
Jane baru saja menyelesaikan perkuliahannya sore ini. Ia sedikit kebingungan ketika kampusnya meliburkan perkuliahan selama satu minggu. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Tapi tiba-tiba saja ia teringat pada Andi. Ia langsung memutuskan untuk pergi ke London bersama anaknya. Lagipula sepupunya masih belum kembali ke Indonesia. Sementara ia bisa tinggal di apartemen Jefry selama ia berada di London.
Setelah menjemput anaknya dari tempat penitipan, iapun pulang untuk bersiap-siap. Ia menatap jam dinding. Pukul 5 sore. Masih cukup waktu untuk mengejar bis untuk sampai ke London. Ia menatap anaknya yang ia simpan di karpet yang ada di bawah. Ia terlihat sedang memainkan mainannya. Iapun menghampiri anaknya dan berjongkok. Ia mengambil salah satu mainan dan memberikannya pada anaknya.
"Sayang, kita mau ketemu Om Andi. Kamu seneng kan? Terakhir kali kamu ketemu Om Andi, kamu gak mau lepas dari gendongannya Om." Ucap Jane sambil tersenyum. Ia masih terus menyiapkan alat-alat untuk dibawa. Oh, ia ingat. Ia harus menghubungi sepupunya terlebih dahulu. Ia pun berjalan menuju kamarnya untuk mengambil handphone.
"Halo.."
"Kenapa Jane?" Tanya Jefry
"Jef, satu jam lagi aku on the way London. Kamu jemput aku."
"Kamu gak kuliah?"
"Mumpung libur seminggu. Aku mau liburan ke sana sama anakku."
"Oke, nanti kamu hubungi aku lagi."
Setelah semuanya siap, iapun berangkat dengan menggendong anaknya. Perjuangannya untuk mendapatkan gelar master akan ia lakukan hingga akhir. Ia ingin anaknya nanti akan merasa bangga padanya. Perpisahan dengan Rico pastinya akan Rico sesali. Tekadnya kuat untuk membuat Rico menyesal.
"Tumben Jane, ada apa kamu liburan di London?" Tanya Jefry ketika ia baru saja menjemput Jane.
"Aku mau ketemu Andi lagi." Jawab Jane tenang. Ia sesekali menatap wajah anaknya yang sangat mirip dengannya.
"Ketemu Andi? Dia udah menikah loh, Jane.."
"Ada yang salah? Justru aku mau liat siapa yang jadi istri Andi. Apa pantas wanita itu jadi istri seorang pengusaha sukses?" Jawab Jane dengan nada menggebu.
Jefry melirik Jane tanpa berbicara sepatah katapun. Sepertinya ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak mau sepupunya masuk ke jurang untuk kedua kalinya. Ia ingat bagaimana Jane diperlakukan buruk oleh seorang pria. Jane tidak mungkin ingin merubah diri kan?
"Kenapa?" tanya Jane sambil tersenyum. Ia menyadari sepupunya itu terus menatapnya. Ia menatap keluar jendela mobil. London terlihat mewah. Jika suatu hari ia tinggal di London, ia pasti akan sangat senang sekali. Lagipula program sekolah yang sedang ia jalani tidak akan lama lagi.
Sesampainya ia di apartemen Jefry, Jane tidak sabar untuk memberitahu Andi tentang keberadaannya saat ini. Ia menghampiri telepon rumah. Sebelumnya ia diberikan nomor telepon oleh Andi. Jika suatu saat ia sedang mengalami kesulitan, Andi akan membantunya.
"Mau telepon siapa?" tanya Jefry
"Andi. Aku mau ngabarin kalo aku ada di London." jawab Jane.
Jefry langsung memegang telepon itu dan mengembalikannya di tempat semula. "Kamu datang ke London berniat untuk merusak rumah tangga Andi?" tanya Jefry marah.
Jane tersenyum hambar. "Bukan urusan kamu, Jefry sayang.."
"Tentu aja urusan aku. Kamu ada di London menjadi urusan aku."
"Tenang aja. Kalo gitu besok aja aku telepon." ucap Jane tenang. Ia berjalan menuju sofa dan mengangkat anaknya untuk digendong. Ia menatap anaknya. Demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik untuknya dan anaknya, ia akan melakukan apapun.
Karena kelelahan, Andi terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam. Baru menunjukkan pukul 11 malam. Ia melihat kesamping tempat tidurnya. Istrinya tidak ada. Iapun bangun dan berjalan keluar. Ia melihat ruang tamu dan dapur. Tidak ada penampakan istrinya. Namun ruang kerjanya terlihat menyala. Iapun berjalan kesana. Ketika dibuka, istrinya sedang duduk disana sambil membuka laptop. Ia terlihat sedang mengetik sesuatu.
