Love Actually

Love Actually
Episode 111



Vino melepaskan tangan Sherly dan berlari ke depan ballroom. Ia tidak peduli Sherly memanggilnya. Ia mencari Sierra. Tapi sayangnya, acara itu telah selesai. Ia melihat salah seorang staf Daniel keluar membawa bunga-bunga besar. Ia menarik wanita itu.


"Kamu liat Sierra?" tanya Vino cemas.


"Belum liat lagi. Tadi keluar sama Daniel." jawabnya.


"Oke.. makasih."


Vino kembali berjalan menuju mobilnya. Ia segera ke rumahnya. Mungkin istrinya itu sudah pulang. Tapi ada yang harus ia lakukan saat ini. Ia menghubungi Dimas.


"Kacau Dim! Kacau!" seru Vino kesal.


"Gimana acaranya? Jadi mantan pacar kamu itu puas? Kalian ada di berita loh. Kamu cakep juga kalo udah masuk tv." goda Dimas.


"Brengsek kamu dim! Sierra ada disana! Dia liat aku sama Sherly. Dia ada di hotel itu juga.." ucap Vino panik.


"Trus?" jawab Dimas santai.


"Dia nangis Dim! Aku gak pernah kayak gini sebelumnya. Aku gak mau liat dia nangis. Aku salah. Aku gak denger ucapan kamu. Aku menyesal dim. Aku harus gimana dim? Aku takut. please, aku takut Sierra tinggalin aku." ucap Vino cemas.


"Paling dia cuma marah aja sama kamu. Aku bilang apa dari awal. Kamu nya aja yang bodoh. Masih mau dibohongin sama Sherly. Ini baru awal Vin. Pasti sekarang dia lagi cari cara lagi."


"Aku gak tau lagi gimana aku bisa berhadapan sama Sierra. Aku malu."


"Kamu dimana sekarang?"


"Aku lagi pulang ke rumah."


"Trus Sherly?"


"Aku tinggalin dia di hotel. Aku gak peduli. Aku harus ketemu Sierra sekarang."


"Oke. Acara besok kita undur dulu, gimana?" tanya Dimas.


"Oke." jawab Vino.


"Biar aku juga hubungi istri kamu. Aku yakin dia gak mau angkat telepon dari kamu." jawab Dimas.


"Please, dim! Aku gak ngerti caranya. Aku belum pernah merasa bersalah kayak gini."


"Itu karena kamu cinta sama istri kamu. ngerti?"


Vino menatap jalanan yang mulai kosong. Ia terdiam dan menghentikan mobilnya. Ia memang mencintai Sierra. Hanya kebodohan kecil ini saja ia hampir kehilangan wanita itu. Ia harus cepat sampai ke rumah.


Dimas menutup teleponnya. Ia menghela nafas. Iapun mulai menghubungi Sierra. Beberapa kali nada tersambung.


"Halo.." jawab Sierra malas


"Sierra. Aku Dimas."


"Aku tau."


"Kok jawabannya gitu?"


"Kamu disuruh sama Vino?" tanya Sierra ketus.


"Enggak. Aku telepon kamu karena aku liat berita di tv. Sherly, mantan pacar Vino kembali."


"Aku tau. Aku liat mereka langsung."


"Aku bukannya membela suami kamu. Tapi, Vino dijebak buat ikut ke hotel itu. Aku tau semua karena waktu Sherly dateng ke kantor, aku ada disana."


"Trus aku harus diem aja liat Vino sama wanita itu?"


"Justru mau minta kamu jangan kalah dari Sherly. Yang aku tau obsesi buat Vino saat ini besar. Kamu jangan lengah Sierra. Saat ini Vino cuma cinta sama kamu. Lebih baik kamu pulang. Tadi Vino telepon aku katanya dia cemas sama kamu. Kalian harus bicara."


Sierra terdiam. Ia menatap gaun yang seharusnya ia pamerkan pada suaminya. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang dan menutup matanya.


Vino tidak bisa tidur. Sierra melihat semuanya. Dan yang lebih menyakitkan, istrinya tidak pulang. Ia tahu kesibukan istrinya. Tapi jika ada kejadian seperti semalam, apa ia harus diam dan duduk dengan tenang? Ia terus menatap pintu rumahnya. Terdengar suara mobil. Iapun berdiri dan berjalan keluar. Ternyata yang datang adalah Sherly.


"Aku cuma khawatir aja. Mana istri kamu?" tanya Sherly tenang. Ia dan Vino masih berada diluar rumah.


"Kamu jangan macam-macam! Jangan kesini lagi, aku gak mau istri aku curiga." Ucapnya kesal.


"Curiga kenapa? Kalian ada hubungan apa?"tanya Sierra yang tiba-tiba saja sudah berdiri didepan pintu. Ia terlihat fresh.


Vino menghampiri Sierra dengan cepat dan memegang bahunya dan berbisik. "Kamu gak apa-apa? Sorry!"


Sierra tersenyum. "Seperti yang kamu liat sendiri. Aku masih ada disini."


