
Sejak pulang dari Tokyo beberapa minggu lalu, Sierra merasa tidak bersemangat. Ia berjalan di sebuah taman seorang diri. Tempat duduk dari kayu itu seakan menertawakannya. Ia bingung. Ketika tadi di tempat kerja, ia masih saja mendengar olokan teman-teman kerjanya. Ditinggalkan menikah itu bukan sesuatu yang mudah untuknya. Ia harus menata ulang perasaannya. Berbagai rencana harus ia kubur. Dan banyak yang mereka tidak tahu. Mereka hanya bisa menghukum dirinya dengan olokan itu tanpa pernah bertanya apa yang telah terjadi padanya. Untung saja Daniel datang dan membawanya pergi mencari lokasi. Malam menjelang tapi ia tetap saja malas untuk pulang kerumah. Ia mulai mengingat setiap kejadian ketika berada di salah satu mall di Tokyo.
Sierra menatap satu persatu gerai dan toko pakaian. Kakinya lemas melihat berbagai pakaian yang sedang trendi di Jepang saat ini. Ia harus merogoh dompetnya lebih dalam untuk membelinya. Uang yang dikumpulkan selama ini akan habis dengan cepat. Bagaimanapun ia adalah seorang calon designer yang terus dipendam hasratnya karena terbentur biaya dan masalah keluarganya saat itu. Ketika melihat jenis pakaian yang sedikit aneh, pikirannya langsung liar. Iapun masuk ke dalam toko.
Ketika sedang melihat satu persatu pakaian, kakinya dipegang oleh seorang anak kecil yang kemungkinan berusia 3 tahunan. Wajahnya lucu. Ia tidak pernah berfikir anak Jepang akan berwajah seperti orang indonesia pada umumnya. Sierra berjongkok. "Halo.." ucapnya gemas.
"Adel..! Ah kamu disini rupanya"Ucap seorang wanita yang terlihat tengah hamil itu.
"Kamu orang Indonesia?"tanya Sierra takjub
"Oh iya. Apa anakku mengganggu?"tanyanya ramah.
"Enggak. Anak kamu lucu dan menggemaskan. Aku suka. Aku senang bertemu dengan orang satu negara."
"Perkenalkan. Namaku Monita. Sebenernya aku tinggal disini baru satu tahun. Biasa, ikut suami tugas."Ucapnya sambil mengulurkan tangannya. Monita sangat ramah sekali.
"Aku..."ucap Sierra terhenti ketika melihat seorang pria yang sangat ia kenal dibelakang wanita itu.
Monita menoleh kebelakang dan tersenyum. "Dia suamiku, Yoga."
Jantung Sierra mendadak berdebar dengan kencang. Ia lemas. Ia bahkan memegang dengan kencang rak pakaian yang berada disampingnya.
"Kalian saling kenal?"tanya Monita bingung. Ia melihat suaminya dan perempuan yang ada didepannya dengan bingung. Keduanya terlihat terkejut.
"Aku baru pertama kali bertemu suami kamu" Ucap Sierra dengan bibir bergetar. Sesekali ia melihat anaknya yang besar.Ia menjulurkan tangannya pada Yoga. Tanpa melihat kedua matanya, ia mengucapkan nama. "Sierra." Tanpa sengaja ia menekan tangannya pada Yoga.
"Yoga."ucapnya cepat. Tak dapat dipungkiri pria itu pun sama terkejutnya seperti dirinya.
"Maafin aku, aku harus pergi." Sierra melihat anak itu "Berapa umurnya?"
"Empat tahun." Jawab monita. Ia masih bingung melihat sikap Sierra tiba-tiba.
Sierra menatap Yoga sambil menggelengkan kepalanya. Ia kecewa. Empat tahun? Ia telah dibodohi selama 2 tahun? Lalu, siapa yang datang kerumahnya untuk melamarnya? Lalu kenapa teman-temannya berbohong tentang pernikahan Yoga? Jadi selama ia berhubungan dengan yoga, pria telah memiliki istri? Sierra berlari ke hotel.
Masa sekarang
Ya, liburan yang tadinya menyenangkan tiba-tiba menjadi liburan yang paling buruk untuknya. Ia merasa tubuhnya letih dan otaknya perlahan akan terlepas dari tempatnya. Ia kecewa, sedih, marah dan entah apa lagi. Semua perasaan telah bercampur menjadi satu didalam dadanya.
Matanya begitu perih. Mengapa ia begitu mudah dibodohi? Ia mulai terisak. Airmata yang selama ini ditahan setelah pulang dari Jepang, keluar. Mengapa ia baru menyadarinya saat ini?
