
Andi sedang menunggu meeting yang sebelumnya harus diundur. Detak jam dinding di ruangannya terdengar semakin keras. Ia melihatnya. Jam 1 siang. Ia membuka laptopnya sambil menunggu telepon dari sekretaris ayahnya.
Wajah wanita itu terlihat jelas diantara banyaknya pengunjung. Ia memfotonya secara diam-diam. Ia tersenyum. Jika saatnya sudah tepat, ia akan segera melakukannya. Terakhir kali ia bertemu dengannya, rasanya waktu begitu cepat. Ia belum puas menatap paras cantik wanita itu. Ia mengangkat jari-jarinya dan menyentuh layar laptopnya hanya untuk menyentuh wajah itu.
Tiba-tiba suara handphone mengejutkannya. Ia menutup laptop dengan cepat. Ia melihatnya. Erika menghubunginya.
"Jo, dimana?" Jawabnya cepat.
"Aku lagi sama mama di mall. Kamu udah makan siang belum?" Tanya Erika.
"Udah. Kenapa? Kamu mau ajak aku makan kemana?"
"Aku cuma mau pamer. Aku dari salon!" Seru Erika.
"Salon? Kamu ke salon?" tanya Andi sambil menahan tawanya.
"Coba video call. Aku butuh pendapat kamu."
Andi langsung merubah posisi kameranya.
"Hai, prince!" Teriak Erika sambil melambaikan tangannya.
Andi mengerutkan keningnya. "Ojo? Rambut kamu diapain?"
"Bagus kan?" Tanya Erika sambil menggoyangkan rambutnya.
Andi terdiam. Tidak dapat dipungkiri, Erika semakin cantik. Tapi kenapa Erika mau berubah? Apa gara-gara ucapan teman-temannya? Padahal menurutnya Erika cukup jadi dirinya sendiri. Ia sudah cukup cantik.
"Prince!" Panggil Erika manja.
Andi tersenyum. "Bagus kok. Jadi lebih cantik."
"Jadi malam ini mau ketemu?"
"Malam ini kayaknya aku gak bisa. Nanti aku kabarin lagi."
Erika sedikit cemberut tapi kemudian ia tersenyum. "Oke lah. Aku tutup sekarang ya, aku mau makan dulu! Bye!" Ucapnya sambil melambaikan tangannya.
Pintu ruangannya tiba-tiba diketuk. Sekretaris ayahnya muncul. "Meeting 10 menit lagi." Ucapnya.
Andi langsung berdiri. Ia berjalan keluar dan masuk kedalam ruang meeting. Ayahnya sudah berada disana. Dan beberapa orang klien mereka. Ia terkejut ketika melihat Jane ada diantara mereka.
"Jane?"
"Andi? Kamu kerja disini?" Tanya Jane sambil tertawa.
Dave melihat kedekatan keduanya. Ia berdeham. "Kita mulai meeting sekarang."
Andi langsung duduk disamping ayahnya. Ia mendengar penjelasan demi penjelasan yang sedang diucapkan ayahnya. Tinggal menunggu ia yang menjelaskan. Ia sedikit gugup karena Jane ada disana. Ia tidak menyangka Jane adalah klien mereka. Ketika akhirnya bagiannya untuk menjelaskan, Andipun berdiri. Ia akan mengerahkan segala kemampuannya agar ia bisa dibanggakan didepan ayahnya. Apalagi sekarang ia menjelaskan didepan Jane.
"Aku gak nyangka kamu salah satu pimpinan disini." Ucap Jane ketika mereka mulai keluar dari ruangan. Andi akan mengantar Jane sampai pintu keluar lobi.
Andi tertawa. "Aku bantuin papa. Lagian anak papa cuma aku aja. Kalo bukan aku siapa lagi yang nerusin."
Jane ikut tertawa. " Penjelasan kamu tadi keren. Gak di lapangan, gak di kantor, kamu emang jago. Aku suka. Aku bangga sama kamu."
Andi tersenyum malu. "Jane, nanti malem nonton yuk! Kamu pulang jam berapa?"
"Boleh, kebetulan aku gak kemana-mana malam ini."
Yes! Ucap Andi dalam hati.
Ditempat lain.
Erika dan Sandra masih memilih baju untuk mereka. Entah harus berapa kantong belanja lagi yang harus Erika bawa. Ia keluar masuk toko pakaian hanya untuk membeli pakaian untuknya. Dan semuanya dipilihkan ibunya. Ia tidak memilihnya sama sekali.
"Ma, udah cukup. Aku capek. Kita udah berapa jam keluar masuk toko. Sekarang udah sore, aku udah capek." Rengek Erika.
"Belum. Kamu belum beli sepatu, sandal, aksesoris." Ucap Sandra.