"Aku cemas banget. Sini aku bawain tasnya ke kamar." Ujar Vino. "Nanti aku jelasin." Bisiknya.


Ketika Vino masuk kedalam, Sherly menghampirinya. Wanita itu menatap Sierra dari atas kebawah. Wajahnya sinis. Tapi Sierra tidak mau kalah darinya.


"Jadi kamu istrinya Vino? Ya ampun, Vino kebangetan. Masa punya istri kayak gini? Reputasinya bisa hancur." Ejeknya membuat wajah Sierra merah padam akibat kesal.


"Tapi kami udah menikah. Dan bukan kamu yang dia nikahi." Jawab Sierra tenang.


"Aku kasian sama kamu, kalian emang nikah. Tapi percuma. Kalian menikah cuma nama aja. Vino masih cinta sama aku!"


Sierra menghela nafas. " Oh ya? Kata siapa Vino masih cinta sama kamu? Biar Vino sendiri yang memilih diantara kita. Siapa yang dia pilih?"


Vino menghela nafas. Ia mendengar kata-kata itu. Ia dengan cepat keluar.


"Oke. Aku bisa pastikan Vino memilih aku dengan cara apapun. Kamu tau apa soal Vino? Dasar, kamu merebut calon suami aku! Kalo gak ada kamu, Vino sama aku udah nikah."


Sierra tertawa sinis "Sorry, kamu bilang apa? Merebut calon suami kamu? Bukannya kamu yang pergi dan memilih karir kamu?"


Sherly mengepalkan jari-jarinya. Ia marah. "Oke, kita taruhan! Kalo dia milih aku, kamu mau ninggalin dia? Pergi untuk selamanya?" Tanya Sherly sinis.


Vino menggelengkan kepalanya. Ia menatap wajah Sierra yang tiba-tiba cemas. "Jangan, Sierra. Kamu jangan ikut-ikutan Sherly! Please!"


"Ya" ucap Sierra tidak mau kalah.


"Cukup!" Vino berteriak dengan kencang. Ia menatap Sherly kesal. "Pulang! Kamu gak diterima di rumah ini!"


Sierra melihat Vino menarik lengan wanita itu menuju mobilnya. Iapun masuk kedalam kamar dan berbaring karena semalaman ia tidak tidur.


"Jangan macem-macem, Sherly. Udah cukup kamu bohongin aku!" Ucap Vino. Ia menatap Sherly dengan kesal.


"Kamu pasti milih aku, Vin. Aku yakin. Kamu harus fair. Istri kamu bilang kamu harus milih. Itu artinya masih ada kesempatan buat aku."


Vino membalikkan badannya dan masuk kedalam rumah. Ia menutup pintu rumah dengan keras. Ia mulai mencari Sierra. Ia membuka pintu kamar Sierra pelan, istrinya itu tidur padahal biasanya jika libur seperti ini Sierra tidak pernah diam. Dia suka mengajaknya jalan-jalan keluar.


Vino duduk disamping ranjang. Ia menyentuh rambut Sierra.


"Pergi! Aku lagi pengen sendiri." Ucap Sierra dengan mata tertutup.


Vino merasa bersalah. "Maafin aku. Semuanya gak direncanakan. Sherly jebak aku."


"Pergi. Aku mau istirahat. Jangan ganggu aku hari ini."


Vino menarik bahu Sierra untuk bangun. Ia memeluknya. "Kamu mau pukul aku juga silahkan, tapi tolong jangan marah lagi. Aku semaleman gak bisa tidur gara-gara pikirin kamu. Kamu pasti masih shock liat aku sama wartawan. Aku gak tau itu."


Sierra melepaskan pelukannya. "Aku memang shock liat kalian berdua. Aku pikir kamu sama Sherly lagi. Tadinya aku mau mundur waktu Sherly bilang kalo aku yang merebut kamu."


"Jangan didenger omongan Sherly. Trus kenapa sekarang kamu marah?"


"Aku marah karena kamu cerita sama Dimas. Kenapa harus Dimas yang meyakinkan aku soal sosok Sherly itu? Bukan kamu? Kenapa semalam kamu gak ada satupun niat buat telepon aku trus jelasin semua?"


"Aku bingung. Aku gak pernah kayak gini sebelumnya. " jawab Vino. "Trus kenapa sih kamu bikin taruhan itu?"


"Karena aku mau liat ketulusan kamu. Kamu pernah bilang kamu mungkin cinta sama aku tapi saat itu gak ada Sherly. Sekarang aku mau tau. Apa Sherly bisa merubah perasaan kamu sama aku?"


"Gak ada yang berubah, Sierra. " Vino mengecup kening Sierra. Iapun berdiri dan berjalan keluar kamar. "Aku bikin sarapan dulu. Kamu diam di sini. Aku buat makanan spesial buat kamu."


Sierra perlahan menyentuh keningnya yang tanpa terduga itu. Ia menatap pintu yang sudah tertutup rapat. Sepertinya ia yakin kali ini jika Vino memang sudah memilihnya.