Firly tengah berada disebuah arisan teman-teman sekolahnya. Lebih dari 30 tahun yang lalu ia dan teman-temannya lulus. Tapi mereka masih saling menghubungi hingga saat ini. Usia Firly sudah tidak muda. Beberapa orang yang baru saja datang langsung disambut dengan antusias. Maklum saja mereka bertemu hanya satu bulan sekali. Arisan yang diadakan itu baru saja menginjak kedua kalinya. Iapun tadinya tidak akan datang. Tapi Alena memaksanya terus.
Makanan yang datang belum disentuh karena orang yang berkepentingan belum tiba. Alena biasa datang dengan suaminya. Menurut teman-temannya Alena harus menghadiri peresmian sebuah rumah sakit. Mereka tidak tahu saja jika Alena adalah sahabatnya. Malam ini saja ia tidak datang dengan Dave. Melainkan dengan Sandra.
Ketika mereka sedang bercanda, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang langsung mereka tahu. Alena dan Sandra tiba dengan dandanannya yang luar biasa mewah. Jika ingat masa sekolah dulu, Alena awalnya bukan dari keluarga kaya raya. Tapi sejak kebenaran itu muncul, Alena langsung hidup dengan mewah. Bahkan ia memiliki suami seorang bilionare saat itu. Itulah yang Firly pikirkan saat melihatnya sekarang.
Semua orang yang hadir membawa keluarganya. Hanya Alena dan Firly yang tidak membawa keluarganya. Restoran yang sejak tadi tenang menjadi gaduh. Anak-anak berlari kesana kemari. Sedangkan para orangtua memulai pengocokkan nama undian.
"Firly, kenapa setelah lama gak ketemu, kamu jadi lebih pendiam?" tanya Sandra.
Firly hanya tersenyum. "Emang dulu aku gimana?"
"Waktu kita berempat sering ngumpul, cuma kamu yang rame. Aku jadi penasaran. Ada apa sama kamu? Aku janji gak akan ngomong ke Alena." ucap Sandra cepat.
"Aku gak apa-apa." jawab Firly.
Tiba-tiba saja Alena sudah duduk disampingnya. "Awas kalo kalian cuma ngobrol berdua. Tentang apa?"
"Bahasan biasa." jawab Sandra
"Sierra udah pulang. Dia lah sibuk cari tempat." jawab Firly.
Alena menatap keduanya. "Mau kamu jodohin sama Vino?" tanyanya.
"Kalo dijodohin, aku kok kasian sama mereka. Aku takut mereka gak bahagia."
"Semuanya serahin sama aku." jawab Sandra bersemangat. "Kamu inget kan, antara aku sama Calvin itu dijodohkan awalnya. Tapi akhirnya ada kejadian yang bikin kita harus menikah cepat. Toh sekarang kita awet. Nah, aku mau ketemu sama anak kamu itu. Aku mau liat, apa dia cocok sama Vino."
Alena ikut mendengarkan. "Bukannya Vino udah punya pacar?"
"Pacarnya kayak gitu. Vino harus nunggu pacarnya itu sukses dulu. Enak aja, aku gak setuju.."
Firly tersenyum. "oke..."
"Aku harus ketemu sama anak kamu dulu." ucap Firly.
Firly masuk kedalam rumahnya ketika mobil yang mengantarnya telah pergi. Terlihat lampu kamar anaknya masih terang. "Sierra.."panggilnya.
Sierra keluar dari kamarnya. "Ya ma.." ucapnya dengan mata sembab. Firly menghampiri anaknya dan dengan lembut memeluknya. Ia tidak ingin bertanya apa yang terjadi. "Sabar sayang. Semuanya akan baik-baik saja."
Sierra selalu tenang jika mendengar ucapan ibunya. "Terimakasih ma."
"Mama belum pernah mendengar ceritamu ke Jepang. Gimana nonton konsernya?"
Sierra melepaskan pelukan ibunya. "Biasa aja."
Terdengar suara telpon rumah berbunyi. Sierra pergi untuk mengangkatnya. "Halo.."
"Halo.. bisa bicara dengan Firly?"
"Maaf darimana?"
"Bilang saja dari teman SMA nya." Jawab wanita itu.
"Oh iya tante. Tunggu sebentar."Sierra berlari memanggil ibunya. Iapun kembali kekamar dan melanjutkan pekerjaannya yang tadi yaitu menangis. Menangisi kesialan dan kebodohannya selama ini.
“Halo..” jawab Firly
“Halo Firly, Aku Sandra”
“Aku tadi berfikir dijalan. Kayaknya kita harus ketemu dulu..Gimana kalau besok siang di rumah aku”
“Tentang apa?”
“Tentang anakku. Kita denger ceritanya. Sama siapa lagi aku harus cerita kalau bukan sama kamu.”
“Oke. Besok siang aku pergi ke tempat kamu”
“Terimakasih, Firly. Kamu benar-benar baik.”