
Erika mendengar orang-orang begitu ramai disekitarnya. Ia sesekali melirik pria disampingnya. Ia tidak berkata apa-apa. Tiba-tiba Andi berhenti.
“Aku inget ucapan kamu semalam.” ucap Andi.
Erika berhenti berjalan dan melihat Andi yang sedang menatapnya.
“Kenapa?”
“Jo, kalo kita menikah aja gimana? Kamu mau?”
Erika tak kuasa menahan untuk tidak tertawa. Tapi ia menyerah, ia tertawa. “Kamu jangan becanda, prince! Menikah itu bukan sesuatu yang bisa kita mainkan.”
Andi berdecak sedikit kesal. “Aku gak becanda. Apa kamu liat aku ketawa? Aku serius Jo!” ucapnya sambil menghampirinya. Ia menarik lengan Erika dan duduk di bangku panjang yang disediakan di bandara. “Gini loh, aku pernah sakit hati karena dikhianati. Kamu juga sama. Pernah sakit karena dikhianati. Kita berdua udah cukup matang buat menikah. Keluarga kita udah deket banget. Kamu udah tau aku, aku juga udah tau kamu. Apalagi coba yang kurang?”
“Gak ada perempuan lain?” tanya Erika.
“Kalo didepan aku ada yang sempurna kayak kamu, ngapain aku nyari perempuan lain? Lagian aku males nyari perempuan yang cocok sama aku.” jawab Andi sedikit frustasi.
Erika menyunggingkan senyumannya. Andi terlalu jujur pada perasaannya. Ia tidak merasakan bagaimana seorang Erika Ojo dipuji seperti itu. Tanpa sadar ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Kenapa Jo? Kamu gak mau?”
“Bukannya gitu..”
“Ya udah berarti kamu mau. Yuk kita ke rumah. Aku mau ngobrol sama orangtua kamu.” ucap Andi. Ia berdiri dan menarik lengan Erika.
Entah apa yang ada dipikiran Andi. Ia memutuskan masa depannya dalam waktu satu malam. Ia melihat tangan Andi yang terus memegang lengannya. Sesampainya di parkiran mobil, Andi membukakan pintu mobil. Ia menatap Erika dengan tajam.
“Melamar kok gak ada romantisnya dikit pun.” bisik Erika.
Wajah Andi mendekati wajah Erika. “Mau aku cium kamu biar jadi romantis?” goda Andi.
Erika mengangkat kedua tangannya untuk menutup wajah Andi. “Gak kayak gitu juga..” elaknya sambil masuk kedalam mobil. Ia merasa malu.
Andi tersenyum dan naik ke kursi disampingnya.
“Besok aku pulang ke Jepang.” ucap Erika tiba-tiba.
Andi melepaskan tangannya dari kemudi. Ia menatap Erika dengan tanda tanya besar. “Gak bisa. Enak aja. Aku baru lamar kamu hari ini. Kita harus persiapin semuanya. Gak ada Jepang lagi dalam hidup kamu Jo untuk saat ini. Kita harus persiapan dulu. Setelah itu baru kamu pikirin Jepang.”
“Aku udah beli tiket.” ucap Erika.
“Mana tiket kamu? Aku sobek-sobek biar kamu gak bisa ke Jepang.”
Erika tertawa ringan. Baru kali ini ia melihat Andi seperti ini. Apakah lima tahun cukup membuat seseorang menjadi orang yang berbeda? Entahlah.. Ia merasakan sedang bermimpi pagi ini. Menikah? Ia bahkan tidak pernah terpikir akan menikah dengan pria yang pernah mengisi hatinya lima tahun lalu.
Ya, keputusannya untuk menikah dengan Ojo sudah tepat. Ia tidak pernah seserius ini. Semalam ia berfikir. Apalagi yang akan mereka tunggu? Seperti yang tadi ia ungkapkan pada wanita disampingnya. Usia mereka sudah cukup matang. Lalu soal perasaan? Banyak pria dan wanita yang menikah tanpa cinta pada awalnya. Tapi seiring berjalannya waktu,mereka bisa saling mencintai. Bahkan bisa tanpa rintangan.
“Prince, kayaknya kita harus kumpulin semua. Orangtua kita.” ucap Erika dan dibalas anggukan Andi.
Dilain tempat.
Vino menatap jam dindingnya. Sudah pukul 2 siang tapi kakaknya belum muncul. Tadi pagi setelah perkelahian mereka, ia menyadari jika kakaknya tidak bisa terus ada disampingnya. Ia berdiri dan membuka pintu ruangannya tapi Dimas sudah ada didepannya.
