
Sierra merasa lelah sekali malam ini. Ia masuk ke kamar hotel setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. Sejak selesai makan malam, ia berjalan seorang diri ke daerah myeongdong untuk mencari ide. Tapi sayangnya karena sudah terlalu malam, banyak toko yang sudah tutup. Daniel mungkin sudah tidur sejak tadi. Ia duduk disofa yang menghadapkannya pada suasana kota Myeongdong dimalam hari. Indah sekali. Ia pernah bermimpi ingin ke korea untuk menonton konser, makan masakan korea, pergi ke namsan tower, belanja dan berjalan-jalan. Salah satu teman kampusnya yang merupakan warga korea sering mengatakan hal tentang kotanya.
Ia termenung sendiri. Ya, pada akhirnya ia harus merelakan Vino untuk tidak ikut dengannya ke korea. Pekerjaannya jauh lebih penting. Seandainya Vino ikut, ia yakin saat ini ia bukan saja sedang bekerja. Tapi mereka sedang honeymoon.
Sierra menghela nafas. Sudah beberapa bulan berlalu. Terkadang ia merasa semua yang terjadi padanya saat ini adalah mimpi. Ia tidak ingin terbangun. Saat ini, ia merindukan Vino. Terakhir ia menghubunginya tadi sore. Mungkin Vino sudah tidur. Sudah tiga hari ia meninggalkan suaminya seorang diri.
Sierra merasa takut meninggalkannya di indonesia. Bagaimanapun wanita itu ada disana. Bisa saja ketika ia pulang, ternyata Vino memilihnya. Jantung Sierra tiba-tiba berdebar dengan kencang. Ia memang sudah jatuh cinta pada suaminya. Rasanya, ia tidak akan rela jika pada akhirnya nanti Vino memilih wanita itu. Sierra terdiam. Karena sakit hati, ia terkadang melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan. Bagaimana bisa ia mengajukan sesuatu pada wanita itu tentang suaminya? Ia dan Vino adalah pasangan suami istri. Sedangkan sherly? Ia tidak memiliki hak apapun atas suaminya.
Sierra mengambil handphone nya dan mencoba menghubungi Vino. Besok adalah hari terakhir. Ia dan Daniel akan langsung pulang menggunakan pesawat sore harinya. Cukup lama Vino mengangkatnya.
"Halo.." jawab Vino.
"Kamu udah tidur?" tanya Sierra.
"Belum. Aku lagi kerja."
"Sama Dimas?" tanya Sierra kembali.
"Aku sendirian. Kapan kamu pulang?"
Sierra tersenyum. "Besok malam mungkin aku baru sampai. Kamu kangen sama aku?"
Vino terdiam. Ia memegang erat kain sprey yang sedang didudukinya. Wajahnya mengeras dan berubah merah. Ia marah dan kesal. Ia merindukan Sierra dan semua yang dilakukan istrinya itu. Ia marah karena lemah. Kenapa harus ia yang mengalaminya?
"Vino..." panggil Sierra.
"Ya?"
"Jawab pertanyaan aku. Kamu kangen sama aku?"tanya Sierra kembali.
"Ya."
"Ya apa?"
"Maaf Sierra, aku harus ke depan dulu. Mungkin Dimas datang." jawab Vino berbohong. Ia langsung menutup teleponnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Tiga hari yang lalu.
Vino baru saja mengantar Sierra ke bandara. Ia langsung menuju kantornya. Didepan resepsionis, ia melihat pegawainya itu bertingkah aneh. Ia sempat mengerutkan keningnya dan tetap berjalan menuju ruangannya. Beberapa kali ia berpapasan dengan para pegawainya pun bertingkah sama. Mereka aneh.
Ketika ia membuka pintu ruangannya, ia terkejut melihat Sherly sedang duduk di kursinya. Ia terlihat menantang dengan berpakaian tidak pantas dikantornya. Pantas saja pegawainya bertingkah aneh. Dan beruntungnya tidak ada Dimas disekitarnya.
"Halo sayang?"
"Lagi apa kamu disini?" tanya Vino marah.
