
"Aku cinta kamu, Jo."
Erika melepaskan pelukan Andi. "Cinta gak gini caranya. Kamu gak pernah sekalipun berkorban buat aku. Kamu lebih mementingkan wanita itu daripada aku."
"Enggak. Itu salah besar. Aku gak pernah mementingkan Jane. Kamu salah, Jo!"
"Buktinya waktu di rumah sakit kamu perhatian sama anaknya Jane. Aku sakit hati liat pengorbanan kamu buat Jane dan anaknya." ucap Erika dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, aku mengakui kalo soal itu aku salah. Aku gak pikirin perasaan kamu. Maafin aku."
"Keluar. Aku minta kamu buat keluar dari kamar ini." ucap Erika.
"Jangan kejam Jo. Aku udah jauh-jauh datang dari London buat nemuin kamu disini. Kalo orangtua kita tau, gimana perasaan mereka nanti?"
"Perasaan mereka? Tentu aja mereka seneng. Karena kamu sia-sia in aku." jawab Erika cepat.
"Aku menghormati kamu, Jo. Aku gak pernah menyiakan kamu."
"Bohong. Buktinya kamu baru sekarang datang nemuin aku."
Andi tersenyum sekilas. "Walaupun kita berdua jauh, tapi aku tau kok setiap gerakan kamu. Itu buktinya aku gak menyiakan kamu. Aku ganti bunga disini setiap hari. Aku liat kamu bangun tidur, aku liat kamu makan sendiri dan kadang sambil nangis. Aku juga minta pegawai hotel buat kirimin kamu sarapan pagi yang enak. Aku tau semuanya. Aku juga tau kamu kangen sama aku."
Erika melihat sekelilingnya. "Kamu pasang cctv?" tanyanya bingung.
"Menurut kamu apa? Aku frustasi gak bisa nemuin kamu dua minggu. Jefry bilang kamu gak ke Jepang pas diliat dari manifest. Jefry juga cari kamu di manifest pesawat lain tapi hasilnya gak ada. Aku gak diem Jo. Aku coba hubungi kamu tapi gak pernah kamu angkat. Aku cari kamu kemana-mana tapi aku gak cari kamu di Indonesia karena aku yakin kamu gak kesana."
"Trus kenapa kamu baru kesini sekarang?Bukannya dua minggu yang lalu? Trus gimana Jane sama anaknya? Kamu udah cocok kok jadi ayah. Kenapa enggak nikahin Jane aja biar anak itu jadi anak kamu.." tanya Erika kesal.
Erika mencoba mendorong Andi tapi pelukannya semakin erat. "Aku gak cemburu! Lepasin aku."
"Aku gak akan lepasin kamu. Denger, kenapa aku baru dateng kesini? Karena aku lagi siapin surprise buat kamu. Kamu mau tau apa? Akhirnya kita bisa pulang ke Indonesia,Jo. Kita kembali ke rumah Jo, kamu gak akan kesepian lagi. Aku gak akan tinggalin kamu kemanapun kecuali kerja."
"Pindah?" tanya Erika bingung.
"Iya pindah. Kita pulang Jo. Kamu pasti berfikir aku jahat karena aku gak nemuin kamu dua minggu yang lalu. Tapi aku punya alasan Jo. Aku lagi persiapkan dokumen buat kita pulang. Brussel itu jauh, jadi aku gak bisa cepat-cepat kesini."
Ada perasaan bahagia memuncak di lubuk hatinya. Ia tidak tahu jika suaminya sedang mempersiapkan sesuatu untuknya.
"Yang kedua. Kenapa aku gak menikahi Jane?" tanya Andi. Erika diam dengan jantung yang berdebar dengan kencang. Ia siap mendengarkan jawaban suaminya. "Karena aku cuma cinta sama kamu. Apa kamu tega ngeliat aku menikahi wanita yang enggak aku cintai? Aku udah bilang tadi. Dari awal aku udah cinta sama kamu. Bukan Jane. Buktinya aku lebih sakit hati waktu liat kamu pacaran sama artis itu. Mungkin itu yang dinamakan cinta sebenarnya Jo. Kita berdua bisa sama-sama belajar. Jadi, sekarang aku minta kamu menerima aku buat mendampingi kamu selamanya, Jo. Aku mau nunggu kok sampai kamu cinta sama aku. Aku gak akan minta apapun sama kamu kecuali hati kamu." ucap Andi serius.
Erika melepaskan pelukan Andi dan menatapnya. Ia tidak melepaskan kedua tangannya yang sedang memegang kedua sisi kemeja suaminya.
"Aku jelasin lagi, Jo. Tolong jangan dipotong. Gini, yang ketiga. Anak Jane jadi anak aku?"tanya Andi.
"Ya, kenapa enggak?"
"Mana mungkin aku jadi papa anaknya Jane, kalo aku sendiri mau jadi papa?" bisik Andi sambil memegang perut Erika.
Erika melepaskan tangannya dan mundur. Ia menatap Andi bingung . "Papa?"
Andi mengangguk sambil tersenyum. "Tadi pagi aku ngikutin kamu ke klinik. Aku tau kamu gak enak badan. Aku penasaran sampai nunggu di klinik selama beberapa jam buat liat hasil tes kamu. Ternyata positif.."
"Positif?"