Love Actually

Love Actually
truth



Keesokan harinya


Erika memasuki pintu rumah sakit seorang diri. Hanya saja ia diantar oleh ibunya sampai ke depan gerbang rumah sakit. Ia melangkah penuh curiga. Tatapan orang-orang padanya membuat kakinya lemas. Ia tidak biasa ditatap seperti itu. Ia merasa dirinya seperti seorang buronan. Inilah yang ia tidak mau. Ini semua gara-gara Bumi. Ia harus menemuinya hari ini untuk menyelesaikan semuanya. Tadi pagi ketika ia masih berada dirumah, berita tentang dirinya masih saja dibahas. Menurut ibunya, selama Bumi belum melakukan klarifikasi, berita itu masih saja muncul. Iapun teringat ucapan tante Alena. Ia harus menyelesaikannya.


Ia masuk ke ruangannya dan menutup pintu dengan rapat. Ia melepaskan pakaiannya untuk diganti menjadi pakaian kerja. Namun ia berfikir sejenak ketika ia membuka kemeja nya. Ia urungkan niatnya mengganti pakaian dan memakai pakaian yang tadi. Ia berjalan keluar untuk menemui Dokter Ivan. Ia melangkah tanpa melihat ke kiri dan ke kanan. Ia melihat beberapa suster sedang berkumpul didekat kantor Dokter Ivan. Ketika ia mendekat, semuanya terdiam. Iapun mengetuk pintu.


“Masuk!” jawab Dokter Ivan.


Ketika Erika masuk, ia terkejut melihat beberapa dokter sedang ada disana.


“Dok, bisa saya ngobrol? Itupun kalau dokter gak terganggu” tanya Erika.


“Kebetulan. Kita lagi membahas kamu. Kamu tau kan masalah apa?” tanya Dokter Ivan sinis.


Erika menunduk. “Maafkan saya dok karena tanpa sengaja membuat kekacauan di rumah sakit ini.”


Dokter Ivan tersenyum hambar. “Sebenarnya beritanya bagus. Saya kasih selamat sama kamu, Erika. Tapi rumah sakit ini menjadi sorotan.”


Erika menunduk semakin dalam. Ia teringat surat peringatan.


“Dan kamu kemarin dua hari pergi tanpa pemberitahuan pada kami. Sebenarnya kamu pikir rumah sakit ini rumah yang bisa kamu datangi sesuka hati kamu?” tanya Dokter Ivan marah.


Erika mengangkat wajahnya. Beberapa dokter terdiam dan terlihat takut pada Dokter Ivan. “Saya bersedia bertanggung jawab dok.” jawab Erika dengan nada tertahan. Ia hampir saja menangis.


“Dengan?” tanya Dokter Ivan sambil memeluk kedua tangannya. Tubuhnya ia sandarkan di meja kerjanya.


“Mulai hari ini, saya mengundurkan diri dari rumah sakit ini.” ucap Erika tegas.


“Kamu menyerah begitu cepat?”


“Saya tahu diri dok. Saya berulang kali melakukan kesalahan. Saya pikir sudah cukup. Itu saja yang mau saya sampaikan dok. Terima kasih untuk semua pelajaran yang saya terima di rumah sakit ini. Sampai jumpa lagi.” ucap Erika sambil membalikkan badannya dan mulai berjalan menuju pintu.


Ketika dibuka, ia melihat suster-suster menatapnya.


“Kalian gak perlu nguping! Jangan-jangan kalian fansnya Bumi?” ucap Erika sinis.


Orang-orang itu langsung berpencar kembali ke tempat masing-masing.


Lega. Itulah yang ia rasakan. Satu masalah telah ia selesaikan. Iapun kembali ke kantornya untuk membawa tasnya. Ia membereskan beberapa berkasnya terlebih dahulu dan menyiapkannya untuk dibawa pulang. Iapun menghubungi rumah untuk menjelaskan pada ibunya.


“Ma, aku resign.. Rasanya lega.” ucap Erika pelan.


Sandra merasa hatinya hancur. “Are you Ok?” tanya Sandra.


“Aku baik-baik aja ma. Aku pulang sekarang. Jangan jemput aku.” ucap Erika.


“Kamu yakin bisa pulang sendiri?”


“Ya. Banyak taxi didepan rumah sakit. Aku bisa pulang sendiri.” jawab Erika.


“Oke. Hati-hati di jalan.” jawab Sandra. Padahal ia baru saja sampai ke rumahnya setelah mengantar Erika tadi.


Erika melintasi beberapa orang pasien di lantai bawah. Ia menjinjing barang-barang miliknya yang akan dibawa pulang. Ketika berada di depan resepsionis, ia dipanggil oleh seseorang. Ia menoleh. Kepala keamanan memanggilnya. Ia berlari menghampirinya.


