
Jefry sudah berada didalam mobilnya. Namun ia masih harus menunggu Jane keluar dari lobby apartemennya. Ia mengetuk jari-jarinya di pintu mobilnya. Hari ini ia akan mengantar Jane pulang ke Manchester karena menurutnya liburan telah berakhir. Dan ia tidak mau Jane ada di London hanya untuk mengganggu Andi.
Jane terlihat keluar dari lobby sambil menggendong bayinya. Ia berjalan terburu-buru.
"Jef!" serunya ketika ia membuka pintu mobilnya.
"Kamu gak usah anter aku ke Manchester. Kamu anter aku ke stasiun." ujar Jane.
"Kenapa?"
"Aku lebih nyaman naik kereta. Kasian anak ku kalo harus berkendara beberapa jam." jawab Jane. Tidak terlihat ada yang mencurigakan dari wajahnya.
"Oke. Masuk ke mobil. Aku antar ke stasiun." ucap Jefry.
Jane masuk kedalam mobil sambil tersenyum licik. Tidak ada yang tahu rencana licik di otaknya. Demi masa depannya dan anaknya ia akan melakukan apapun. Semalam, ketika Jefry meninggalkan handphonenya karena ada urusan diluar, ia sengaja mengirimkan pesan pada Andi untuk meminta alamatnya. Andi tidak tahu jika yang mengirimkan pesan adalah dirinya.
"Jaga anak kamu baik-baik. Nanti kamu sendiri. Minggu depan aku udah pulang ke Indonesia." ucap Jefry.
"Aku tau Jef, aku pasti bisa jaga diri. Kamu jangan kuatir sama aku. Sesuatu yang baik akan datang gak akan lama lagi." ucap Jane
Jefry menoleh pada Jane. "Sesuatu yang baik? Apa contohnya?"
Jane hanya tersenyum tanpa mau menjawab pertanyaan Jefry.
Andi mengeluarkan koper-kopernya yang akan dibawa ke Jepang siang ini. Ia dan istrinya akan pergi ke Jepang untuk berbulan madu. Itulah yang ia tawarkan pada istrinya beberapa hari yang lalu.
"Masih ada waktu tiga jam buat ke bandara." ucap Erika ketika ia keluar dari kamar.
Andi duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Ia menatap istrinya yang terlihat lebih cantik. Auranya terpancar pagi ini. Padahal semalam ia sering mengeluh kesakitan di bagian pinggang. Mungkin karena terlalu banyak duduk di depan laptopnya. Jika dalam pekerjaan, istrinya memang tidak bisa dijauhkan. Untuk itulah ia bersedia menerima permintaan istrinya untuk tetap bekerja. Tapi melihatnya selama dua malam ini, ia merasa kasihan.
"Kenapa ngeliatin aku terus?" tanya Erika sambil berjalan menghampirinya.
"Boleh gak aku memuji betapa cantiknya kamu pagi ini." jawab Andi sambil tersenyum.
"Makasih. Kamu bakal menyesal kalo suatu hari nanti tinggalin aku." jawab Erika sambil tersenyum. Ada perasaan berbunga-bunga di hatinya.
Andi mengangkat jari-jarinya dan menarik lengan Erika sehingga ia terduduk di pangkuannya. "Mana mungkin aku tinggalin wanita sempurna kayak kamu." bisik Andi.
Erika tersenyum malu dan mengalungkan tangannya di leher Andi dan setengah berbisik. "Aku juga punya kekurangan."
"Kekurangan kamu biar aku yang melengkapi." jawab Andi sambil mengecup bibirnya dengan cepat. "Yes.."ucapnya ketika melepaskan diri. Ia melihat istrinya masih menatapnya bingung.
Andi langsung tertawa. "Kenapa? kaget?"
Erika langsung menatapnya dan kedua pipinya bersemu merah.
"Aku cium kamu bukan cuma sekali atau dua kali, tapi sering. Kenapa masih kaget?" goda Andi.
