Love Actually

Love Actually
Bertemu dengan Ojo



Alena tengah sibuk mengeluarkan barang yang akan dibawanya pagi ini. Ia bersama dokter yang lain akan pergi bersama. Terdengar suara Andi sibuk menggoda pembantunya di dapur. Iapun berjalan keluar dari kamarnya untuk menemui Andi.


"Prince! bantuin mama cepetan!" seru Alena.


Andi melihat ibunya. "Belum beres juga? Ampun ibu-ibu. Apa sih yang dibawa.." ucapnya sambil tertawa.


"Gak usah banyak komentar. Cepet bantuin mama. Mama gak mau telat, gak enak sama dokter-dokter yang lain. Kamu juga siap-siap. Siapa tau disana ketemu sama Ojo-mu itu" ucap Alena sambil berjalan kembali ke kamarnya.


"Ojo? Ojo ikut ma? Kok bisa ikut ma?" tanya Andi sambil berlari mengikuti ibunya dari belakang.


"Dia kan relawan juga." jawab Alena santai.


"Aku juga relawan. Waktu itu aku hampir ikut meeting relawan kan?" tanya Andi.


"Kalo kamu pergi, siapa yang jaga kantor? Jangan macem-macem."


Andi menunduk lesu. Padahal acara ini adalah kesempatan untuk bertemu dengan Ojo nya. "Kalo gitu aku siap-siap dulu." ucapnya sambil berjalan ke kamar.


Bumi sedang menatap Erika yang sejak tadi bersiap-siap. Ia masih memasukkan barang-barangnya kedalam ransel. Ia tidak bosan menatap Erika. Helaian rambut yang keluar dari ikatan rambutnya membuatnya terlihat sangat cantik. Siapapun yang melihatnya pasti akan mengatakan hal yang sama. Erika adalah wanita paling cantik dan paling baik yang pernah ia temui. Ia tidak bisa dibandingkan dengan artis-artis yang sering ia temui. Tanpa riasan dan dandanan membuat wajahnya tetap cantik. Dan tanpa sadar ia menghela nafas. Ia berterima kasih pada siapapun karena telah diberikan kesempatan untuk menjadi tetangga wanita cantik dan baik ini.


Ia melihat Erika kesulitan menutup resleting ranselnya. Iapun menghampirinya.


"Kamu siapin yang lain. Aku bantu benerin resletingnya." ucap Bumi.


"Oke." jawab Erika cepat. Iapun berjalan ke dalam kamar.


Terdengar Erika sedang memakai sepatunya. Bumi menoleh sekilas.


"Yakin gak mau dianter sama aku?" serunya.


"Aku gak mau koran besok beritain skandal tentang host terkenal sama tetangganga" jawab Erika. Ia keluar dari kamarnya dengan pakaian lengkap dan sudah menggunakan sepatu.


Bumi tertawa. "Yang paling aku takutin bukan berita. Tapi fans aku yang gak terima kamu."


"Makanya...." seru Erika yang sudah ada didepannya. Ia meminta tas itu dan membawanya keluar. "Aku titip kamar ya Bum! Kunci disimpen di gantungan deket pintu. Kalo kamu mau makan, masih ada tuh sisa makanan aku tadi pagi. Kalo kamu suka habisin aja."


Erika tersenyum dan membuka pintu. "Aku pergi dulu."


"Hati-hati dijalan."


Erika hanya membutuhkan waktu selama lima menit untuk sampai ke rumah sakit. Ia berjalan diantara beberapa orang pejalan kaki. Ketika ia menatap jam tangannya, ia rasa ia terlalu bersemangat. Terlihat olehnya mobil box besar yang berisi bantuan didalamnya dan beberapa mobil yang sudah disiapkan oleh rumah sakitnya.


"Erika!" panggil seseorang.


Erika menoleh dan sedikit terkejut melihat kedua orang itu. Tante Alena dan tentu saja, Andi ada disana. Pria itu masih tampak baik seperti biasa. Wajahnya masih saja tampan. Tapi ia sudah melupakan semuanya. Iapun tersenyum pada wanita itu dan menghampirinya.


