Love Actually

Love Actually
Awas Baper !



Meja makan telah disulap menjadi meja penuh makan malam seadanya. Erika dan Davi memasak untuk mereka berempat. Beruntungnya pula mereka berdua bisa memasak walaupun tidak sehebat koki. Mereka mulai makan dengan lahap. Sejak dari Indonesia, Erika dan Suaminya baru makan siang di pesawat dan karena porsi makanan di pesawat tidak sebanyak porsi makan mereka, akhirnya mereka kelaparan kembali.


“Kalo gitu kita pulang dulu. Kita gak mau ganggu pengantin baru.” goda Davi sambil berdiri. Ia menepuk tangan suaminya.


“Oh ya, besok kita ketemu di kantor.” ucap Viar pada Andi.


Andi tidak peduli karena ia masih melahap makanan yang ada didepannya. Ia melihat istrinya berdiri untuk mengantar mereka berdua.


“Besok aku kesini. Kita bisa jalan-jalan keliling London. Emangnya kamu mau cuma ngeliatin London Bridge dari dalem rumah aja? Enggak kan?” ucap Davi.


Erika membuka pintu dan membiarkan mereka berdua pulang. Lagipula langit sudah mulai gelap. Ia melambaikan tangannya ketika mereka berdua mulai memasuki lift. Ia menutup pintu pelan dan mulai melangkah pelan. Jantungnya mulai berdegup dengan kencang. Tinggal ia dengan suaminya yang ada dirumah. Ketika kemarin malam saat mereka berada di kamarnya, ia tidak setegang ini.


“Jo..” panggil Andi.


Erika mengangkat wajahnya. “Ya..” jawabnya gugup. Iapun berjalan ke ruang makan. Meja masih terlihat berantakan dan Andi tidak ada disana. Ia menoleh dan berjalan ke ruang santai. Andi sedang berada disana sedang duduk dengan handphone ditangannya.


“Apa?” tanya Erika kembali.


“Piring kotor udah gak perlu kamu cuci. Besok pagi ada petugas kebersihan yang kesini.” jawab Andi tanpa menatapnya.


“Gak apa-apa. Aku beresin sebentar aja.” ucap Erika sambil berjalan kembali ke dapur.


Ia mulai membersihkan meja makan dan dapur. Ia memang tidak ahli dalam membereskan piring kotor, tapi ia pernah menyewa flat tanpa seorang pembersih rumah. Ia memakai apron dan mulai mencuci piring. Dalam hati ia bertanya, apa yang akan terjadi malam ini? Kenapa ia merasa gugup dan takut?


Tiba-tiba ia merasakan langkah kaki yang mulai mendekat. Ia menghentikan kegiatannya dan terdiam. Perasaannya mulai campur aduk. Sebuah tangan memeluk perutnya dari belakang. Ia dapat merasakan kepala Andi berada dibahunya.


“Aku udah bilang jangan dicuci.” bisik Andi tepat ditelinga istrinya.


“Gak apa-apa kok. Lagian berantakan.” jawab Erika gugup.


Perlahan Andi mulai melepaskan apron yang dipakai Erika. Kemudian ia membalikkan tubuh Erika sehingga kini mereka saling berhadapan. Erika hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu.


“Don’t be shy. I’m your husband now.” bisik Andi.


Erika mengangkat kedua tangannya dan memeluk Andi dengan erat.


“You can be smarter  than this, Jo..” ucap Andi. Ia menyimpan kedua tangannya di tempat cuci piring dan mengurung istrinya diantara kedua tangannya. Ia merasakan kedua tangan wanita didepannya terlepas. Ia tersenyum. Ia benar-benar kehilangan kendali ketika berduaan seperti ini.


“Kamu ngantuk?” tanya Andi ketika ia melepaskan diri.


“Sedikit.” jawab Erika sedikit serak.


“Pernikahan kita sah dimata hukum Jo. Aku gak pernah merasa apa yang aku lakukan dengan menikahi kamu cuma iseng belaka. Dari awal aku pernah bilang sama kamu. Aku menikahi kamu karena cuma kamu yang pantas jadi istri aku. Aku serius menikahi kamu.”jelas Andi.


“So?” tanya Erika.


Andi langsung  berbisik ditelinganya. “Aku gak akan biarin kamu mengantuk Jo. Ini akan menjadi malam yang panjang buat kita.” ucapnya sambil menarik tangan dan membawa istrinya masuk kedalam kamar.


Terdengar suara lemari pakaian terbuka dan dan langkah sepatu menghampirinya. Ia hanya merasakan pipinya disentuh sesuatu. Ia benar-benar mengantuk pagi ini. Ia tidak bisa membuka matanya. Ia masih harus menunggu waktu untuk sadar apa yang terjadi padanya. Ia mendengar langkah kakinya pergi dari tempatnya berbaring. Iapun kembali mempererat selimutnya karena dinginnya ac yang menusuk kulitnya yang terbuka.


Terbuka?Erika membuka matanya cepat. Ia bangun untuk menyadari sesuatu. Ia tersenyum dan merasa malu. Ia menutup wajahnya dengan selimut dan tertawa ringan. Kenapa ia jadi salah tingkah? Kenapa rasanya mulutnya tidak bisa berhenti tersenyum? Sepertinya ia mulai gila.


Iapun berdeham dan memakai pakaiannya. Ia melihat London Bridge masih berdiri dengan megahnya. Pagi sudah menjelang. Sekarang ia sadar jika yang menyentuh pipinya adalah suaminya sendiri.  Iapun tersenyum. Ia tidak menyangka pernikahan akan begitu indahnya. Mungkin ini awalnya. Tapi ia harap suaminya akan terus membahagiakannya. Iapun keluar kamar dan melangkah menuju dapur. Semalam ia belum membereskan dengan benar. Tapi ketika ia melihat dapur, semuanya sudah bersih dan rapi. Jam berapa pegawai kebersihan datang ke rumahnya?


Ia melihat sebuah kertas di tempel di lemari es. Ia membacanya,


Aku pergi kerja dulu Jo. Lebih baik kamu istirahat dirumah karena kamu baru sampai kemarin. Nanti aku pulang buat makan siang. Jangan lupa buat masakan enak untuk aku. Oya, sarapan ada dimeja. Mudah-mudahan cocok sama lidah kamu. Ini pertama kalinya aku masak buat kamu


Erika melihat meja makan dan benar saja. Sudah ada satu piring berisi roti dengan secangkir kopi hangat kesukaannya dipagi hari.


“Masak?”tanyanya sambil tertawa.


Andi membawa mobilnya ke kantor yang hanya berjarak satu kilometer dari penthouse nya. Ia melihat Viar sudah berada didepan gedung. Ia terheran-heran. Jam menunjukkan pukul 7 pagi dan Viar sudah datang. Iapun keluar.


“Meeting jam berapa?”


“Jam 7. Aku pikir kamu gak akan bangun. Aku telepon dari semalem gak diangkat.” ucap Viar dengan wajah cemas.


Andi menepuk bahu Viar. “Kita berdua sibuk bro. Cepet kita keruang meeting.”


Viar hanya tertawa sambil berlari mengejar Andi yang sudah berlari terlebih dahulu.