" Terlalu cepet. Aku belum siap." jawab Erika sambil menatapnya.
Tiba-tiba terdengar suara bel pintu nya berbunyi. Keduanya saling bertatapan.
"Siapa?" tanya Andi
Erika menggelengkan kepalanya. Iapun berdiri tapi ditarik Andi untuk duduk. "Biar aku aja yang buka."
Andi membuka pintu cepat tanpa melihat dahulu siapa yang datang ke penthouse nya. Ia terkejut melihat Jane yang datang.
"Ada apa Jane? Kok kamu tau tempat tinggal aku? Dari Jefry?" tanya Andi.
Jane menatap sendu pada Andi. Ia masih menggendong anaknya.
"Masuk Jane.." ucap Andi.
Ia masuk terlebih dahulu. Ia sedikit khawatir dengan istrinya jika ia tahu siapa yang datang. "Ojo, sayang. Ada tamu!" teriaknya.
Erika berdiri untuk melihat siapa yang datang ke tempatnya. Ia harus memiringkan badannya untuk melihat siapa yang ada di balik suaminya.
Jane menatap seluruh bangunan itu tanpa berkedip. Kedatangannya kali ini sudah benar. Semalam ia sudah berfikir panjang. Ini adalah kesempatan terakhirnya. Ia tahu Andi tidak pernah menyukainya. Tapi ini demi masa depannya dan juga anaknya. Ia harus melakukannya. Masalah hati bisa ia simpan di belakang.
Ia menatap Erika yang sedang duduk di sofa cantik itu dengan anggun. Ia memakai dress berwarna pink yang sangat sesuai dengan wajahnya yang cantik. Ia adalah seorang blogger? Semalam ia melihat blog milik wanita itu. Penggemar laki-lakinya banyak sekali. Ia yakin jika Erika bisa mendapatkan pengganti Andi dengan cepat.
"Jane!" panggil Erika padanya.
Wanita itu pasti terkejut melihatnya. Ya, hari ini ia datang dengan satu tujuan. Untuk merebut suaminya. Apakah wanita didepannya ini bisa dibodohi? Entahlah.. Kita coba saja.
Jane merubah mimik wajahnya ketika melihat Erika.
"Hai Erika, maaf aku mengganggu kalian." ucapnya. Ia melihat dua koper terletak tak jauh dari mereka. "Kalian mau pergi ya?"
"Kami berencana ke Jepang siang ini." ucap Andi cepat.
Jane menghampiri Erika dan duduk didepannya. Erika langsung mengambil anak Jane dan memangku nya. Anak itu diam saja ketika digendong Erika.
"Ada apa, Jane?" tanya Erika.
Andi berdiri di dekat Erika. Ia berdiri sambil memangku tangan.
Tiba-tiba Jane menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis. Erika menatap suaminya sejenak. Sedangkan Andi mengangkat kedua tangannya.
"Ada masalah apa, Jane?" tanya Erika.
"Aku mau ngobrol berdua sama kamu. Karena ini masalah perempuan." ucap Jane sambil terisak.
Erika menatap Andi. "Kamu keluar dulu. Tunggu di lobby. Nanti aku panggil."
"Oke. Kamu hati-hati." ucap Andi
Erika mengangguk.
Ketika Andi membuka pintu untuk keluar, Erika langsung menatap Jane. "Kamu mau ngomong apa Jane? Jangan bersandiwara lagi. Aku tau kamu lagi akting." ucap Erika tajam.
Jane mengangkat wajahnya dan membuka kedua tangannya. Ia tersenyum sinis. Wanita didepannya ternyata jauh lebih pintar dari dugaannya.
"Aku mau ngomong sama kamu. Omongan ini tulus dari lubuk hati aku paling dalam." ucapnya.
"Oke. Kamu mau ngomong apa?" tanya Erika.
Jane tersenyum dan sangat percaya diri. Ia menghela nafas terlebih dahulu sebelum berkata. "Aku minta kamu menyerahkan suami kamu sama aku."