
"Ada apa ini? Tadi diluar mama dan papa dengar Sierra berteriak." ucap Sandra.
Sandra dan Calvin penasaran dengan kehidupan Vino karena setelah menikah, ia belum pernah pulang ataupun sekalipun menghubunginya. Ketika Calvin baru pulang kerja, Sandra terpikir untuk pergi menginap satu malam di rumah yang sedang ditempati Vino.
"Gak ada apa-apa ma, Vino nya menggoda terus." Jawab Sierra sedikit gugup.
Sandra mendekati mereka. Ia menatap Vino. "Awas kalo kamu macam-macam!" ancam Sandra.
"Gak usah ancam Vino ma." jawab Vino.
Calvin tersenyum. Ia menghampiri Sierra.
"Kamu harus maklum, mereka masih pengantin baru. Kalaupun ada ribut, kan itu bumbu pernikahan mereka. Kita juga gitu kan. Oh ya, bisa kamu buatkan papa kopi, Sierra?"
Sierra mengangguk cepat. Ia langsung pergi meninggalkan Vino dan orangtuanya.
"Jadi kapan kamu pindah kantor dan pindah rumah?" Tanya Calvin ketika mereka sudah berada didalam rumah.
"Mungkin baru pindahan bulan depan pa. Kalau pindah rumah dengan Sierra masih belum tahu. Kayaknya kita mau disini saja." Jawab Vino.
"Kalo papa kasih nasihat, lebih baik kamu cari rumah dan tinggal berdua. Papa yakin kehidupan kalian lebih nyaman." ucap Calvin.
"Vin, kamarnya Ojo dikunci?"tanya Sandra sambil berdiri.
Vino langsung berdiri. Jika ibunya melihat kamar itu dipakai Sierra, mereka akan tahu kalau Sierra dan dirinya tidak tidur satu kamar. Dan bencana akan datang malam ini.
"Dikunci ma, mama tidur dikamar aku aja. Biar aku sama Sierra dikamar itu. Ranjang yang ada dikamar kakak udah sedikit keras." Jawab Vino cepat.
"Ya udah, mama lelah sekali hari ini. Lebih baik mama tidur. Tolong bilang ke Sierra, mama tidur duluan. Besok aja kita bicara lagi."
"Iya ma" jawab Vino. Disaat itulah Sierra keluar dari dapur. Ia menatap kepergian ibu mertuanya. kemudian langsung menatap Vino. pria itu hanya mengangguk pelan dan menginsyaratkan sesuatu.
...***...
Vino melangkah ke kamar Sierra. Waktu sudah hampir pagi. Dan ia sudah sangat mengantuk. Ayahnya terus mengajaknya mengobrol sampai pagi. Kedatangan orangtuanya membuat ia dan Sierra harus berdamai. Keberuntungan memihak padanya kali ini. Susah sekali mendapatkan maaf dari Sierra. Seumur hidupnya, ia tidak pernah bertemu dengan seseorang yang dapat merubah sikapnya dengan cepat. Ia kini tersadar. Penilaiannya terhadap setiap orang kini berubah.
Pintu dibuka perlahan. Ini adalah pertama kalinya ia masuk ke kamar Sierra sejak hari pernikahan mereka. Ia melihat Sierra sudah tertidur dengan nyenyak dibalik selimutnya. Tengah ranjang telah ditata guling dan bantal sebagai pembatas. Vino sedikit tertawa geli melihatnya. Gadis itu tidak percaya pada suaminya sendiri. Tapi, dimana-mana hanya pria yang tidak bisa menahan godaan. Ia kembali tertawa konyol.
Vino sedikit tertarik dengan suatu benda yang berada diatas meja kerjanya. Ia melihat beberapa kertas design. Ada pula beberapa gambar yang belum selesai. Sangat kejam baginya jika ia melarang Sierra mengerjakan kesenangannya. Ia harus menjadi suami yang baik.
Kemudian ia melihat ada album foto. Sepertinya masih baru. Vino membukanya satu persatu. Foto-foto ketika istrinya itu berada di Jepang membuatnya tertarik. Sierra benar-benar gadis cantik. Wajar saja jika saat itu ia tidak dapat memalingkan wajahnya pada sosok wanita yang saat ini sudah menjadi istrinya itu. Ia ingat jika istrinya itu sempat bercerita jika kepergiannya ke Jepang semata-mata bukan karena uangnya sendiri. Tapi ada sebagian hasil pemberian teman-temannya yang di Paris. Padahal waktu itu ia sempat berfikir jika istrinya bisa pergi keluar negeri dari pemberian laki-laki hidung belang. Ternyata ia salah. Kemudian Vino melihat ketempat tidur dan dengan sembunyi-sembunyi ia mengambil salah satu foto itu dan menyimpannya disaku celana. Lalu ia meletakkan kembali album itu. Ia terkekeh seakan mendapatkan sebuah lotre.
"Belum"
Vino menoleh panik. Ia pikir Sierra terbangun. Namun nyatanya ia mengigau. Ia tersenyum dan menghampirinya. Ia berbaring disamping Sierra dan menatapnya. Mata Sierra bergerak ke kiri dan ke kanan. Mungkin ia sedang bermimpi, pikir Vino. Ia kembali tersenyum melihat wajah tidur Sierra. Ia tidak pernah bosan melihat wajahnya. Ia terus melihat hingga iapun tak sadar tertidur.
"Sierra, kamu bisa libur sehari?" Tanya Sandra keesokan paginya. Ia berbicara dengan sangat pelan.
"Kalau hari ini gak bisa ma. Mungkin minggu depan." jawab Sierra.
