
Sandra hanya bisa terdiam di kamarnya. Ia tidak bisa makan seharian ini. Vino membuat kepalanya sakit. Tadi siang ketika ia dan Erika menyusulnya, Vino tidak ada dirumah. Rumah pun dibiarkan kosong dan tidak terkunci. Telepon Vino tidak bisa dihubungi sejak siang. Entah apa yang ada di pikiran Vino saat ini. Ia marah dan kesal karena membuat sesuatu yang memalukan. Jika ini kesalahan Vino sepenuhnya, ia malu. Bukan saja pada Firly, tapi pada semua orang yang mengenalnya. Bagaimana jika ancaman Sierra tentang perpisahan benar adanya? Ia membaringkan tubuhnya. Kepalanya pusing.
Calvin masuk ke kamar sambil membawakan nampan berisi makanan. Ia menatap Sandra didepan pintu. Baru kali ini mereka dihadapkan oleh peristiwa seperti ini. Ini juga pertama kalinya ia melihat istrinya itu tidak mau makan seharian. Ia berjalan menghampiri Sandra.
"Sandra.." panggil Calvin.
Sandra menoleh tanpa bereaksi sedikitpun. Calvin duduk disamping tempat tidur sambil memegang piring.
"Kamu harus makan. Nanti malah kamu yang sakit." ucap Calvin.
"Jadi anak itu kemana? kenapa dia gak bertanggung jawab sama sekali? Ada masalah apa sama mereka?" tanya Sandra kesal.
"Erika sama Andi lagi terus coba hubungi Vino. Kamu tenang aja." jawab Calvin.
"Aku gak bisa tenang kalo menyangkut Sierra. Dia perempuan. Gak pantes disakitin sama Vino. Vino malu-maluin keluarga." ucap Sandra sedih.
"Aku tau. Aku juga daritadi hubungi Vino tapi teleponnya diluar jangkauan. Mungkin dia lagi ke tempat yang susah sinyal." jawab Calvin.
Erika pun sama khawatirnya dengan ibunya. Ia terus menatap handphone nya. Ia sudah mengirimkan ratusan pesan pada adiknya sejak siang. Tapi sayang, pesannya masih belum sampai.
"Kamu dimana sih Vino.." ucap Erika khawatir.
"Barusan aku dapet telepon dari Cilla. Katanya Vino lagi dijalan mau ke Paris."
"Cilla? Sepupu kamu?" tanya Erika bingung.
Andi mengangguk.
"Sejak kapan mereka kenal?" tanya Erika lagi.
"Aku gak tau. Menurut aku, itu gak penting. Yang penting sekarang kita harus hubungi Vino dulu. Kita harus cari tau kejadiannya." jawab Andi. "Oh ya, aku tadi bilang Cilla buat hubungi kita kalo dia udah ketemu sama adik kamu?"
Erika mengangguk. "Makasih, Andi.. jujur aja aku cemas banget nunggu Vino."
Andi mengangguk. "Kita jangan dulu kasih tau mama. Kita tunggu sampai bisa hubungi Vino."
Erika hanya mengangguk. Ia berdiri dan berjalan menuju kamar ibunya. Ia melihat dari balik pintu, ayahnya sedang meminta ibunya untuk makan. Ya, sejak siang ibunya belum makan. Ia terpukul mendengar cerita Sierra ingin mengakhiri hubungannya dengan adiknya. Rasanya seperti bermimpi di siang hari. Seminggu yang lalu mereka terlihat baik-baik saja. Bahkan terlihat saling mencintai. Tapi kenapa tiba-tiba ada berita itu? Kenapa Sierra ingin berpisah? Lalu bagaimana dengan Vino? Apakah ia memang ingin berpisah juga? Gara-gara apa?
Erika menyadari kedekatannya dengan Vino tidak sama seperti ketika ia belum menikah. Ia selalu mengawasi gerak gerik Vino. Namun sejak menikah, ia memiliki masalah sendiri. Apalagi sekarang ia sedang hamil.
Ia menghela nafas. Ia menatap jam tangannya. Pukul 9 malam. Iapun kembali ke ruang tamu dan duduk sendirian. Ia masih saja merasa ada sesuatu yang aneh.
"Lagi mikir apa?" tanya Andi yang tiba-tiba sudah berada disampingnya.
"Kamu tadi bilang kalo Vino lagi ke Paris?" tanya Erika.
