Love Actually

Love Actually
Bad day



Erika melihat ayahnya malam ini sedang duduk di kursi taman belakang seorang diri. Malam ini pula ia memutuskan untuk tidur semalam di rumah orangtuanya. Berada di rumah membuat hatinya nyaman. Ia tidak mau pengalaman pahit hari ini membuatnya terus teringat. Berulang kali ia menghubungi rumah sakit untuk menanyakan kabar terbaru pasien laki-laki yang keracunan makanan tadi.


"Kamu udah bisa tenang, Erika. Pasien udah sadar. Dia baik-baik aja." ujar salah seorang temannya.


Ia kembali menatap wajah ayahnya yang sedang sendirian. Tiba-tiba pintu diketuk. Ia menoleh untuk melihat siapa yang mengetuk pintu. Kemungkinan adiknya. Tatapannya terpaku pada daun pintu yang tertutup rapat itu. Iapun menghampiri dan membukanya. Ia melihat ibunya sedang menunggunya.


"Kenapa ma?" tanya Erika.


"Enggak. Mama cuma mau ngobrol aja." jawab Sandra sambil duduk diatas kursi.


Erika menutup pintu dan menghampiri ibunya. Ia yakin ibunya akan menanyakan tentang kejadian hari ini. Ketika di meja makan tadi ia terus menatapnya. Iapun duduk di atas ranjang.


"Kamu sama Bumi berantem?" tanya Sandra.


Erika menunduk sambil memainkan tangannya.


"Mama denger tadi pertengkaran kalian waktu mama di beranda apartemen kamu. Apa gara-gara Vino?"


"Ma, aku cuma minta penjelasan kenapa dia bilang ucapan itu ke Vino. Tapi dia gak mau ngaku. Mana mungkin Vino tiba-tiba gak suka sama orang."


"Dia tetep gak ngasih penjelasan?" tanya Sandra.


"Enggak."


"Trus wajah kamu kenapa merah? Kamu ditampar?" selidik Sandra.


Erika memegang pipinya. Sudah tidak sakit, tapi ketika melihat dirinya di cermin tadi, guratan merah masih terlihat walau tidak sejelas tadi sore.


"Ya, aku salah ma. Karena gak konsentrasi, aku salah kasih makanan ke pasien. Akibatnya, salah satu pasien keracunan makanan. Istri dari pasien itu tadi dateng ke ruangan aku dengan ancaman gak akan biarin aku hidup bebas kalau sampe suaminya meninggal." ucap Erika pelan.


"Jo, kalau suatu hari kamu meninggalkan profesi kamu ini, apa kamu siap?" tanya Sandra hati-hati.


Erika terdiam. Ia menundukkan kepalanya.


"Hubungan kamu sama Bumi lama-lama pasti tercium sama media. Belum lagi fans nya Bumi. Belum tentu jalan kamu mudah. Enggak semua fans akan menerima kamu dengan mudah. Mama gak mau kamu mengalami kejadian yang gak enak. Mama pernah mengalaminya waktu muda dulu. Semuanya serba gak enak. Jadi, mama pikir kamu harus berfikir ulang berhubungan sama Bumi."


"Aku tau ma. Dari awal aku udah bilang kalo aku siap menanggung resiko dari apa yang udah aku lakukan." ucap Erika.


"Aku sempet bilang kalo laki-laki itu bukan orang baik. Sekali-kali kamu harus liat berita tentang laki-laki itu kak!" ucap Vino yang berjalan masuk kedalam kamar.


"Dari awal hubungan, aku gak mau liat berita tentang Bumi." jawab Erika. "Maaf kakak salah. Tapi kakak akan buat kamu berubah pikiran tentang Bumi. Bumi bukan laki-laki yang seperti kamu pikirkan." tambahnya.


Sandra menatap Erika lama.


"Kamu udah hubungi Andi?"


Erika menatap ibunya dan menggelengkan kepalanya.


Andi duduk di kursi tunggu yang ada di ruangan ayahnya. Ayahnya masih belum sadar. Padahal dokter mengatakan jika keadaan ayahnya sudah sedikit membaik.


Ibunya sedang mengambil makanan untuk makan malam nanti dari hotel tempatnya menginap. Kali ini ia berjaga seorang diri. Suara monitor yang mengontrol keadaan ayahnya berbunyi stabil. Sudah beberapa hari ia berada di rumah sakit. Semua pekerjaannya terganggu.


Ingin sekali ia membawa ayahnya pulang jika sudah sadar. Peralatan kedokteran di negaranya tidak kalah canggih. Ibunya yang seorang dokter bisa menjaganya. Lalu tentang pekerjaan ayahnya, ia sudah memikirkannya tadi malam. Ia yakin bisa melaluinya dengan mudah.


Ia merasakan handphonenya bergetar. Nomor telepon yang sempat ia blok menghubunginya. Iapun berjalan keluar.


Ia menarik nafas perlahan. "Halo.."


"Prince.." panggil Erika dengan nada hati-hati.


"Ya" jawab Andi pelan. Sudah lama ia tidak mendengar panggilan itu dari seorang Ojo.


"Aku cemas sama kondisi Om Dave. Apa dia udah sadar?" tanya Erika lembut. Ia berkata masih dengan penuh hati-hati.


"Masih belum sadar. Thank you buat perhatian kamu." jawab Andi pelan.


"Prince, hati-hati ya kamu disana. Kamu tau kalo aku juga cemas sama kamu. Mudah-mudahan kamu kuat. Aku mendukung keputusan kamu apapun itu. Aku ada saat kamu butuhkan. Mari kita berteman lagi. Kita lupakan kejadian kita yang gak enak kemarin-kemarin."


"Thank you. Tapi, semuanya gak akan mudah, Erika. Lebih baik kita gak usah berteman. Kita cukup kenal saja satu sama lain. Aku tutup dulu teleponnya. Bye!" ucap Andi sambil menutup teleponnya.


Erika menatap handphonenya lama. Ia terdiam. Jawaban Andi dingin. Rasanya aneh. Ia bukan berbicara dengan Andi. Itu orang lain yang mengangkat telepon darinya. Padahal ia ingin berhubungan baik lagi dengan Andi. Ia dapat merasakan penderitaan Andi. Ia cemas pada kondisi Andi. Ia juga dapat merasakan sakit yang Andi rasakan. Jika bisa, ia ingin mendengarkan semua keluh kesah Andi dan berbagi bersama. Ia tidak peduli dengan hubungan Andi dengan Jane.


Ia mengabaikan egonya dengan menghubungi Andi terlebih dahulu. Ia mengabaikan rasa malunya ketika memanggil nama pria itu dengan panggilan kesayangan. Rasanya semua yang dilakukannya tidak sebanding dengan apa yang diterimanya malam ini. Ia mengangkat tangan dan menutup wajahnya. Ia ingin malam ini mendapatkan sesuatu yang baik. Tapi kenapa semuanya tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya?


Handphonenya kembali berbunyi. Ia pikir Andi yang menghubunginya. Namun ternyata Bumi. Iapun mengangkatnya.


"Halo.."


"Sayang, aku minta maaf" ucap Bumi.