“Kenapa?” tanya Dimas ketika melihat temannya terlihat terburu-buru.
“Aku lagi nunggu Kak Ojo.” jawab Vino yang melangkah kembali kedalam ruangannya. Ia duduk di kursi kerjanya.
“Telepon aja. Apa susahnya..”
Vino menatap Dimas dan menghubungi Erika. Beberapa nada tersambung tapi tidak terangkat. Tiba-tiba pintu terbuka kembali. Ayahnya muncul.
“Enggak biasanya ajak aku pah?” tanya Vino bingung.
“Barusan kakak kamu telepon. Katanya ada acara dirumah Om Dave. Papa belum sempet telepon Om Dave, jadi kita langsung kesana aja.”
Vino mengangguk.
“Tuh kan, kakak kamu baik-baik aja. Buktinya telepon papa kamu.” ucap Dimas.
“Ya..”
Alena tengah menyiapkan meja diteras belakanya beberapa makanan dan minuman yang sudah dipesan Andi. Ia tidak tahu ada apa, tapi Andi hanya mengatakan akan ada pesta kecil dirumahnya. Terkadang Andi memang suka memberikan surprise padanya. Entah Surprise apa kali ini. Ia tidak mau menerka-nerka. Beberapa pembantu yang membantunya tampak kewalahan. Terdengar suara Clara dan Cello dari pintu depan.
“Akhirnya bantuan datang.” Ucap Alena
Clara dan Cello datang bersamaan. Mereka tampak kompak dengan pakaian denimnya. Clara menghampiri Alena. “Ada apa kak? Kenapa si Prince kelakuannya suka aneh? Dia ngadain acara dadakan gini. Bikin orangtua susah.” umpat Clara.
Alena tersenyum. “Aku juga gak tau.”
“Mungkin aku tau ma.. Mungkin Kak Andi ngehamilin perempuan?” goda Cello
“Husss!” jawab Clara.
“Apa selama di London dia deket sama perempuan?” tanya Alena serius.
“Gak ada sama sekali ma..” jawab Cello pada Alena.
Terdengar kembali suara bell pintu berbunyi. Kali ini Sandra yang datang. “Ada apa sih?” tanya Sandra.
Alena mengerutkan keningnya. “Kamu juga dateng? Siapa yang undang?”
“Ojo yang bilang kalo disini ada acara kecil. Makanya aku langsung kesini.” jawab Sandra.
Clara duduk di kursi yang sudah disediakan. “Aku curiga sama anak kalian. Jangan-jangan ada apa-apa. Mungkin mereka pacaran.”
“Itu lebih baik. Hal yang aku tunggu-tunggu kalo akhirnya mereka pacaran.” jawab Alena.
“Prince, aku deg-degan.” ucap Erika ketika mereka berada diperjalanan menuju rumah Andi.
Andi memegang tangan Erika. “Kita maju bersama. Kita gak ngelakuin yang salah kok. Aku gak hamilin kamu. Niat aku baik.”
“Apa mungkin mereka kaget?” tanya Erika
Andi tersenyum. Ia membayangkan wajah ibunya jika mengetahui hal ini. “Mungkin. Kamu tenang aja. Mereka pasti seneng kok.” jawab Andi menenangkan.
Mobil merekapun sampai didepan rumah Andi. Ia melihat sudah ada tiga mobil berjejer didepan halamannya. Andi keluar terlebih dahulu. Kemudian ia membuka pintu dimana Erika duduk. Ia melihat Erika gugup.
“Gak usah gugup. Udah aku bilang mereka bakal seneng kok.” ucap Andi.
Erika turun dibantu Andi. Mereka berdua masuk kedalam rumah sambil bergenggaman tangan. Suara halaman belakang rumahnya tampak ramai. Andi tersenyum. Begitu mudahnya menyatukan tiga keluarga. Ia senang dapat memberikan kabar baik ini.
“Ma.. Kita pulang.” ucap Andi.
Semua orang melihat Andi dan Erika sambil mengerutkan keningnya. Terutama Alena. Ia berada pada keadaan dimana orang seperti sedang berhalusinasi ketika melihat Andi dan Erika sedang bergenggaman tangan. Ada apa ini? Tolong, ada apa ini?
Andi menghampiri semuanya. Ia menatap kedua orangtuanya dan orangtua Erika.
“Ma.. pah.. tante sandra.. om calvin..” ucap Andi. Tanpa sadar jantungnya berdegup begitu kencang. Ia bahkan merasakan tangan wanita disampingnya begitu dingin. “Ijinkan aku, Prince Andi untuk menikahi Erika Ojo tahun ini. Lebih cepat lebih baik.”