak apa-apa ma. Tante Sandra orang yang baik. Anaknya juga pasti orang baik. Uang 15 milyar bukan uang yang sedikit ma. Biar aku yang berkorban sebagai bentuk terimakasih karena Tante Sandra sudah membantu kita. Tapi, nanti kalau kita udah punya uang, kita ganti ma. Asuransi papa kan belum cair sampai sekarang."


Firly menatap nanar wajah anaknya. "Mama kesannya menjual kamu."


"Enggak ma. Tante Sandra udah terlalu baik sama kita. Apa salahnya kita membalas jasa." ucap Sierra sambil tersenyum dan iapun memeluk ibunya. Jauh dilubuk hatinya yang terdalam ia merasa kesakitan dan ketakutan. Ia tidak mengenal siapa pria yang akan dinikahkan dengannya. Jawaban yang terlalu cepat, menurutnya. Tapi, melihat kondisi ekonomi keluarganya yang begitu pas-pasan, membuatnya merasa harus melakukan sesuatu. Jika memang Yoga harus dihapus dengan cara seperti ini,ia akan melanjutkannya.


Menikah. Sebenarnya itulah yang ingin ia lakukan. Selama beberapa bulan ini ia membuat gaun pengantin sederhana untuk para pengantin dengan bayaran standar. Ia hanya menjual designnya. Selama ini ia sudah banyak membantu para calon pengantin untuk mendapatkan pernikahan yang sempurna.


Sierra tidak peduli pada perasaannya karena ia tidak yakin akan jatuh cinta untuk keduakalinya.