"Iya. Tadi Cilla yang bilang..."
Tiba-tiba saja Erika mengingat sesuatu. Ia menatap Andi. "Kamu sadar gak? Sherly ada disana kan? Sherly itu sahabatnya Cilla kan? Apa maksudnya ini? Apa gara-gara Sherly?" tanyanya.
"Bisa jadi. Tapi apa separah itu? Apa Vino memilih Sherly dengan pergi ke Paris?"
"Aku gak tau. Tapi segala kemungkinan itu tetep ada kan?"
Terdengar suara handphonenya berbunyi dari kamar. Erika langsung berlari padahal perutnya sudah membesar. Untungnya ada Andi yang ikut memegang tangannya.
Ia melihat siapa yang memanggilnya. Benar saja. Vino menghubunginya.
"Can you explain to me?" tanya Erika marah.
"Kak, aku bisa jelasin semuanya. Kakak udah tau kejadiannya?" tanya Vino gugup.
"Sierra gak cerita dan kita gak mau cerita dari dia. Kami mau cerita dari kamu. Cepet cerita!"
"Nanti aku jelasin setelah pulang dari Paris." ucap Vino cepat. Ia langsung menutup teleponnya.
"Vino, jangan gitu! Vin!!" panggil Erika marah.
...***...
"Bodoh!" ucap Dimas kesal.
Vino menoleh pada Dimas. Mereka sedang dalam perjalanan menuju hotel. Baru saja turun dari pesawat, ia terkejut melihat ratusan panggilan dari kakaknya. Belum dari ibunya dan ratusan pesan dari kakaknya. Ia tahu kini dirumahnya pasti sedang genting.
"Jangan bilang gitu, dim.."
"Aku bisa kasih dia pengertian. Aku udah minta Mili buat jagain Sierra."
"Pengertian? Vino, istri kamu itu udah pergi. Aku yakin pas kita pulang nanti, kamu ditodong sama surat perceraian kalian."
Vino menatap Dimas kembali. "Gak mungkin. Waktu terakhir kita pisah, dia sempet bilang cinta sama aku. Aku minta dia jangan menyerah."
"Dua kali trauma ditambah trauma sekarang. Emang kamu pikir perasaan perempuan itu mudah? Hidup kamu cuma kenal sama dua wanita aja. Pertama Sherly, kedua Sierra. Kamu gak kenal Sierra melebihi Sherly. Aku ngomong gini karena aku gak mau kamu terlambat."
"Aku cuma berharap urusan ini cepet selesai." jawab Vino.
Sepanjang perjalanan, Vino terus menatap handphonenya. Setiap panggilan yang masuk semuanya dari rumah. Tapi tidak ada satupun dari Sierra. Apa memang rencananya salah? Ia melirik Dimas yang kini sedang tertidur di sampingnya.
Apartemen Cilla berada cukup jauh dari bandara. Ia dan Dimas diberikan tempat karena apartemen Cilla memiliki beberapa kamar. Untung saja ketika ia menghubungi Cilla, gadis itu langsung bergerak cepat. Ia sudah mengetahui jika kepulangan Sherly untuk mengganggu kehidupannya.
Taxi yang mereka tumpangi sudah sampai didepan apartemen. Ia melihat Cilla menunggunya di lobi apartemen. Ia pernah bertemu dengan Cilla sekali ketika mereka bertemu di rumah orangtuanya beberapa waktu yang lalu. Gara-gara masalah ini, ia menjadi dekat. Padahal sebelumnya tidak pernah.
"Kak, demi Sierra kakak langsung terbang kesini." ucap Cilla ketika menghampirinya.
"Kakak?" tanya Dimas bingung. "Usia kalian cuma beda satu tahun."
"Gak usah komen. Diem aja.." seru Vino.
"Yuk kita ke atas dulu. Aku mau liatin sesuatu." ucap Cilla.
Mereka bertiga pun bergegas ke kamar Cilla. Ketika pintu dibuka, mereka terkejut dengan seorang wanita yang wajahnya mirip sekali dengan Cilla.
"Loh, kok ada dua?" tanya Dimas bingung.
"Gak usah norak. Mereka berdua kembar.." ucap Vino.
"Ini Cello kembaran aku. Kebetulan dia lagi di Paris sebulan ini. Dan dia juga sebenernya jadi saksi kasus plagiat yang sedang kakak hadapi." ucap Cilla.