“Ada yang cari ibu?” ucapnya dengan nada terengah. Badannya yang besar membuat pria itu berkeringat. Padahal dari tempatnya berdiri hanya berjarak kurang dari 20 meter.


“Ada dipos jaga Ikut saya bu.” ucapnya.


 


Erika mengikuti pria itu. Ia tertegun ketika melihat siapa yang mencarinya. Seorang wanita muda mencarinya. Ia hanya seorang diri. Wanita itu cantik. Tapi ia terlihat berbeda. Ia seperti tidak bisa menjaga tubuhnya.


“Siapa ya?” tanya Erika.


Wanita itu tampak malu-malu. “Saya.. saya…” ucapnya tertahan.


Erika memahami suasana yang begitu tegang. Ia menyimpan barang-barang yang akan dibawanya pulang di pos keamanan. “Tolong pa, saya titip ini sebentar.”ucapnya.


Erika dengan cuek menarik wanita itu untuk berjalan ke sebuah cafe yang terletak di samping rumah sakit. Untungnya cafe itu mempunyai tempat kosong didalam. Biasanya di jam-jam siang seperti ini, tempat mereka selalu penuh.


“Saya Erika Ojo.” ucap Erika sambil mengulurkan tangannya. Ia tersenyum ramah.


“Saya Manda.” jawab wanita itu malu.


“Oke Manda, apa yang bisa saya bantu? Kamu kenal sama saya?”


“Saya tahu setelah melihat berita kemarin.” ucapnya.


“Oh..” jawab Erika pendek. “Oke, sekarang saya mau tanya. Ada urusan apa kamu mencari saya?”


“Bumi. Pria itu gak bertanggung jawab sama sekali pada saya dan anak saya.” ucapnya dengan mata nanar.


Erika shock ketika mendengarnya. Apakah ini skandal yang mereka bicarakan? Ia melihat wanita itu menunduk dan memainkan jari-jarinya. Ia yakin butuh keberanian untuk menemuinya. Ia kemudian melunak.


“Jujur, saya kaget waktu denger ini. Maaf sebelumnya, apa Bumi menikahi kamu?” tanya Erika hati-hati.


Wanita itu mengeluarkan dua buah buku nikah yang disimpannya. Erika mengambil salah satunya dengan tangan bergetar. Ia terlalu gugup untuk melihat sebuah kebenaran. Ia membukanya perlahan. Ia membaca dengan seksama. Tahun 2015? Itu berarti pernikahan mereka sesuai dengan skandal yang terjadi pada Bumi beberapa tahun yang lalu? Jika ia sedang berdiri, ia pasti lemas sekarang. Tapi untung saja kegugupannya dapat dilalui ketika dua buah minuman datang kepadanya.


“Minum dulu. Wajah kamu pucat.” ucap Erika. Ia ingin agar wanita didepannya merasa nyaman.


Manda menatap Erika. “Kamu gak apa-apa? Aku masih istri Bumi sampai sekarang.” ucapnya dengan nada bergetar.


Erika memegang tangannya dan tersenyum. Mungkin kali ini ia bisa dikatakan bisa berakting dengan baik. Jika ibunya melihatnya saat ini, ia pasti sudah memberikan sanjungan padanya.


“Saya baik-baik aja. Karena kebenaran pasti menemukan jalannya.”ucapnya. Ia membuka kembali buku nikah yang dipegangnya. “ Sejak kapan Bumi meninggalkan kamu?”


“Tiga tahun. Sejak anak saya berusia satu tahun setengah.”


Erika kembali menatap wanita didepannya.


“Jadi skandal dia menghamili seseorang itu kamu?”


“Iya.” jawab Manda. Ia mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan foto-foto anak mereka.


Erika menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Perempuan kecil dengan wajah dan rambut mirip Bumi sedang tersenyum menatap kamera. Ia menutup wajahnya. Bagaimana bisa Bumi meninggalkan seorang gadis cantik yang sangat mirip dengan dirinya? Apakah Bumi sudah tertutup mata hatinya?


“Maaf. Saya gak bermaksud mengambil Bumi dari kamu. Tapi saya gak mau kamu seperti saya.” ucap Manda.


“Gak. Sekarang saya tahu apa yang harus saya lakukan. Kamu ikut saya sekarang!” seru Erika sambil berdiri. Ia meninggalkan minuman yang belum tersentuh sama sekali olehnya. Ia tidak harus menunggu taxi karena ia akan membawa wanita disampingnya berjalan kaki. Ia yakin Bumi tidak bisa kemanapun dengan wajah memar seperti itu. Kemarin Vino memukulnya dengan sangat kencang sehingga Bumi terpelanting beberapa meter dari tempatnya berdiri.