Love Actually

Love Actually
Rindu Erika Ojo



Andi berlari membawa bolanya ke ring basket. Ia berlari dengan sangat cepat. Selama ini ia tidak memiliki lawan tanding yang kuat. Ia menatap ring didepannya dengan fokus. Tubuhnya melayang ketika ia memasukkan bola ke dalam ring basket dengan mudahnya. Ia berteriak untuk melepaskan semua kekesalannya. Bola memantul dengan kencang menjauhinya. Andi hanya menatapnya tanpa mau mengambilnya. Ia terduduk di lapangan. Keringat yang mengalir di seluruh wajahnya ia lap dengan lengannya. Ia terdiam. Ternyata semua harapannya tidak seindah kenyataan. Ia mencintai Jane dengan tulus. Tapi ia ragu dengan ketulusan Jane padanya.


"Tumben sendiri?" tanya seorang pria setengah baya.


Andi menoleh untuk melihat pria itu. Pa Dery, orang yang biasanya berjualan minuman disebrang lapangan. Siapa yang tidak mengenal pria itu. Tubuhnya yang tinggi menunjukkan jika ia bukan orang biasa.


"Pa.." jawab Andi sambil tersenyum.


Pria itu mendekati Andi yang sedang duduk. "Kemana gadis yang dari Jepang itu?" godanya.


Andi tersenyum. "Gak ada pa."


"Padahal saya mau nunjukin sesuatu." jawab pria itu.


"Sejak kapan bapak kenal sama temen saya itu?" tanya Andi penasaran. Iapun berdiri tepat didepannya. Keringat dibadannya masih terus keluar.


"Kamu gak inget ya, terakhir kali kamu kesini kan bawa gadis itu. Siapa sih namanya? Yang saya inget namanya Ojo." jawab Dery.


Andi mengerutkan keningnya. Mereka sampai kenal seperti itu. Apa yang pernah Ojo lakukan disini? Ia ingat ketika Ojo sering mengantarnya latihan, ia sering terlihat pergi untuk membeli minuman. Sepertinya mereka memang berbincang. Jika mengingat hal itu, ia tiba-tiba merindukan Erika Ojo.


"Ngobrol apa aja sama temen saya?"


Pria itu tersenyum. "Cemburu ya?"


Andi tersenyum. "Enggak. Lagian saya udah punya pacar." jawabnya.


"Udah punya pacar? Saya pikir kalian lagi pendekatan. Padahal kalian cocok banget." goda Dery.


Andi tersenyum simpul. "Bapak pasti tau Jane. Dia manajer tim basket kita waktu kuliah dulu. Dia pacar saya sekarang."


"Jane? Saya tau. Yang keliatannya kalem ya? Tapi saya lebih memilih Ojo daripada Jane."


Andi tersenyum kembali. "Hati kan gak bisa dipaksa pa."


"Setuju. Tapi kamu bisa berfikir lagi mana yang terbaik buat kamu. Dan... daripada kita ngomongin wanita, gimana kalo kita duel. Satu lawan satu?"


Andi merasa tertantang oleh pria didepannya. "Boleh pa. Udah persiapan ganti baju?"


"Justru saya pake baju gini buat nunjukin sama temen kamu itu kalo saya juga jago basket. Pas tadi liat mobil kamu diluar, saya pikir kamu sama temen kamu itu."


Andi hanya menggelengkan kepalanya. Ia mulai melakukan pemanasan sementara. Pria itu pun mulai melakukan pemanasan yang tidak biasa. Ia sepertinya mantan atlet, pikir Andi.


Selama duel, beberapa kali Andi melakukan kesalahan. Dan pria itu hanya berseru. "Jangan pake emosi!"


Walaupun permainannya sedikit terlambat oleh pria tua itu, ia tetap semangat. Pria itu masih memiliki tenaga yang besar. Ia terdiam dan menekuk kedua tangannya di pinggang. Ia terkejut ketika pria itu memasukkan bola ke ring. Tanpa sadar ia berteriak dan bertepuk tangan.


"Keren!"


Andi tersenyum. Pria itu memanggil nama Ojo. Tiab-tiba ia tersadar. Tidak ada yang memanggil Erika sebagai Ojo selain ia dan keluarganya. Bagaimana mungkin pria itu memanggilnya dengan nama yang sama?


"Andi belum pulang Bi?" tanya Alena kepada pembantunya.


"Tuh dateng Bu" jawab wanita tua itu.


Alena mendengarkan suara mobil masuk ke halaman rumahnya. Iapun berjalan ke dapur dan mengambil gelas. Karena kepalanya sering pusing, ia selalu menyediakan obat untuk menenangkan kepalanya.


"Ma! Belum tidur?" tanya Andi yang sudah ada dibelakangnya. Ia menyimpan kedua tangannya di meja pantry yang ada didepan Alena.


"Baru minum obat. Darimana kamu? Ketemu sama pacar kamu?" tanya Alena sambil menyimpan gelasnya di rak cuci piring.


"Enggak. Dari lapangan basket." jawab Andi santai.


"Jangan terlalu sering ketemu sama pacar kamu. Nanti kamu bosen."


Andi tertawa. "Eh ma, apartemen mama jadi ditempatin Ojo?"


"Enggak. Kenapa tiba-tiba nanya Erika?"


Andi menghampiri ibunya dan memegang lengannya. "Trus tinggal dimana sekarang?"


"Mana mama tau? Tanya aja sendiri." jawab Alena sambil berjalan meninggalkannya.


Jika tau, ia tidak akan bertanya. Jadi dimana Ojo berada sekarang? Iapun tidak tahu dimana Ojo bekerja sekarang. Pantas saja Ojo marah padanya. Sebagai sahabat, ia kurang perhatian. Iapun berlari ke kamarnya. Ia menyimpan bola basket dan tasnya di sudut kamar. Kemudian ia berjalan ke ranjang dan merebahkan diri disana. Ia menutup matanya perlahan. Terdengar handphonenya berbunyi. Ia membuka kembali matanya. Jane menghubunginya.


"Halo." jawab Andi.


"Kamu udah pulang?" tanya Jane lembut.


"Udah sayang."


"Kenapa sih gak latihan ditempat biasa?"


Andi membuka matanya. "Aku biasanya kesana kalo sendirian."


"Ya udah, besok pagi kamu jemput aku kan? Kita harus meeting soal proyek yang terakhir." ucap Jane.


"Oke. Aku ngantuk Jane. Udah dulu ya. Bye!" seru Andi sambil pura-pura menguap. Ia langsung mematikan handphone tanpa mendengar jawaban Jane. Ia diam sejenak. Lalu terpikir tentang Ojo. Ia melihat kembali handphonenya. Ia mencari nama Ojo di aplikasi WhatsApp nya.


Tidak ada nama Ojo? Iapun bangun dari ranjang dan berjalan ke depan jendela. Ojo menghapus namanya di WhatsApp. Namanya diblok Ojo? Iapun mencari di phone book. Ia lega nama Ojo masih ada disana. Iapun menghubunginya. Tapi kenapa tidak ada nada sambung satupun? Ia menatap handphonenya nanar. Ia hanya bisa pasrah namanya sudah dihapus dan diblok oleh Ojo.


Ojo, kita masih sahabatan kan? Kenapa nama aku di blok? Jo, aku kangen kamu. Aku pengen godain kamu lagi. Aku inget kamu suka marah kalo lagi aku godain. Jo! Mulai besok aku mau nyari tempat tinggal kamu. Aku mau kita berteman lagi kayak dulu. Dengan atau tanpa ijin Jane.