Erika menatapnya dan tersenyum.
"Kenapa bangun? Bukannya capek?" tanya Erika tanpa melepaskan tangannya dari atas laptop.
"Kamu gak ada. Lagi apa Jo?" tanya Andi sambil menghampirinya. Ia pun berada di samping Erika. "Lagi apa kamu Jo?" tanya nya kembali sambil melihat layar laptop.
"Aku lagi bikin blog. Kamu udah janji gak akan melarang aku buat kerja." jawab Erika cepat.
"Aku gak akan melarang sesuatu yang menjadi hobi kamu." ucap Andi. Iapun menarik lengan Erika untuk berdiri. Dan ia menggantikannya untuk duduk di kursi kerjanya. Erika hanya diam sambil menatap suaminya yang sedang membaca blog buatannya.
"Isinya tentang makanan sama tempat wisata.." ucap Erika.
"Aku tau. Bisa diliat dari judulnya. Jadi selama ini kamu jalan-jalan ke berbagai negara buat cari konten?"
Andi menatap istrinya tajam. "Pergi sama siapa? Gak mungkin kan kamu pergi jalan-jalan sendiri. Kamu punya tim?"
Erika langsung merasa suaminya sedang cemburu. "Banyak. Dan hampir semuanya laki-laki. " godanya.
"Trus kalian tinggal dimana kalo lagi pergi?"
"Di hotel. Atau biasanya kita sewa rumah selama satu minggu."
"Kamu tidur sama siapa?" tanya Andi dengan nada cemas.
"Aku?" tanya Erika. Ia berfikir sejenak. "Kita tidur barengan."
"Siapa yang ijinin kamu buat tidur barengan?" tanya Andi kesal.
Erika tertawa ringan. "Kita belum menikah waktu itu. Kalo cemburu bilang aja." ucapnya.
"Aku gak cemburu." ucap Andi sambil menatap kembali laptopnya.
Erika tersenyum dan mengangkat salah satu tangan Andi. Sedetik kemudian ia sudah duduk dipangkuan suaminya. "Cemburu?" bisiknya.
"Enggak. Aku gak pernah cemburu."
"Bener gak cemburu?" goda Erika.
Andi langsung menatap istrinya tajam. "Iya, aku cemburu."
Erika tertawa. Ia langsung memeluk Andi. "Aku bohong. Aku gak pernah pergi kemanapun sama laki-laki lain kecuali Vino. Vino yang anter aku kemanapun pas dia lagi libur."
Tiba-tiba kedua tangan Andi melepaskan pelukan Erika. Perlahan ia menyentuh ujung rambut Erika yang panjang. Jantungnya kini berdetak kencang. Sama halnya dengan Erika. Ia sedikit gugup.
"Aku udah gak mau bunga lagi. Aku bosen setiap hari harus dikasih bunga sama kamu." ucap Erika gugup.
"Kenapa? bukannya setiap perempuan suka dikasih bunga?" tanya Andi tanpa melepaskan jari-jarinya.
"Siapa yang bilang?" tanya Erika gugup ketika ia mulai merasakan tangan Andi menyentuh bahunya.
"Papa.." jawab Andi pelan.
Erika tertawa kencang dan menyimpan kepalanya dibahu Andi.
"Aku pikir tanpa bantuan papa kamu bisa romantis."
"Aku pikir ketika sama kamu, aku bisa menaklukkan kamu dengan mudah. Tapi waktu kamu marah, aku takut Jo. Makanya aku minta bantuan papa."
"Dengan ngasih aku bunga setiap hari?"
Andi mengangguk. "Aku bisa romantis juga. Tapi..." ucap Andi tertahan.
Erika mengangkat kepalanya. "Tapi.."
Andi mengangguk. "Enggak disini." bisiknya tepat ditelinga Erika.
Wajah Erika bersemu merah. Ia merasakan wajah suaminya semakin mendekatinya. Jantungnya terus berdegup dengan kencang. Ia hanya bisa menutup matanya ketika perlahan bibirnya mulai disentuh.
Tidak ada yang dapat mengganggu mereka. Andi bahagia berada di samping istrinya. Ia bertekad pada apapun untuk membahagiakan wanita yang ada dipangkuan nya.
Ketika malam mulai larut, mereka melupakan apa yang akan terjadi di depan. Mereka hanya menikmati waktu berdua malam ini dan sama-sama belajar untuk saling mencintai dengan tulus.