Love Actually

Love Actually
Episode 93



Erika dan Sandra sedang duduk di meja makan untuk menunggu makanannya dihidangkan.


"Jo, masa suami kamu yang bikinin makan buat kamu.." ucap Sandra.


Erika tersenyum. "Udah biasa ma. Waktu di Brussel juga gitu."


"Iya ma. Ojo gak mau makan kalo buat Andi yang bikin." ucap Andi yang saat itu masuk ke ruang makan dengan membawa satu piring makanan.


Sandra menggelengkan kepalanya. "Mama malu sama kamu." ucapnya pada Andi.


Andi tersenyum. "Gak apa-apa ma, daripada Ojo gak mau makan. Nanti bahaya buat bayinya. Aku ngalah aja. Masak itu gampang kok. Untung Ojo minta makanan yang gak susah dibuat."


Erika menoleh pada Andi dan tersenyum. "Makasih.."


Andi mengangguk sambil tersenyum.


"Eh, ma.. Vino ngapain di Jepang?" tanya Erika.


"Katanya dia ada kerjaan disana. Dia pergi sama Dimas kok." jawab Sandra. "Mama kesel sama Vino. Dia cuma nurut sama omongan kamu."


"Emang kenapa ma?"


"Dia minta pindah ke rumah yang ada di atas. Katanya biar deket sama kantor. Padahal kalo diliat, apa bedanya rumah ini sama rumah itu?" jawab Sandra kesal.


"Sabar ma. Vino memang anaknya gitu. Kita harus sabar."


"Jo, waktu kamu ke Paris, kamu ketemu sama pacarnya Vino kan?" tanya Andi pada Erika.


Erika menatap perubahan wajah ibunya. "Sherly? Iya sempet ketemu." jawabnya hati-hati.


"Mama gak setuju kalo Vino masih berhubungan sama model itu." ucap Sandra marah.


...t...


...o...


...k...


...y...


...o...


Narita Tokyo.


Sierra berjalan dengan cepat menuju tempat pemberhentian taksi. Ini adalah liburannya yang kedua ke Jepang tanpa siapapun. Alasannya sangat masuk akal. Ia pergi ke Tokyo untuk menonton salah satu grup idola disana yang sangat fenomenal. Semua teman kantornya tidak ada yang mau mengantarnya menonton. Maklum saja, mereka tidak suka dengan hal berbau Jepang atau apapun. Sedangkan ia sendiri mendapatkan tiket secara tidak sengaja setelah mengikuti undian salah satu komunitas. Walaupun sebenarnya ia juga sudah menyiapkan uangnya tapi tidak banyak. Pekerjaannya sebagai agen di wedding organizer tidak terlalu menghasilkan banyak. Tapi ia bersikeras datang ke Jepang.


Selama satu tahun Sierra menyimpan uangnya rapat-rapat agar ia bisa mewujudkan mimpinya untuk menonton konser itu. Ia tidak mengenal siapapun di Jepang, tapi ia cukup percaya diri untuk berada disana. Selama masih bisa bahasa isyarat, ia tidak takut. Sedangkan bahasa Inggris, hampir tiga tahun ia tidak menggunakan bahasa inggrisnya dengan baik. Karena kesibukannya, kadang ia lupa.


Dan sekarang ia kebingungan. Kenapa tidak ada taxi satupun disana? Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia menemukan sebuah bis yang bisa mengantarnya ke Bunkyo. Di bis itu tertera nama hotel yang akan ia datangi kali ini. Selama di tokyo, ia akan menginap di Tokyo dome hotel. Daniel memberikannya voucher hotel. Lumayan. Jadi ia tidak terlalu mahal membayarnya. Banyak sekali fans dari luar negeri yang menginap di hotel itu. Itu terlihat dari antrian yang terlihat olehnya. Mereka bahkan biasa menempelkan sesuatu di jendela kamar mereka untuk memberikan petunjuk jika mereka berada disana. Tapi tidak bagi Sierra.


Ia menatap dengan takjub keadaan dijalanan Tokyo. Masih tetap sama seperti tiga tahun yang lalu. Mengingat 3 tahun yang lalu, membuat hatinya sakit. Ia pergi ke Jepang dengan Yoga yang kala itu adalah calon suaminya. Mereka memutuskan berlibur ke Jepang. Namun lengalaman pahitnya, ia mendapat kabar sebulan kemudian jika calon suaminya itu kembali ke Jepang dan menikah dengan warga sana.


Pria itu pergi tanpa mengatakan alasannya.


Setelah satu minggu, salah seorang sahabatnya mengatakan sesuatu mengenai pernikahan itu. Pernikahan itu benar adanya. Ia dikhianati oleh pria itu. Sierra merasa hancur. Walaupun sebenarnya ia tidak tahu pasti kenapa pria itu meninggalkannya. Dan ia menyadari satu hal. Kedatangannya ke Jepang kali ini, selain menonton konser iapun ingin melakukan pembuktian bahwa ia kini baik-baik saja.


Sierra masuk kedalam hotel itu dan menemui resepsionis. Pelayanan mereka sangat ramah. Walaupun ia tidak bisa bahasa inggris dengan lancar, tapi mereka memakluminya karena banyak fans dari luar negeri yang menginap disana.


