Love Actually

Love Actually
Pertemuan tidak terduga



Sandra parkir mobilnya di salah satu restoran yang tidak jauh dari kantor suaminya. Sudah lama ia tidak datang ke tempat ini. Ia pikir restoran ini tidak akan bertahan. Tapi ternyata sampai sekarangpun masih kokoh berdiri dengan perubahan interior yang sangat signifikan. Ia ingat Calvin sering membawanya kesini ketika ia sedang mengandung Erika dulu.


Ketika Ia melihat parkiran, mobil dan motor berderet di sepanjang bangunan sebelah kanan.. Kemudian ia melirik restorannya, didalam sedikit ramai. Mungkin karena waktunya makan siang. Ia ingat suaminya sudah memesan kursi atas nama anaknya. Ia melirik Erika. Ia terlihat tidak bersemangat. Tidak  seperti tadi ketika di rumah sakit. Ia terlihat masih memegang handphonenya.


"Jo, kenapa?" Tanya Sandra.


Erika terkejut. Ia menatap ibunya dan tersenyum. Kemudian ia melihat ke sekeliling luar. "Udah nyampe mah?"


"Kamu mikirin apa?" Tanya Sandra kembali.


Erika menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Namun firasat seorang ibu tidak bisa dibohongi. Ia menatap handphone Erika. Kemudian ia menatap wajah anaknya yang saat ini terlihat gugup. "Andi? Kenapa? Gak bisa kamu hubungi? Kamu mau kasih kabar ya soal hari ini?"


Erika tetap menggelengkan kepalanya. "Enggak kok ma."


"Mama gak bisa dibohongin, Jo! Kenapa? Andi gak bisa dihubungi? Menghindari kamu?" Selidik Sandra.


" Enggak ma, Andi lagi sibuk kerja. Tadinya aku mau nelpon, tapi aku takut ganggu dia."jelas Erika. Ia kemudian turun dari mobil dengan cepat. Ia seperti menghindari pembicaraan tentang Andi.


Sandrapun ikut turun.


Ia dan Erika berjalan masuk kedalam restoran. Dan benar saja, disana sudah cukup penuh. Banyak yang sedang makan siang. Mereka akhirnya dihampiri oleh salah satu pelayan yang sudah berjaga didepan restoran. Sandra hanya menyebutkan nama Erika dan mereka pun diantar oleh pelayan itu ke tempat yang sudah suaminya pesan.


Erika menatap sekelilingnya. Namun matanya terpaku kepada dua sosok itu. Satu pria dan satu wanita sedang bercengkrama. Tatapan Andi begitu tulus ketika melihat perempuan itu. Mereka tertawa bersama sambil memakan makanannya. Rasanya ada rongga kosong di hatinya.


"Ojo!"panggil Sandra panjang.


Erika menatap ibunya. "Ya ma.."


"Ayo, kenapa malah diem?"


"Oh ya.." jawab Erika sambil tertawa sambil melanjutkan langkahnya. Ketika ia melangkah mengikuti ibunya, tatapannya masih terpaku pada kedua sosok itu. Ia tidak tahan untuk menghampiri mereka.


"An, kayaknya tadi aku liat temen kamu. Udah dari tadi sih, cuman aku baru bilang. Soalnya aku takut salah" Ucap Jane sambil mencari sosok wanita yang tadi dilihatnya. Ia terlihat sangat berbeda. Tapi, apa benar wanita itu?


"Siapa?" Tanya Andi dengan mulut masih penuh.


"Perempuan yang kamu bawa ke tempat latihan."


Andi langsung berdiri dan melihat ke sekeliling ruangan. "Dimana? Kayaknya gak mungkin dia disini. Dia kan gak tau jalan."


"Ya, mungkin aku salah liat." Jawab Jane sambil melihat perubahan sikap Andi. Ia tersenyum sekilas.