Vino mengerutkan keningnya. Ia bingung. Bagaimana bisa Cello menjadi saksi? Ia menatap Cello. Gadis itu melambaikan tangan padanya. Ia tersenyum. "Kita ketemu lagi.." ucap Cello.
Vino melirik Dimas. "Kalo gak tau lebih baik diem aja. Jangan komentar."
Dimas mengangkat kedua tangannya. "Aku diem kok.."
Vino duduk didepan Cello sedangkan Dimas berada di sampingnya. Cilla terlihat sedang membuatkan minuman untuknya. Ia melirik ke semua ruangan. Untuk apartemen seorang gadis lajang, ini terlalu mewah. Ia bisa melihat beberapa vas bunga tersimpan dengan rapi di berbagai penjuru ruangan. Begitu pula dengan nuansa tropis dari setiap ruangan. Ia bisa melihatnya dengan jelas.
Kembali ke kasusnya. Ia menatap Cello yang terlihat sedang mempersiapkan sesuatu. Ia bisa menunggu. Apalagi untuk Sierra.
Cello memperlihatkan sebuah gambar padanya. Ia membalikkan laptop miliknya. Sebuah gambar dengan design yang sangat mirip dengan gambar yang Sierra buat. Waktu itu Sherly pernah memperlihatkan gambar itu padanya.
"Ini karya Maria Grazia. Salah satu mentor Cello waktu kuliah dulu. Dan salah satu mentornya Sierra juga. Mungkin aneh, tapi kami berdua ternyata lulus di kampus yang sama. Tapi beda angkatan. Gambar yang Sierra buat ini, sebetulnya dengan sepengetahuan Maria Grazia. Aku juga sempet bikin. Ini gambarnya." jelas Cello.
Vino melihat dengan seksama gambar itu. Keduanya memang terlihat tidak ada yang berbeda. Ia kembali menunggu penjelasan Cello.
"Mahasiswi yang beruntung di mentori Maria Grazia ini, diajak ke salah satu rumah mode untuk membuat sebuah design. Memang aneh, tapi aku juga gitu. Terakhir, kita buat fashion show khusus yang di ijinkan langsung oleh Maria Grazia. Dari sini kalian bisa ngerti kan?"
"Brengsek, Sherly! Bisa-bisanya dia tipu aku. Aku gak ngerti masalah mode ini." umpat Vino. "Trus kenapa dia bisa trauma gara-gara design itu?"
"Bukan trauma sebenernya. Tapi bangga. Kalo kamu sebut trauma, itu salah kak." ucap Cello.
Vino merasa sangat bodoh. Ia dibohongi oleh Mili. Kenapa Mili mengatakan Sierra trauma gara-gara kasus itu? Ia langsung menghubungi Mili.
"Halo! Bisa-bisanya kamu telepon aku, dasar gak tau malu!" seru Mili marah ketika ia baru saja menerima telepon.
Vino mengerutkan keningnya. "Harusnya aku yang marah sama kamu! Kenapa kamu bilang kasus plagiat itu jadi trauma Sierra?"
"Ya, aku bilang trauma karena aku mau kamu memperlakukan Sierra lebih baik. Ternyata aku salah. Sierra menderita. Aku gak terima sahabat aku disakiti sama kamu!" seru Mili sambil menutup teleponnya.
"Shitt!" umpat Vino marah.
Dimas menggelengkan kepalanya. Ia merangkul bahu Vino. "Pembelajaran buat kamu. Kalo menerima informasi itu harus disaring dulu. Jangan langsung memutuskan sebuah masalah. Kamu harus pikirkan dulu akibatnya. Bisa-bisanya kamu dibohongin sama sahabat istri kamu sendiri."
"Kalo kita tau ini lebih dulu, Sierra gak akan pamit dari rumah." ucap Vino kesal.
Cilla pun menghampiri Vino. "Ini kak, salinan yang aku dapet. Sebelum Sherly pulang ke Indonesia, aku sempet ancam dia untuk tidak mengganggu hubungan kakak. Ternyata dia gak tau malu. Dia bikin istri kakak pergi dari rumah."
Vino membaca kalimat demi kalimat yang menjelaskan beberapa klausul. Ia menatap Cilla. "Ini senjata kita?"
Cilla mengangguk.