Mereka menaiki lift untuk mencapai lantai 8.


Ketika ia membuka gorden kamarnya, ia dapat melihat kubah tokyo dome yang megah itu.


Ketika ia pergi, Sierra melihat keluar jendela. Antrian para fans untuk membeli souvenir artis itu sangat panjang. Sierra menyadari keuangannya tidak sebanyak itu. Ia hanya melihat dari kamarnya dan sesekali memfotonya. Ia memutuskan untuk tidur karena nanti pukul 5 sore ia harus mengantri masuk kedalam area konser.


SHINZUKU, JEPANG


Suasana meeting siang itu sangat menyenangkan. Pemerintah daerah Shinzuku Jepang tertarik mengambil ide tentang pembuatan taman metropolis yang dicanangkan oleh seorang arsitek muda dunia bernama Vino Alvaro. Ia dipanggil oleh pemerintah daerah Shinzuku untuk membuat portofolia tentang taman metropolis yang telah ia ciptakan di Indonesia. Tapi itupun gara-gara salah satu dosennya yang merekomendasikan dirinya untuk kembali ke Jepang.


Sejak datang ke Shinzuku dua hari lalu, ia bersama Dimas sibuk membuat maket planning dihotel tempatnya menginap. Vino menatap wajah terkesan dari pria-pria jepang itu. Ia yakin proyek kali ini ia akan berhasil. Layout yang terpampang dilayar merupakan design terbarunya. Ia menginginkan ruang terbuka ramah anak. Menurutnya semua daerah didunia harus memiliki ruangan khusus bagi anak-anak sehingga tidak membatasi pergerakan mereka untuk tetap bersenang-senang.


Tepuk tangan meriah oleh pejabat Shinzuku tidak menggoyahkan keinginannya untuk menghampiri mereka dan menunduk untuk berterima kasih karena akan mempercayakan proyek itu padanya.


"Kamu luar biasa, Vin! Harus kita rayakan sekarang!" Bisik Dimas.


Vino hanya melirik sekilas. Ia tidak terlalu tertarik dengan ucapan teman sekaligus asistennya. Ia tetap menyesap rokoknya dengan tenang. Ia ingin berjalan-jalan sebentar sebelum besok pagi pulang ke indonesia. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar cafe itu. Sedangkan Dimas masih menatapnya bingung karena temannya tidak mengatakan apa-apa.


Sierra membuka keduamatanya. Ia berlari ke jendela. Antrian konser itu sudah semakin penuh. Ia panik, dengan cepat langsung ke kamar mandi dan bersiap-siap.


Ketika ia keluar hotel, antrian pintu masuk telah mencapai luar hotelnya. Sierra beruntung karena menonton di tempat paling depan.


Selama hampir 4 jam ia terus berjingkrak sampai kelelahan. Ketika ia keluar arena konser, ia merasa perutnya lapar. Walaupun malam, tapi Tokyo masih hidup selama 24 jam. Ia memutuskan berjalan-jalan mencari makan malam.


Sambil membawa kamera dan tas kecilnya, ia terus berjalan menyusuri jalanan Tokyo. Ia tidak sendiri. Banyak orang-orang didepan dan dibelakangnya. Kebanyakan dari mereka adalah turis dan orang yang baru pulang kerja.


Dari kejauhan ia dapat melihat kedai makanan yang masih buka. Sierra bisa tersenyum dengan lega. Iapun masuk kedalam..


"Moshi-moshi!" Ucap pelayan disana yang rata-rata pria. Kedai itu masih ramai walaupun sudah jam 9 malam. Banyak sekali muda mudi yang makan disana.


Sierra mengangguk dan tersenyum. Ia hanya mengacungkan jari telunjuknya.


"One person?"tanyanya ramah.


"Yes!" Jawab Sierra bersemangat.


Disisi lain, Vino menatap seseorang yang baru saja masuk kekedai langganannya. Wanita itu cuek tapi ia masih dapat terlihat cantik. Bukan saja itu, wanita itu terlihat bersemangat. Ia tersenyum pada pelayan itu dengan natural. Ia yakin wanita itu sama sepertinya. Wanita itu orang indonesia.


Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara handphone nya. Ketika melihat di layar, nama Dimas terlihat. "Ya" jawabnya cepat tanpa menolehkan tatapannya pada wanita tadi. Wanita itu kini duduk dengan jarak 2 meja didepannya. Ia terus melihat kekanan ,dan kekiri. Ia seorang diri.


"Vino, Kantor kita kebakaran!" Ucap Dimas panik.


Vino berdiri karena terkejut. "Kantor dimana?"


"Di Indonesia. Sekarang aku dibandara. Kamu bisa langsung kesini. Penerbangan kita jam 10 malam."


"Oke, aku pergi sekarang!" Ucapnya cepat. Ia mengambil jaket dan tasnya kemudian berlari menuju terminal taxi yang tak jauh dari sana.


Ketika ia membuka pintu dengan cepat, gadis yang dilihatnya tadi menoleh kearahnya. Namun gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.