Love Actually

Love Actually
Bumi pembuat onar?



Jane berada di perjalanan menuju kantor Andi setelah ia tahu jika kekasihnya itu sedang dalam mood yang buruk. Entah apa yang terjadi. Ia tahu jika Andi mengantar ibunya pagi tadi. Tapi ia tidak tahu apa yang terjadi kemudian. Ketika menelpon tadi, ia mendengar Andi baru saja sampai. Padahal jam sudah siang. Ia melihat kantong kertas yang berisi makanan di jok sampingnya.


Ia merindukan Andi. Beberapa kali acara mereka tertunda gara-gara Andi harus bersama ibunya. Ia memutar mobilnya dan masuk ke halaman kantor Andi. Beberapa kali ia datang kesini untuk meeting. Tapi sayang, ayahnya menolak proyek yang ia gagas. Alasannya, karena ia bekerja sama dengan kekasihnya. Padahal awalnya ia tidak tahu jika kontraktor yang dipilihnya adalah milik Andi dan keluarganya. Ayahnya berfikir ia melakukan kelicikan pada kakak-kakaknya. Padahal kenyataannya tidak.


Ia keluar dari mobil dan berjalan ke dalam. Ketika berada di resepsionist, ia tidak perlu menunggu untuk mendaftar. Mereka langsung membiarkannya naik lift ke atas. Ketika berada di lift, beberapa orang menatapnya. Ia hanya tersenyum dibalik kacamata hitamnya. Ia pun mengeluarkan handphonenya dan mengetik sesuatu.


Aku masih dirumah. Nanti aku hubungi kamu.


Saat sudah berada didepan ruangannya, ia mengetuk pintu. Terdengar suara langkah Andi. Jane menatap pakaian Andi yang terlihat sangat kotor.


"Sayang, baju kamu kenapa?" tanya Jane bingung.


Andi benar-benar terkejut siang ini. Jane datang ke kantornya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Ia bahkan belum sempat mengganti pakaiannya. "Ada apa kamu kesini?" tanya Andi bingung.


.


"Karena kamu lagi gak enak mood, jadi aku dateng kesini bawain kamu makan siang. Kamu pasti belum makan siang."


"Belum." jawab Andi sambil membukakan pintunya agar Jane bisa masuk.


"Kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba mood kamu jelek? Ada apa? Apa karena mama kamu?" tanya Jane.


Andi langsung memeluk Jane dari belakang. "Makasih karena kamu mau kesini. Kamu juga ngerti kalo mood aku lagi buruk. Maafin aku kalo aku nyakitin kamu tanpa sengaja."


Jane membalikkan badannya. Ia membalas pelukan Andi. "Untuk itu aku ada disini. Aku sayang sama kamu. Aku gak mau kamu telat makan. Aku gak mau kamu sakit. Jadi, kita makan sekarang yuk!" ajak Jane sambil melepaskan pelukannya. Ia memegang tangan Andi dan menariknya untuk duduk di kursi kerjanya.


Sepanjang perjalanan, Alena terus memegang tangan Erika. Erika sampai salah tingkah ketika para dokter menatap mereka sambil tersenyum.


"Kamu anak Tante. Jangan anggap orang yang liatin kamu." seru Alena.


Erika hanya tersenyum. Baru kali ini ia menemukan seseorang seperti Tante Alena. Jika bukan sahabat ibunya, ia pasti sudah menolak mendapatkan perlakuan seperti saat ini. Ia malu. Setiap orang menatap mereka.


Sesampainya disana, mereka dihadapkan dengan tenda relawan yang belum siap. Erika menatap sekeliling. Ia melihat tenda-tenda didirikan diberbagai penjuru. Ada dapur umum tak jauh darinya. Iapun menghampiri mereka. Para warga dan tentara banyak yang bekerja sama. Pemandangan yang jarang sekali ia lihat. Tampak terlihat berbeda dengan mobil-mobil dari media yang terparkir tak jauh darinya. Erika tidak tahan untuk mengeluarkan ipad nya. Ia memperhatikan setiap orang. Bahkan saat bencana sudah melanda tempat tinggal mereka, mereka masih bisa tertawa.


Setelah mengabadikan momen itu melalui iPad nya, iapun menghampiri dapur umum tersebut. Ia menghampiri ibu-ibu yang sedang memasak itu.


"Pa, saya tim relawan yang datang bersama rombongan dokter, ada yang bisa saya bantu?" tanya Erika ramah.


Pria-pria itu langsung salah tingkah. Salah satu dari mereka langsung berdiri dan memberikan sendok nasi pada Erika.


"Ini beda Bu.." jawab pria itu.


Erika tersenyum sambil melanjutkan pekerjaan pria tadi.


"Baru datang?" tanya seorang pria yang ada didepannya. Ia terlihat gagah dengan memakai kaos berwarna hijau. Rambutnya setengah pelontos tapi tidak menghilangkan wajahnya yang tampan.


Erika tersenyum. "Iya, saya disini tiga hari." jawabnya malu.


"Saya letnan Edo. Kamu bisa panggil saya Edo." jawab pria itu.


Erika merasa gugup. Ia hanya tersenyum. Iapun teringat sesuatu. "Oh ya, saya mau lihat daerah yang terkena bencana. Bisa?"


"Bisa. Nanti saya bisa antar kamu naik motor." jawab Edo.


"Thank you." jawabnya senang. Namun acara membantu memasak itu tidak lama karena ia dipanggil oleh dokter yang tadi datang bersamanya. "Oh tendanya udah siap. Saya pergi dulu." ucapnya sambil berdiri.


"Nanti saya tunggu kamu didekat tenda." ucap Edo.


"Oke." jawab Erika sambil melangkah pergi.


Setelah menyimpan tasnya, ia mulai sibuk membantu para dokter. Ia bolak balik mengeluarkan obat dari dalam mobil yang tertinggal. Ia begitu sibuk membantu mengeluarkan bantuan sosial bersama semua dokter yang tergabung. Mereka membawa bantuan praktis yang bisa langsung digunakan oleh para warga. Momen itu tak ayal membuatnya untuk menyimpan momen itu pada iPad nya kembali. Semua yang ia lakukan harus didokumentasikan. Ia sudah berniat membuat blog seperti yang dikatakan Bumi padanya.


Ketika ia keluar ruangan untuk beristirahat, ia terkejut melihat beberapa orang termasuk pria yang tadi mengajaknya ke tempat bencana. Mereka pun terlihat terkejut melihatnya keluar dari tenda.


"Bisa diwawancara sebentar?" tanya seorang wartawan.


"Hah?" jawab Erika kebingungan.


"Sebentar aja."


Erika menggeleng dengan cepat. "Saya gak bisa. Kalo mau wawancara ke pemimpin aja." ucapnya gugup.


"Kalo saya pasti mau. Halo, saya dari koran gosip." ucap salah satu dari mereka.


Erika sudah benar-benar kebingungan. "Kenapa ada koran gosip? Apakah ada hubungannya dengan Bumi?" Ia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Jika Bumi berada dibalik wartawan ini, maka tetangganya itu akan habis ditangannya.