Sherly bangun dari duduknya. Ia berjalan menghampirinya. "Jangan marah. Aku dateng kesini cuma mau liatin beberapa foto penting."
Sherly mengeluarkan beberapa kertas dan menyimpannya di atas meja. Butuh beberapa waktu untuknya mengerti tentang isi kertas itu. Ia menghampiri meja dan mengambil kertas-kertas itu. Ia terpaku ketika melihat Sierra ada diantara para model.
"Kamu ngerti kenapa aku liatin ini sama kamu?"
Vino memegang beberapa kertas itu dan menatap Sherly. "Kalo ini soal Sierra, aku minta kamu jangan macam-macam!" ucap Vino marah.
"Tahan dulu. Sebentar. Aku cuma mau liatin kamu sebuah fakta kalo istri kamu itu seorang plagiat!"
Vino melihat handphone Sherly dengan perasaan marah. Ia membanting handphone wanita itu kencang sehingga orang-orang melihatnya. Vino tidak peduli dengan tatapan orang lain. Begitu pula dengan Sherly. Yang terpenting baginya, Vino dapat kembali ke pelukannya.
"Kamu mau banting handphone aku, aku gak peduli. Video dan foto-foto itu udah aku simpan ditempat yang tepat. Itu cuma salah satunya. Setiap saat bahkan saat inipun aku bisa telepon designer asli yang punya karya itu. Dan... istri kamu pasti akan masuk penjara karena membuat karya tanpa ijin designer aslinya." Ucapnya licik.
"Bohong!"
Sherly tertawa. "Kamu anggap aku bohong? Kenyataannya memang seperti itu. Kamu mau video dan foto-foto rancangan istri kamu gak sampai aku kirimkan ke designer aslinya?"
"Mau kamu apa?" tanya Vino marah.
"Gampang. Permintaan aku cuma satu. Ceraikan istri kamu. Dengan begitu istri kamu gak akan terlibat ke masalah ini lebih besar. Kamu harus tau Vin, aku adalah model internasional. Semua designer dunia mau aku yang jadi modelnya. Kalo soal designer yang ditiru istri kamu, aku kenal baik sama dia."
"Kamu jahat Sherly! Kamu licik kalau melakukan ini. Sierra baru aja kembali sebagai seorang designer dan kamu mau menghancurkan mimpinya!"
"Vino sayang, dia sendiri yang melakukan kesalahan dengan meniru setiap detil pakaian itu. Jangan menutup mata kamu. Sekarang kartu istri kamu ada ditangan aku. Terserah kamu. Kamu mau istri kamu masuk penjara, atau kamu ceraikan dia? Dan aku tutup semua kejadian ini seolah-olah aku gak tau apa-apa. Istri kamu bisa melanjutkan hidupnya sebagai designer dan kita bisa menikah. Kamu pasti kebayang kan gimana hancurnya istri kamu kalo aku sampai bilang sama mereka? Setau aku mereka gak pernah segan-segan buat membawa masalah ini ke jalur hukum."
Vino mengepalkan tangannya dan meninju meja yang atasnya terdapat kaca itu. Ia marah dan kesal. Suara pukulan meja terdengar sangat keras. "Pergi kamu, Sherly! Pergi dari kantor aku!" teriak Vino marah.
"Aku kasih kamu waktu satu hari untuk berfikir. Aku tunggu kabar baik dari kamu. Bye...." ucap Sherly sambil berjalan pergi.
Setelah kepergian Sherly, Vino mengangkat tangan yang masih berada di meja itu. Ia melihat retakan kaca dan jari-jarinya yang mulai mengeluarkan darah. Ia tidak merasa sakit sedikitpun.
Mimpi Sierra adalah mimpinya. Ia tidak mungkin memendam mimpi Sierra yang baru saja ia bangun susah payah. Beberapa gambar yang sempat ia lihat membuatnya yakin jika istrinya adalah seseorang yang pintar dan kreatif. Tapi masalah plagiat itu, gambarnya memang sama. Ia tidak pernah membayangkan Sierra akan tinggal di penjara jika masalah ini bocor pada designer aslinya.