Love Actually

Love Actually
Episode 84



Jefry tiba di klinik dengan membawa beberapa plastik berisi makanan untuk Jane. Siang ini anaknya sudah bisa pulang dan dilakukan perawatan dirumah. Ia melihat Jane sedang melamun dan menatap keluar kamar.


Jefry masuk dan cukup mengagetkan Jane. Walaupun keduanya sedang dalam keadaan tidak baik, tapi demi bayi yang sedang sakit itu, ia bisa mengalihkan kekecewaannya. Ia menyimpan makanan diatas meja.


"Makan dulu. Masih ada beberapa jam sampai kita bisa pulang. Itu menurut dokter." Ujar Jefry. Ia duduk tak jauh dari tempat tidur.


"Kenapa anakku bisa langsung pulang? Lagipula Andi udah bayar rumah sakit ini."


Jefry menyimpan kopi yang sedang dipegangnya. "Andi.. Andi.. Bisa agak kita gak ngomongin andi. Berapa kali aku ngomong sama kamu. Andi udah punya istri. Jangan ganggu kehidupan mereka. Lagian kamu aneh. Anak kamu udah bisa pulang, harusnya kamu seneng Jane." ucapnya marah


Jane tersenyum. "Justru karena masih baru, aku bisa tes mereka. Sebesar apa perasaan mereka masing-masing. Dan anakku yang bisa jadi pion buat dapetin Andi. "


"Kamu keterlaluan Jane. Aku kecewa. Cuma gara-gara materi, kamu berubah. Obsesi kamu udah bukan kuliah lagi. Tapi ketemu pria kaya yang masih beristri untuk kamu ganggu."


Jane kembali tertawa hambar. "Makanya dari awal aku udah bilangin kamu buat gak ikut campur urusan ini. Kamu cukup nonton aja."


"Lebih baik kamu pulang ke Manchester. Ada kamu disini gak baik buat aku." ucap Jefry tajam.


"Galak banget sih. Kamu sadar gak kalo Andi bisa aku dapetin, semua kekurangan aku bisa terpenuhi. Dan orang yang bisa melakukannya itu Andi."


"Dia udah nikah, Jane. Apa aku harus bawa kamu ke penthouse mereka buat liat gimana kebahagiaan mereka?"tanya Jefry.


"Gak perlu. Bisa bikin aku iri." jawab Jane pendek.


Sebuah ketukan membuat mereka kembali terdiam. Jane menatap salah seorang perawat yang rela membawakannya makanan untuk anaknya. Ia tersenyum.


"Thank you.."


"Aku kesel, Dav.." ucap Erika.


Davi menganggukkan kepalanya. "Aku setuju. Suami kamu ternyata menyebalkan. Buat apa dia nolong mantan pacarnya? Toh disini dia ada saudara."


"Makanya aku pergi. Aku udah bilang ke Andi hari ini dia gak boleh hubungi aku. Aku butuh sendiri."


"Trus sekarang kamu mau kemana?" tanya Davi sambil membawakan gelas berisi air putih.


"Aku gak punya tujuan. Tadinya aku gak mau kesini. Tapi aku pikir, lebih baik aku mampir dulu ke apartemen kamu sebelum aku pergi buat cari konten."


"Kamu kerja lagi?"


Erika mengangguk. "Aku malah diminta buat ke Jepang. Ada interview disana."


"Secepatnya."


Davi duduk disampingnya. "Aku seneng kamu kerja lagi. Sekaligus aku bangga sama kamu. Suami kamu yang super kaya itu gak bikin kamu gila. Kamu tetep mencintai pekerjaan kamu. Andi setuju?"


"Perjanjian pranikah kita tertulis kok. Dia gak boleh melarang aku buat kerja." ucap Erika sambil berdiri.


"Sekarang kamu mau kemana?"


"Cari konten. Aku udah bilang mau pergi tanpa tujuan."


Davi menatap jam tangannya. Sesekali ia melihat pintu. Ketika ia melihat Erika berjalan ke pintu, Davi ikut berlari. "Jangan dulu pulang. Kita ngobrol dulu."


"Gak bisa. Aku harus pergi sekarang." ucap Erika sambil membuka pintu.


"Kamu pikir kamu mau pergi kemana?" tanya Andi yang sudah berada di balik pintu.


Davi tersenyum samar melihat wajah Andi yang terlihat tegang itu. Ia tahu jika sahabatnya itu sedang dalam keadaan tidak baik ketika ia menghubungi suaminya. Ditambah kedatangan Erika ke apartemen mereka. Baru saja Erika datang, ia langsung memberikan pesan pada suaminya tentang keadaan Erika. Tapi ia tidak menyangka bosnya akan datang cepat.


Erika berjalan melewati Andi. "Aku mau pergi jalan-jalan."


Andi tidak melepaskan istrinya begitu saja. Ia menarik lengan istrinya. "Jo.. kasih tau apa salah aku?"


"Gak ada.."


"Trus kenapa kamu aneh hari ini? Dari semalem kamu gak ngomong. Pagi ini juga. Aku gak ngerti kalo kamu gak ngomong. Dimana letak kesalahan aku?" tanya Andi marah.


"Aku males kalo kamu marah gini." ucap Erika sambil melepaskan genggaman tangan suaminya.


Wajah Andi kemudian melunak. "Ok, sorry.." jawabnya sambil menunduk.


"Kita bisa bicara baik-baik." ucap Erika melunak.


"Kemanapun kamu pergi hari ini, aku anter." ucap Andi.


Andi membawa mobilnya ke Richmond Park. Sebuah taman dan cagar alam yang menurutnya romantis itu cocok untuk membawa istrinya pergi. Mereka memang harus banyak bicara dari hati ke hati. Dan tempat yang ia butuhkan bukan tempat yang ramai. Ia butuh tempat tenang.


Baru turun dari mobil saja, ia bisa melihat mata berbinar istrinya. Ia antusias dan mengangkat kameranya untuk langsung mengabadikan tempat itu. Berbagai jenis bunga yang sudah bermekaran membuat situasinya pas dengan keadaannya saat ini.