Sandra menoleh pada Erika. "Kamu janjian sama Andi?"
Erika menggelengkan kepalanya. "Enggak. Kayaknya sih enggak."
"Tumben. Biasanya setiap malem kalian keluar." Jawab Sandra.
Erika terdiam. Jadi sebenarnya apa yang dilakukan Andi malam ini?
\*\*\*\*
Alena mengerutkan keningnya ketika ia melihat Andi keluar dengan setelan rapi. Wangi parfumnya terasa hingga hidungnya. Padahal mereka berjarak beberapa meter. Andi pun sedang bersiul.
"Mau kemana, prince? Harum banget." Goda Alena.
Andi menoleh pada ibunya. Mengingat ucapan ibunya tentang perjodohan itu, ia masih sedikit kesal. "Andi mau kumpul sama temen-temen ma."
"Sama Erika?"
"Gak selalu semua acara Andi melibatkan Ojo. Please mama berhenti buat jodohin Andi sama Ojo! Kita cukup jadi temen." Protes Andi sambil berjalan keluar.
Alena menggelengkan kepalanya. Ia tidak berharap mendapatkan jawaban itu dari anaknya. Ia menghela nafas. Ia marah. Namun ia harus bersabar dan menunggu.
Andi membawa mobilnya tepat didepan rumah Jane. Ternyata Jane sudah menunggu didepan rumahnya. Ia menggunakan dress seperti biasa. Rambut Jane diikat kuda, ia masih terlihat anggun. Impiannya membawa Jane pergi keluar tercapai hari ini. Tapi ia akan bersabar dahulu. Ia tidak mau terburu-buru.
Jane masuk kedalam mobil Andi. "Kita mau nonton apa?"
"Aku udah beli tiketnya. Film action sih, tapi kamu juga pasti suka. Tiga tahun aku kenal sama kamu. Aku udah tau kesukaan kamu apa." Jawab Andi.
Jane hanya tersipu malu.
Tiba-tiba suara handphone mengganggunya. Andi melihat siapa yang menghubunginya. Ia langsung mematikannya.
"Siapa? Kenapa gak kamu angkat?" Tanya Jane.
"Gak penting." Jawab Andi cepat.
Jane hanya tersenyum. "Oh iya, hubungan kamu sama Erika itu gimana sih? Keliatannya kalian deket."
"Kita deket karena orangtua kita temenan dari jaman belum nikah. Hubungan kita gak lebih dari temen kok. Dia enak diajak ngobrol. Waktu dia baru dateng kesini, papanya minta aku sering temenin dia karena dia disini gak punya temen." Jelas Andi.
Jane mengangguk. "Erika itu cantik loh. Dia unik."
"Ya, aku setuju."
Erika menatap handphonenya yang baru saja direject oleh Andi. Ia menunggu Andi memberinya kabar soal malam ini, tapi ia tidak memberi kabar. Iapun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju taman belakang. Ternyata ibu dan ayahnya ada disana. Iapun menghampiri mereka.
Ibu dan ayahnya terdiam. Mereka tampak menikmati malam.
"Ma, pa, lagi apa?"
Sandra membuka matanya. "Kamu dengerin deh suara serangga ini. Waktu di Jepang, kita mana bisa denger suara gini. Mama sama papa lagi menikmati suasana malam."
Erika pun duduk diantara keduanya.
Calvin membuka matanya. Ia memeluk Erika. "Kenapa gak keluar?"
"Andi lagi sibuk pah. Gak ada yang ajak main malam ini." Jawab Erika cemberut.
"Kalo Andi sibuk, ya udah disini aja sama kita."
Tiba-tiba Sandra teringat sesuatu. "Jo, mama tadi dapet telepon dari Tante Alena. Kamu mau kerja kan? Salah satu rumah sakit tempat Tante Alena kerja dulu butuh pengawas makanan bergizi buat para pasien. Cuma agak jauh dari sini. Kita memang mau pindah dari rumah disini. Tapi kita butuh waktu lama buat persiapan."
"Aku mau ma.." Jawab Erika senang.
Iapun mengikuti kedua orangtuanya untuk merasakan keheningan malam. Tapi rasanya aneh. Ia merasa kosong malam ini. Prince tidak mengangkat telepon darinya. Pria itu pun tidak menghubunginya. Ia merasa kesepian malam ini. Apa ia sudah bergantung pada pria itu? Bagaimana jika malam ini Prince sedang bersenang-senang dengan Jane? Ia menggelengkan kepalanya. Kenapa ia tiba-tiba berfikir seperti itu? Ada apa dengan hatinya? Kenapa ia merasa sakit? Lalu kenapa ada airmata di pelupuk matanya? Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Apakah ia jatuh cinta pada Prince?