Benar kata ibunya, ia bisa bertemu Ojo disini. Jadi disinilah ia bersembunyi. Di rumah sakit yang ia tahu menjadi tempat kerja ibunya ketika muda dulu? Kenapa ia tidak pernah terfikir jika ibunya pun berada dibalik hilangnya Ojo dari pandangannya. Lalu dimana ia tinggal? Melihatnya memakai ransel dengan berjalan kaki, sepertinya ia tinggal tidak jauh dari sini. Ia melihat ke sekeliling bangunan yang ada di sekitar rumah sakit. Di sana terdapat beberapa apartemen. Di apartemen mana ia tinggal? Apakah apartemen yang sama dengan apartemen ibunya? Ia sempat berfikir Ojo akan tinggal di apartemen ibunya. Tapi setelah hari itu, hari dimana Ojo memintanya untuk menjauhinya, ia mendengar kabar jika Ojo menolak apartemen yang dipinjamkan oleh ibunya.


"Hai, Andi.." panggil Erika.


Andi menatap Ojo. Andi? Bukan, itu bukan panggilan seorang Ojo padanya. Ia terbiasa dipanggil prince oleh Ojo. Hanya Ojo dan keluarga dekatnya yang biasa memanggilnya dengan nama Prince. Ia menatap Ojo dari atas ke bawah. Ojo yang dirindukannya sudah berubah.


"Andi! Erika panggil kamu!" seru ibunya.


"Oh hai, Erika. Apa kabar?" tanya Andi kaku.


"Aku baik." jawab Erika. Ia hanya menatap sekilas pada Andi. Kemudian ia menatap Tante Alena. "Tante, aku duluan ya kedalem. Aku harus ngasihin job desk buat tim." ucapnya.


"Iya. Nanti Tante tunggu diluar." jawab Alena.


Erika berlari kedalam rumah sakit tanpa berpamitan pada Andi.


Prince, aku gak tau harus ngomong apa sama kamu. Tapi liat kamu hari ini, aku yakin kamu lebih bahagia daripada sebelumnya. Aku udah move on, prince. Aku harap kamu bahagia sama Jane. Aku pikir keputusan buat putusin persahabatan kita udah benar. Ternyata banyak hal positif setelah kamu gak ada. Aku bisa tidur lebih awal karena gak digangguin kamu terus. Aku juga gak harus terus keluar rumah buat nemenin kamu main basket. Dan yang lebih hebatnya, aku gak merasa sakit hati pas ketemu kamu tadi. Itu udah cukup buat aku.


Andi membawa mobilnya dengan kencang ke tempat biasa setelah mengantar ibunya ke rumah sakit. Ia masih memakai pakaian kerjanya dan tidak berniat menggantinya. Ia bisa pergi ke kantor setelah menyelesaikan urusannya. Entah mengapa, ia merasa kesal.


Sesampainya di lapangan basket, ia turun dan mengeluarkan bola yang ia simpan di jok belakang. Lapangan itu kosong dan sedang tidak dipakai hari ini. Orang-orang yang berada disana terlihat kebingungan melihatnya datang. Tapi ia tidak peduli. Ia mulai memainkan bolanya. Ia berlari membawa bolanya untuk dimasukkan kedalam ring. Ia berlari terus melakukannya sampai ia kelelahan. Kemejanya sudah tidak beraturan. Celana hitamnya kotor setelah ia duduk di lapangan. Panas terik tidak menyurutkannya untuk berhenti. Ketika ia sudah kelelahan, ia terlentang sambil menatap matahari dengan mata menyipit. Ia mengangkat lengannya dan menutup matanya. Keringat yang keluar ia biarkan bercucuran. Setelah kejadian tadi, ia terus mengingat wajah Ojo. Ya, Ojo. Bukan Erika. Ia akan menemukannya nanti. Ia akan berfikir bagaimana caranya.