Love Actually

Love Actually
Episode 76



Walaupun pertemuan mereka singkat, tapi Alena senang karena ia dan firly akhirnya bertemu setelah sekian lama. Ia melihat handphonenya. Nomor Firly sudah disimpan dengan baik. Ia hanya tinggal menemuinya nanti di rumah Firly. Dilihat dari alamatnya, itu bukan daerah terkenal. Tapi itu tidak masalah selama Firly ada di kota yang sama dengannya.


“Al, kenapa aku kok kasian ngeliat Firly?” tanya Sandra ketika kedua berada dimobil yang sama untuk pulang.


“Ya, awalnya aku banyak berfikir soal Andi. Tapi aku jadi mikirin Firly sekarang.”jawab Alena.


“Aku tadi liat dia ketemu sama dua orang laki-laki. Kayaknya dari pihak bank.”


Alena mengangguk. “Ya, aku juga liat sekilas. Kita bantu dia sebisa mungkin. Firly udah banyak bantu kita. Kita harus sabar denger cerita dia lengkap. Karena mulai sekarang kita stop ikut-ikutan rumah tangga anak kita, lebih baik kita melakukan sesuatu yang lebih berguna. Andi dan Ojo sudah dewasa. Kita dukung aja keputusan mereka baik dan buruk. Tapi, kalo ada sesuatu yang salah, sebagai orangtua kita harus mengingatkan."


Sandra hanya mengangguk.


Di perjalanan menuju London, Andi selalu mengeluh lelah. Viar yang ada disampingnya hanya menyemangatinya. Malam sudah menjelang, dan ia belum sempat membuat surprise yang akan ia berikan pada istrinya. Andi menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil.


“Aku yakin malam ini kita belum baikan.” ucap Andi tiba-tiba.


Kepergian mendadak ke Brussel membuatnya kelelahan. Ia bahkan belum sempat makan karena panggilan ini membuatnya shock. Ia tidak pernah berurusan dengan kepolisian Brussel yang terkenal menakutkan. Baru saja berbicara dengan Viar tadi siang soal istrinya, ia mendadak harus terbang ke Brussel untuk memberikan keterangan pada polisi. Semuanya terjadi dengan cepat.


“Aku yakin istri kamu pemaaf. Coba kamu mulai dengan minta maaf dulu.” jawab Viar.


“Semuanya gara-gara Jane. Kalo dia gak ada Manchester, gak mungkin aku penasaran sama kehidupan dia sekarang.” ucap Andi sambil menutup matanya.


“Semuanya juga salah kamu. Coba kamu gak penasaran. Tapi daripada menyalahkan diri sendiri dan orang lain, lebih baik kamu berfikir bagaimana caranya minta maaf karena di jam seperti ini, kayaknya udah gak mungkin bikin kejutan buat istri kamu.”


“Kita ke kantor dulu sebentar.”ucap Andi masih dengan mata tertutup.


“Oke. Kamu keliatan pucat, bos.”


“Gak pucat gimana. Aku dateng sebagai saksi, tapi diinterogasi layaknya pelaku pembunuhan.Aku sampai gak sempet makan” jawab Andi. Tiba-tiba ia terpikir sesuatu. “Sebelum ke kantor, kita cari dulu toko bunga.”


Erika menatap jam tangannya. Sudah malam dan ia baru saja pulang. Suaminya tidak menghubunginya sama sekali. Iapun duduk di sofa dan menatap pemandangan lampu yang ada diluar. Ia berfikir. Bagaimana sekarang? Apakah suaminya akan pulang?


Iapun mencoba menghubungi suaminya terlebih dahulu. Ia akan mengalah kali ini. Ia ingin menyelesaikan semuanya.


“Halo..”jawab Viar.


Erika mengerutkan keningnya. Kenapa Viar yang mengangkat teleponnya?


“Suami kamu tidur karena kecapean.Aku lagi anter dia pulang.” jawab Viar.”Kita baru pulang dari Brussel. Ada masalah.” bisik Viar.


“Masalah apa?” tanya Erika panik.


“Nanti kamu tanya sendiri sama suami kamu.”jawab Viar.


“Kalo gitu aku tutup teleponnya.” ucap Viar.


Erika berjalan menuju pintu dan membukanya. Ia terkejut melihat satu bucket besar mawar merah yang dibawa oleh seseorang. Setengah badannya bahkan tidak terlihat karena saking besarnya bucket itu. Erika membiarkan pria itu masuk terlebih dahulu.


Ini suaminya? Seingatnya, Viar tadi berkata jika suaminya sedang diantar. Tapi kenapa ia sudah ada didepannya?


Erika memiringkan wajahnya dan kembali tegak. Ia mengambil bucket bunga yang menutupi setengah badannya dan menyimpannya dibawah. Ia menatap suaminya yang terlihat malu.


“Sejak kapan seorang playboy kayak kamu keliatan malu-malu.”ejek Erika.


“Ejek aku sesuka kamu, Jo. Aku minta maaf sama sikap aku tadi pagi”jawab Andi pelan.


Erika menatap wajah lelah yang terlihat tulus meminta maaf padanya. Iapun melangkah untuk mempersempit jarak mereka. Ia mengangkat kedua tangannya dan memegang wajah suaminya.


“Kamu janji sama aku gak akan ke Manchester lagi?”


“Aku janji.”


“Oke, aku maafin kamu.” jawab Erika pelan.


Andi lega sekaligus senang. Kelelahannya terbayar dengan diterimanya permintaan maaf darinya.Ia menunduk dan menyimpan kepalanya di bahu istrinya. Ia merasakan kedua tangan istrinya memeluknya.


“Kamu jahat juga tadi pagi. Pokoknya jangan pernah bilang kata-kata itu lagi. Kamu gak tau gimana beratnya hari ini setelah mendengar ucapan itu. Aku lelah, Jo..”


Erika tersenyum.


Andi menyandarkan kepalanya di bahu Erika. Setelah selesai makan malam yang sangat terlambat, mereka berdua duduk di beranda kamar sambil meminum teh panas. Udara dingin mulai terasa menusuk. Andi mempererat pelukannya.


“Ada kejadian apa di kantor?” tanya Erika.


“Ada kasus pembunuhan di Brussel dua hari yang lalu. Dan aku juga baru tau.”


“Kenapa gak tinggal disana sementara?”


“Apa kamu pikir masalah kita bisa diatasi dengan aku tinggal disana? Aku mau menyelesaikan semua masalah aku sama kamu dulu, Jo. Aku gak tenang. Aku takut kamu tinggalin aku.”bisik Andi dengan mata tertutup.


“Lalu tadi kamu ke Brussel ketemu polisi?”


Andi mengangguk. “Siang ini aku dapet surat panggilan dari kepolisian disana. Aku mau kamu percaya sama aku. Apapun yang terjadi, kamu harus percaya sama aku. Aku gak akan mungkin tinggalin kamu. Gak sekarang ataupun nanti. Kalo aku tinggalin kamu, kamu bisa pukul aku pake sendok sayur sekalipun.”


Erika tertawa dengan ucapan suaminya.