Love Actually

Love Actually
Sweet like Candy



"Mantan pacar kamu hebat, Jo.." ucap Andi. Ia baru saja berbincang dengan ayah mertuanya. Jujur saja ia gugup bersama Ojo berdua didalam kamar. Jadi ia memutuskan berbincang dengan ayah mertuanya sampai malam. Tapi ibu mertuanya menarik lengannya dan mendorongnya untuk segera naik ke atas. Tepatnya ke kamar Ojo. Mereka tidak melakukan honeymoon karena esok pagi mereka langsung berangkat ke London.


Pintu kamar Ojo terbuka. Ia melihat istrinya itu sedang merapikan pakaian yang akan ia bawa besok. Ia menatapnya dari pintu sedikit lama. Kemarin ia mengurus kepindahan Ojo ke London. Akhirnya ia bisa bersama sahabat sekaligus belahan jiwanya lagi setelah sekian lama.


"Hebat gimana?"


Andi masuk kedalam kamar dan berbaring di tempat tidur. "Dia nekat buat ngeliat kamu bahagia."


"Ya, tapi kamu mukul dia sekenceng itu."


"Itu pantas karena dia udah nyakitin kamu." ucap Andi.


Erika berdeham. Ia langsung mengganti topik pembicaraan. "Untung aku bawa baju gak terlalu banyak dari Jepang. Trus perlengkapan aku yang di Jepang gimana? Kita harus kesana dulu buat bawa perlengkapan aku."


"Udah di cargo. Kamu tenang aja. Gak ada waktu buat ke Jepang lagi." jawab Andi sambil sesekali menguap.


Erika menoleh. "Udah di cargo? Siapa yang bawain barang-barang aku disana?"


"Aku udah nyuruh orang. Dibantuin Vino juga. Aku liat kamu sibuk ngurusin pernikahan kita, jadi aku sama Vino ngurus semua kepindahan kamu."


"Oh, oke.." jawab Erika sambil melanjutkan mengepak pakaiannya. "Oya Prince, kalau Jane muncul gimana? Apa kamu ketemu sama dia? Trus hubungan kamu sama temen-temen basket kamu gimana?"


Tidak terdengar jawaban. Erika menoleh dan melihat Andi sudah tertidur. Iapun berdiri dan menatap pria yang sudah menjadi suaminya itu lama. Sejak di acara resepsi tadi, ia masih menyangka semuanya adalah mimpi. Ia kini menjadi nyonya Andi. Tidak ada yang dapat membantahnya. Ia tidak ingin bangun dari mimpi yang indah ini. Ia tidak tahu perasaan apa yang datang kepadanya sejak pria ini melamarnya. Ia mulai merasa tidak takut karena ia yakin pria ini akan melindunginya.


Erika mendekat dan duduk disamping ranjang. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Andi. Ia terlihat sudah nyenyak.


"Aku juga capek, Prince. Tapi kerjaan aku banyak. Kalo boleh ngomong, aku gugup besok pergi sama kamu. Aku pergi dengan menyandang status sebagai istri kamu. Apa aku bisa membuat kamu bangga karena memilih aku?"


"Kamu ngomong apa sih, Jo? tentu aja aku bangga jadi suami kamu." ucap Andi tiba-tiba. Ia langsung menyimpan kepalanya di kaki Erika. "Harusnya malam ini jadi malam spesial kita. Tapi, kamu sibuk nyiapin barang-barang kepindahan kita besok. Jadi bisa kita undur.." godanya dengan mata tertutup.


"Aku pikir kamu udah tidur. " ucap Erika sambil mendorong kepala suaminya dari kakinya. Iapun berdiri. Ia terkejut melihat suaminya menatapnya tajam.


"Mana bisa aku tidur kalo sendirian. Kamu lagi sibuk.."goda Andi.


Erika tertawa pelan. "Emangnya waktu dirumah kamu tidur sama mama kamu?" ucapnya sambil berjalan ke arah koper yang masih terbuka.


"Bentar dong Jo.."seru andi.


Erika berbalik. "Apa lagi?"


"Ritual?" tanya erika bingung.


"Kamu emang istri yang gak romantis." seru Andi sambil memunggunginya.


Erika berjalan menghampirinya kembali. "Apa sih? ngomong aja. Aku gak ngerti.."


Andi bangun dan tersenyum. Ia mengangkat kedua tangannya. Seperti hendak memberikan pelukan. Erika pun mendekat dan mengangkat kedua tangannya. Ia memeluk suaminya dengan erat. "Good night"


Andi membalasnya dengan erat. "Good night, sweet dream, jangan terlalu capek." bisik Andi.


Ketika Erika mulai melanjutkan sisa packing, ia mendengar suara dengkuran halus di atas tempat tidur. Ia tersenyum.


Keesokan paginya


Andi dan Erika memesan kelas bisnis untuk perjalanannya ke London kali ini. Andi tahu perjalanan kali ini akan membutuhkan waktu yang lama. Ia tidak mau membuat istrinya kesal. Ia mengeluarkan sebuah buku dan memberikannya pada Erika.


"Apa?" tanya Erika sambil melihat buku itu.


"Waktu aku nganter kamu ke salon minggu lalu, aku liat buku itu. Aku siapin buat kamu biar gak bosen di jalan. Aku sedikit tau kalo kamu agak suka psikologi. Sama kayak mama."


Erika membuka buku itu dan membaca tulisan yang tertera dibalik sampul. Ia menatap Andi.


"Happy wedding day?" tanya nya. "Cuma ini hadiah pernikahan?"


Andi mengangguk sambil tersenyum. "Mau apapun nanti aku beliin sesampainya kita disana."


"Apapun?" tanya Erika senang.


"Aku gak pernah sebahagia ini sebelumnya Jo. Rasanya kayak baru menang lotre bisa menikah sama kamu." ucap Andi sambil memegang tangan Istrinya.


"Aku gak mau ada orang ketiga." jawab Erika tiba-tiba.


"Gak akan pernah. Kalau aku salah, please kasih tau aku. Kamu kenal aku. Aku takut bertindak yang gak sesuai dengan menyakiti kamu." ucap Andi.


Erika hanya mengangguk mengerti. Pesawat pun mulai take off. Goodbye Indonesia, aku pergi bukan untuk menghindar kali ini. Restui langkah kami untuk menemukan kebahagiaan di negara asing. ucap Erika dalam hati.