Andipun kembali duduk dan melanjutkan makannya yang sempat terhenti tadi. Perasaannya sempat kecewa karena menyadari apa yang dikatakan Jane tidak benar. Tidak ada Ojo disini. Rasanya mustahil akan bertemu ia disini. Selama ia berada dikota ini, hanya ia yang biasa membawanya pergi. Tapi jika benar ia ada disini, dengan siapa dia datang? Andi berputar dengan pikiran yang lain-lain di kepalanya.


"Prince!" Panggil Erika dengan lengkingan khasnya.


Andi sempat tertegun melihat perubahan seorang Erika Ojo. Ia pikir gadis itu akan selamanya memakai pakaian khas harajukunya. Kali ini ia memakai dress berwarna soft dengan rambut coklat yang kemarin sempat dipamerkan padanya. Riasan tipis melekat diwajahnya yang cantik. Ia melihatnya dari atas ke bawah tanpa ia sadari. Ya Tuhan, cantik sekali.. ucapnya dalam hati.


“Ojo? Ini Ojo?” goda Andi.


Erika duduk disampingnya. Ia tersenyum pada Jane."Bukan. Ini Erika. Aku gak kenal sama yang namanya Ojo.” jawab Erika sedikit malas. Iapun tersenyum pada Jane. “Aku ganggu kalian?"


Jane menggelengkan kepalanya. "Enggak kok. Kita lagi ngomongin kerjaan."


Andi langsung memegang lengan Erika. “Jo, kamu marah ya?”


Erika langsung melepaskan tangan Andi. “Kamu sombong banget. Aku telepon susah. Sekalinya nyambung gak pernah diangkat.” Protes Erika.


"Maaf. Aku lagi sibuk banget. Sekarang kamu lagi apa kesini? Sama siapa?”


Erika melirik. "Bukan urusan kamu!" Jawabnya ketus.


Andi langsung memeluk Erika didepan Jane. "Kamu beneran marah ya? Aku emang liat dari malem kamu telepon aku. Maaf, aku sama Jane pergi nonton."


Erika melepaskan tangan Andi dengan cepat. Ia menatap Jane. "Jane, dia gak nyebelin kan?" Tanyanya.


Jane tersenyum. "Enggak kok."


"Baguslah." Jawab Erika sambil berdiri. "Kalo gitu aku pergi dulu. Mama sama papa lagi nunggu disana. Aku cuma mau nyapa kalian aja. Tadi aku liat kalian disini. Jadi aku samperin kalian." jelas Erika


"Om Calvin sama Tante Sandra ada?" Tanya Andi.


Erika tidak menjawabnya. Ia langsung berjalan menjauhi Andi dan berbisik pada Jane. “Hati-hati ya Jane. Aku tau kamu paling lama kenal sama Andi. Tapi gak akan selamanya sifat manusia itu sama. Bye!” Ucap Erika sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.


Andi menatap Jane. "Kayaknya dia marah banget sama aku, Jane."


Jane mengangguk sambil tertawa melihat kekonyolan kedua orang didepannya.


"Kalo gitu kita cepet bahas dokumen tadi. Aku jadi gak enak mau lanjutin makan. Kamu makan aja selama aku jelasin semuanya. Aku harus cepet-cepet nyamperin mereka. Nyawa aku bisa terancam kalo sampe mama tau aku gak nyamperin mereka.” Ucap Andi.


Jane menutup sendok dan garpunya. Ia membereskan beberapa dokumen di meja. “Kita tutup sekarang aja. Daripada kamu gak tenang. Dokumennya biar aku ambil. Nanti aku pelajari di kantor. Kalo ada yang harus aku tanyain, nanti aku telepon kamu.”


“Jane, kamu emang bener-bener baik. Gak salah aku..” ucap Andi terpotong.


“Kenapa? Gak salah apa?”


Andi menggeleng dengan cepat. “Enggak. Nanti aja kalo udah waktunya.” jawab nya sambil berdiri. Ia membereskan dokumen miliknya dan menyerahkannya pada Jane. “Kalo gitu aku pergi dulu.”


Jane mengangguk sambil tersenyum. Ia melihat kepergian Andi dengan cepat.