
Davi, seorang wanita muda dan mandiri duduk diantara para pengunjung restoran kedua orangtuanya. Ia sedang menunggu sahabatnya yang tak kunjung datang. Ia melihat beberapa orang masuk untuk makan siang.
Walaupun ia dan Erika berjauhan, tapi mereka sering sharing tentang pakaian yang sedang ramai dibahas. Jika dibandingkan dengan Erika. tubuhnya tidak terlalu tinggi. Ia hanya memiliki tinggi badan sekitar 160 cm. Keinginannya menjadi designer waktu itu ditentang oleh kedua orang tuanya sehingga terpaksa ia menyalurkan hobinya pada Erika. Lagipula wajah Erika cantik. Ia pantas memakai pakaian apa saja.
Ia mengaduk minumannya pelan. Pernikahannya akan dilakukan hanya dalam waktu beberapa hari lagi. Dan saat itu pula ia harus pindah dari kota ini. Menyedihkan harus meninggalkan semuanya. Tapi demi suaminya nanti yang bekerja diluar negeri, ia akan melakukan apapun. Hubungannya dengan calon suaminya sudah terjalin sangat lama.
Kemarin ia sudah mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Ia mulai fokus dalam menghadapi pernikahan.
"Davi!" Panggi seseorang.
Davi menoleh untuk melihat seseorang yang memanggilnya. Erika berjalan menghampirinya. Panggilannya bahkan membuat orang-orang disekitarnya penasaran. Ia tak kuasa untuk memberikan penilaian atas apa yang dipakai Erika siang ini. Seperti biasa. Erika memakai dress berwarna biru soft dengan lengan terbuka. Hanya saja ada kain tipis yang menutupi bahunya. Tapi tetap saja kulit bahunya terlihat putih. Iapun melirik kebawah. Ia memakai high heels berwarna senada.
Davi menggelengkan kepalanya dan mengangkat tangannya. Ia memegang tangan Erika.
"The best banget ! Kamu cantik. Aku mau kamu jadi bridesmaid aku nanti." ucap Davi.
"No. Please, aku gak mau." ucap Erika sambil duduk disampingnya.
"Emang kenapa?" tanya Davi.
"Aku gak mau jadi perhatian. Kamu tau sendiri kenapa.." jawab Erika.
Davi mengangguk mengerti. "Kamu belum kenalan kan sama calon suami aku? Nanti aku kenalin. Sebenernya selama ini dia belum tau kalo aku punya sahabat kayak kamu."
"Oke, siapa takut." ucap Erika.
"Aku harap setelah aku menikah nanti, kamu menyusul. Aku gak mau liat kamu melakukan semua sendiri. Kamu mau aku kenalin sama temen aku?" tanya Davi bersemangat.
Belum menjawab pertanyaan Davi, seseorang datang di belakang Davi. Ia memegang bahu sahabatnya itu.
"Ini temen kamu?" tanya pria itu.
Davi menoleh ke belakang. Ia tersenyum. "Iya sayang. Kalian baru ketemu kan? Kenalin, ini sahabat aku yang baru dateng dari Jepang. Namanya Erika Ojo." jawab Davi.
"Erika Ojo? Kayaknya aku pernah denger nama itu." jawab laki-laki bernama Viar itu. Ia kemudian mengajak Erika bersalaman. "Halo, aku Viar. Calon suami Davi." ucapnya.
Viar duduk disamping Davi. Ia memegang tangan wanita itu. "Sejak kapan kamu punya sahabat cantik kayak gini? Kenapa aku baru tau?" goda Viar.
"Sengaja gak kasih tau kamu. Bisa-bisa kamu gagal nikahin aku. Aku udah nunggu kamu lima tahun. Inget itu, sayang." ucap Davi.
Erika langsung tertawa ketika mendengarnya. "Kalian emang pasangan lucu. Aku gak nyangka ucapan gitu gak bikin kalian tersinggung."
"Dia mau punya pacar lagi juga gak apa-apa kok, asal jangan ketauan aja sama aku. Kalo ketauan, aku udah cakar muka perempuannya. Liatin aja.." jawab Davi.
"Sebentar. Ngomongnya kok jadi ngawur. Gini sayang, kita bisa kenalin sahabat kamu ini ke boss aku. Dia juga kebetulan lagi jomblo. Gimana?" tanya viar.
"Nah, pertanyaan itu yang tadi aku tanyain ke Erika. Bossnya Viar itu bisa dibilang crazy rich. Yang penting kalian kenal dulu aja.." ucap davi.
"Stop, kalo kalian ngomong ini lagi, aku gak akan dateng ke acara kalian." ancam Erika.
Viar tersenyum. Sikap perempuan didepannya mirip sekali dengan sikap boss nya. Seandainya mereka bertemu nanti di resepsi pernikahan mereka, bagaimana boss nya yang dingin pada wanita itu akan bereaksi. Melihat sosok Erika, sepertinya ia adalah kandidat terkuat untuk menjadi kekasih bossnya.
Andi menggosok hidungnya beberapa kali. Ia terus-terusan bersin sejak setengah jam yang lalu. Ia yakin ada yang sedang membicarakannya. Ia menatap tiketnya yang ada ditangan. Ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya di London dan segera terbang ke Indonesia saat ia mendengar tiketnya bisa di refund.
Ibunya pasti akan senang melihat kedatangannya yang cepat. Akhirnya ia pulang. Ia akan mengajak ibunya berlibur ketika ia berada di Indonesia nanti. Saat ini ia harus menghubungi Cello untuk menjemputnya sesampainya ia tiba di bandara.
"Iya kak.." jawab Cello dengan nada riangnya.
"Kakak di bandara. Kakak pulang sekarang. Nanti kalo udah nyampe kakak minta dijemput sama kamu. Jangan sampe mama tau kakak pulang cepet. Kakak mau tinggal di hotel dulu sebelum pulang ke rumah." jelas andi.
"Kakak pulang bawa Putri Inggris?" goda Cello.
"Kakak bawa kerajaannya." jawab Andi sambil menutup teleponnya. Berbicara dengan sepupunya memang biasa menguras adrenalinnya.
Ia kemudian masuk ke sebuah ruangan untuk merokok. Ia mulai menyalakan rokok dan duduk dipojok ruangan. Ia termenung. Lima tahun ia tidak kembali. Namun kali ini ia bisa kembali karena pria itu. Viar. Pria yang sudah ikut dengannya selama lima tahun ini akhirnya menikah. Ia mengenal Davi dengan baik. Beberapa kali Davi diajak oleh Viar ke London saat sedang liburan. Kali ini, ia akan memberikan hadiah terbaik yang sudah ia siapkan. Viar dan Davi ada di kehidupannya saat ia sedang dibawah. Mereka pantas mendapatkan hadiah darinya.
Ketika terdengar panggilan suara, ia berdiri dan berjalan keluar ruangan. Ia yakin ada kejutan yang sedang menantinya didepan. Ia tidak tahu apa itu. tapi hatinya mengatakan jika ada yang berhubungan dengan masa depannnya sedang menanti didepan. Ia melangkah memasuki pemeriksaan. Rasanya ia masih bermimpi ketika ia menatap kembali tiket di tangannya.
Apapun kejutan itu, tunggu aku pulang