
Ini adalah pertama kalinya Erika mendaratkan kakinya di kota London. Selama perjalanan menuju penthouse, ia selalu dibuat takjub dengan keindahan kota. Bahkan ia selalu tidak sadar untuk menunjukkan ketertarikannya pada kota ini. Ia menatap jalanan yang sangat bersih dan warga yang terlihat berjalan kaki di sepanjang jalan. Sejak turun dari pesawat tadi, suaminya selalu menceritakan bagaimana kota ini terlihat. Dan ia memang benar. Ia jadi tahu kenapa suaminya lebih senang London menjadi homebase nya dibanding negara lain.
Andi melirik dan hanya bisa tersenyum melihat tingkah Ojo yang layaknya seperti anak kecil.
"Aku yakin kamu pasti suka disini."
"Pasti. Aku suka disini."
Andi menarik tubuh istrinya agar ia duduk mendekat. Karena sejak tadi ia selalu duduk disamping kaca. Erika menyadarinya. Iapun bergeser dan duduk tepat disamping Andi tanpa jarak.
"Itu hotel milik keluarga kita." Tunjuk Andi pada sebuah bangunan kontemporer.
Erika mengangguk. "Aku gak nyangka bisa jadi istri pengusaha sukses. Pasti uang kamu banyak.." Godanya.
"Kamu bisa minta apapun, Jo." Jawab Andi.
Erika hanya bercanda ketika mengatakannya. ia tidak menyangka mendapat jawaban itu. "Apapun itu?" Tanya Erika.
Andi mengangguk.
"Sayangnya aku bukan wanita matre. Aku suka uang kamu. Wanita manapun pasti suka. Tapi, aku juga punya penghasilan. Aku gak mau disebut istri yang hanya menghabiskan uang suami. Jadi, aku tolak yang menurut kamu apapun itu. Mudah-mudahan aku gak terlena sama uang kamu." Ucap Erika.
"Wajar Jo. Kamu istri seorang pengusaha yang mengharuskan diri kamu terlihat cantik. Kamu butuh salon, pakaian, tas, sepatu, perhiasan dan semua kebutuhan kamu." Jawab Andi.
"Kalo gitu harusnya kamu menikah sama boneka, bukan sama manusia." Ucap Erika kesal.
"Loh, jangan marah dong Jo. Aku ngelakuin ini buat kamu. Aku tau kebutuhan seorang wanita itu banyak." Seru Andi sambil memegang tangannya.
"Itu kebutuhan mantan-mantan kamu. Aku enggak. Aku jarang beli baju. Aku jarang ke salon. Aku jarang ke mall. Semua pakaian yang aku pakai hasil rancangan Davi. Dia sengaja kirim contoh pakaiannya ke aku karena aku modelnya dia."
Andi menutup wajahnya. Ia tertawa ringan. "Kalo gitu aku salah. Maaf Jo. Aku pikir kamu sama. Oke aku ikutin semua kemauan kamu. Kita baru sehari menikah tapi langsung debat. Malu sama supir taxi."
Erika melirik supir taxi yang sejak tadi menatap mereka berdua. "Kamu sih yang duluan."
Erika mulai tertawa. "Kamu yang bakal bilang gitu. Aku enggak."
"Jangan malu Jo, aku seneng kok dengernya." Ucap Andi menggoda. Jujur saja melihat Ojo marah ia merasa takut.
"Aku seneng karena kamu yang menikah sama aku."
"Jangan-jangan kamu udah cinta sama aku?" Tanya Andi sambil melepaskan tangannya. Matanya membesar karena terkejut.
Erika langsung mencubit pinggang Andi sehingga suaminya itu menjerit kesakitan. "Rasain!"
Davi menatap jam tangannya terus menerus. Sejak semalam bosnya itu memberitahu jika mereka akan sampai malam ini. Tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran mereka. Ia melihat setiap ruangan penthouse yang sudah ia tata dan dekor sebagus mungkin. Koper yang baru saja tiba hari ini dari Jepang sudah ia simpan dengan rapi disudut ruangan.
"Bos kamu aneh. Masa kita gak boleh jemput di bandara. Mereka malah milih naik taxi. Aneh.." ucap Davi sambil cemberut.
"Mungkin dia mau nunjukin istrinya sesuatu. Biarin aja. Lagian kamu terlalu ribet. Sahabat kamu itu udah punya suami. Suka-suka suaminya.." jawab Viar tanpa melepaskan tatapannya didepan laptop.
Davipun duduk disamping Viar. "Jadi kapan mereka dateng?"
Viar menggelengkan kepalanya.
Tak lama bel pintu berbunyi. Davi dengan cepat berdiri dari duduknya dan berlari menuju pintu. Dan benar saja. Keduanya sudah datang.
"Erika!!" Teriaknya senang. Ia langsung memeluk tubuh sahabatnya dengan erat. "Welcome to your home, sweety!" Serunya.
Erika tersenyum. "Thank you, Davi. Kamu yang siapin semua?" Tanya nya ketika ia melihat dekor penthouse milik suaminya yang terdapat beberapa vas bunga mawar merah.
"Silahkan masuk..." Ucapnya sambil membawa Erika masuk kedalam. Ia bahkan tidak peduli dengan tatapan Andi yang masih berada didepan pintu.
Erika menatap seluruh ruangan dengan takjub. Penthouse seorang pria memang berbeda. Auranya terasa maskulin dan dengan sentuhan Davi, penthouse ini menjadi lebih romantis. Ia bahkan dapat melihat London Bridge dari jendela penthouse nya. Ia tidak dapat mengendalikan perasaan takjubnya sejak tadi.