"Oke sih gak masalah. Nanti mama beritahu kamu. Mama mau ajak kamu ke tempat set. Siapa tau kamu tergoda buat jadi artis."Ucap Sandra sambil terus membuat makanan kesukaan Vino.
"Enggak ma, aku gak pernah tergoda buat jadi publik figure. Aku cukup jadi Sierra yang biasa aja."
Sandra tersenyum. Kemudian ia mulai mengajak Sierra untuk melihatnya memasak. Ia sengaja memberitahu Sierra agar menantunya itu bisa membuatkan makanan kesukaan suaminya sendiri. "Vino belum bangun?" Tanyanya sambil melihat jam dindingnya.
"Vino biasa bangun siang ma. Setiap hari ia tidur ketika menjelang pagi."
"Vino memang pekerja keras. Sejak kecil, Vino gak pernah mama urus. Vino lebih sering diurus sama kakaknya. Waktu itu mama sama papa terlalu sibuk dengan pekerjaan kami. Tapi sekarang, untung ada kamu. Mama senang sekali."
Vino terbangun ketika mendengar suara handphone. Ia mencari suara itu dan menemukannya di atas nakas. Vino membuka matanya. Ia sadar tidak berada dikamar nya sendiri. Sierra, ucapnya pelan. Ranjang disampingnya masih tampak berantakan. Sudah tidak ada pembatas di ranjang itu. Posisi tidurnya pun sekarang berada tepat di posisi Sierra. Ia bahkan menggunakan bantal Sierra.
Ia bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar. Ia melihat ayahnya sedang berada diluar rumah. Sedangkan ibunya dan Sierra berada di dapur. Sierra telah rapi dengan pakaian kerjanya.
"Mama buatkan makanan kesukaan kamu.. Mama udah ajari istri kamu juga." Ucap Sandra ketika melihat Vino keluar dari kamarnya.
"Mama gak perlu mengajari Sierra. Dia juga pintar membuat makanan kok. Masakan Sierra udah cocok dilidah aku." Jawab Vino sambil duduk dikursi makan.
"Jadi maksud kamu, kamu menolak masakan mama sekarang?"tanya Sandra sambil berkacak pinggang.
Vino menggelengkan kepalanya. Ia mengambil roti yang diberikan Sierra padanya. "Bukan kayak gitu mam."
Perdebatan antara ibu dan anak itu membuat Sierra tersenyum. Ia melihat jam tangannya. Sudah waktunya untuk pergi kekantor. 15 menit yang lalu seperti biasa ia telah memanggil taxi. "Maaf ma, aku pergi dulu." Ucap Sierra sambil memeluk Sandra.
"Kamu gak akan sarapan dulu?" tanya Sandra cemas.
"Sierra biasanya buat makanan untuk Vino aja. Sierra gak biasa makan pagi."
"Baiklah, Vino nganter kamu?"
Sierra menggeleng. "Udah ada yang jemput didepan."
"Siapa?"tanya Vino kencang.
"Seorang pria memakai mobil sedan berwarna biru." Jawab ayahnya ketika masuk kedalam rumah.
"Berani banget dia jemput kamu didepan mata aku!"Vino berdiri kesal.
"Supir taxi, Vin. Begitu aja kamu cemburu. Gimana kalau istrimu dibawa kabur sekalian?" Ujar ayahnya.
"Makanya punya istri cantik itu diantar. Gimana kalo dia terpesona sama supir taxi?"gods ibunya.
Vino berdiri dengan cepat. Namun Sierra mendorongnya kembali untuk duduk. "Jangan kayak gitu, Vin. Aku udah terlambat."
"Pergilah." Ucap Vino ketus. Sierra mau tidak mau tersenyum melihat sikap Vino yang seperti anak kecil walaupun dalam hati ia masih kesal. Setelah berpamitan dengan mereka,Sierra pergi.
Didalam taxi Sierra berfikir. Rasanya menyakitkan bersikap seperti tadi. Sierra dan Vino bersikap seperti tidak ada sesuatu yang terjadi. Nyatanya Vino memang telah memiliki kekasih. Dan itu dua kali lebih menyakitkan. Mereka menikah dengan perasaan masing-masing. Mereka tidak saling mencintai. Mereka berdua menikah karena ingin membahagiakan orangtua mereka. Mereka menikah karena uang 15 miliar. Sampai kapan Sierra bertahan? Bagaimana jika kekasih Vino muncul? Apa yang akan dilakukannya?
"Sudah sampai" ucap sopir taxi mengejutkan Sierra.
"Iya pak." Jawabnya sambil memberikan uang taxi.
"Gimana hubungan kamu dengan Sierra?"tanya Sandra ketika ia dan suaminya akan pulang.
"Baik ma."
"Mama lihat gak seperti itu. Bagaimanapun kalian udah menikah. Hilangkan perasaan ketika kalian belum menikah. Mulailah cintai istrimu, Vin. Mama jamin Sierra istri yang baik."
"Vino akan coba yang terbaik ma." Jawab Vino sambil menunduk.
"Mama tahu kalian belum tidur satu kamar. Semalam mama lihat kamar kamu masih sama seperti biasa. Dikamar kamu gak ada perlengkapan Sierra."
Vino langsung menatap ibunya terkejut. "Maaf ma. Vino akan berusaha yang terbaik."
"Mama pulang. Jangan lupa pesan mama. Kalau bisa kamu pindah dari rumah ini. Kalian harus punya privasi sendiri."
Vino hanya menganggukkan kepalanya. Tidak aneh jika ibunya mengetahui segalanya. Ia memiliki perasaan yang peka.