Love Actually

Love Actually
Persiapan meeting



Andi baru saja bertemu dengan Viar di kantor Tante Clara. Tidak ada yang tahu maksud dari kedatangannya yang tiba-tiba. Ia tidak pernah menginjakkan kakinya sekalipun di kantor ini. Hanya karena keadaan terdesak, ia harus melakukannya. Viar menjelaskan sedikit gambaran yang akan mereka bawa.


Tiga hari yang lalu, ia kembali dengan kedua orangtuanya. Ayahnya mendesak dokter untuk mengijinkannya pulang cepat. Ya, semuanya memang mendesak. Seperti yang Om Edward katakan dengan Om Calvin sebelumnya, semua masalah yang ada di Eropa harus segera ditangani. Jadi iapun harus bergerak cepat. Ketika mereka pulang, kondisi ayahnya sudah stabil. Tapi ibunya tetap mengawasi dengan waspada jika sesuatu terjadi pada ayahnya ketika mereka di pesawat.


Malam sudah menjelang. Ia khawatir dengan keadaan ayahnya jika ia harus berada dalam suatu pertemuan penting. Saat ini mereka melakukan pertemuan dirumah ayahnya. Dikarenakan ayahnya tidak bisa pergi keluar, jadi malam ini mereka melakukan meeting dirumah. Dan untungnya mentor nya sudah ada dirumahnya saat ini. Sebelum malam ini tiba, setiap hari ia pergi ke kantor Om Calvin hanya untuk belajar. Ia mendapatkan penjelasan mendasar mengenai bisnis perhotelan dan pariwisata. Om Calvin memang bukan ahli pariwisata, tapi karena istrinya seorang wanita yang bekerja di bidang seni dan pariwisata, ia menjadi tahu. Dan terlebih lagi, ia sering mendapatkan proyek mengenai pembangunan hotel. Bahkan ia, ayahnya dan om Edward pernah mengerjakan beberapa proyek pembangunan hotel. Itulah yang Om Calvin katakan ketika ia menemuinya di kantornya.


Ia menatap Viar yang terlihat tegang ketika mereka berada di mobil Andi. Andi tersenyum geli.


“Kamu udah ijin sama pacar kamu buat pergi ke Eropa?” tanya Andi sambil menatap jalanan.


“Udah” jawab Viar gugup.


“Trus gimana? Kalian siap harus berhubungan jarak jauh?” tanya Andi penasaran.


“Gak masalah. Pacar saya selalu dukung apapun yang saya lakukan.”


“Kita juga gak tau berapa lama ada disana.” ucap Andi.


“Gak masalah juga.”jawab Viar.


Andi tersenyum simpul. Dalam hati ia merasa iri. Tapi, ia merasa tidak pantas iri pada pria di sampingnya. “Kamu udah pacaran berapa lama?”


“Sejak saya sekolah menengah pertama.”


Andi membelalakkan matanya. “Asli? Sejak SMP kalian udah pacaran?”


“Iya. Dia cinta pertama dan mudah-mudahan menjadi cinta terakhir saya.” jawab Viar dengan polosnya.


“Kamu gak pernah tertarik sama perempuan yang lebih cantik dari pacar kamu?”


“Yang cantik memang lebih banyak. Tapi yang mengerti saya itu susah. Buat apa ngejar banyak wanita cantik kalau satu aja udah cukup buat saya.” ucap Viar.


“Oke, oke..” jawabnya cepat sambil tersenyum.


Karena kata-kata terakhir Viar, ia tidak membahas tentang wanita lagi. Ia mulai membahas tentang pekerjaan selama di perjalanan menuju rumahnya.


Ketika sampai di halaman rumah, ia melihat beberapa mobil telah terparkir didepan rumahnya. Iapun turun diikuti Viar sambil membawa dokumen.


Beberapa tampak tegang selama mengikuti rapat dadakan. Clara dan Edward tidak menyangka kakaknya akan melakukannya hari ini. Padahal kondisinya masih sakit. Tubuhnya pun masih terlihat lemas. Entah apa yang akan ia lakukan dan rencanakan. Clara melihat Alena yang berdiri disamping Dave. Sedangkan Dave sendiri masih berada ditempat tidur. Sesekali Alena berbisik dan dibalas anggukan Dave. Mereka masih menunggu kedatangan Andi.


Layar yang memperlihatkan beberapa pemegang saham yang mengikuti rapat melalui video. Clara berjalan mendekati Alena dan berbisik.


“Kak Dave udah sehat belum?” tanya Clara.


“Belum sepenuhnya. Makanya kakak ada disini.” bisik Alena.


“Sebenernya mau meeting apa sih? Kenapa harus nunggu Andi?”


“Mereka berdua bisik-bisik dibelakang kakak. Kakak juga belum tau apa. Meeting kali ini pasti berhubungan sama bisik-bisik mereka.” jawab Alena.


“Gak usah bisik-bisik. Aku bisa denger kok.” seru Dave.


“Makanya kasih tau..” bisik Clara.


“Sebentar lagi juga kalian tau. Kita kan nunggu Andi. Sabar sedikit.” seru Dave.


“Oke..oke..” jawab Clara sambil berjalan menjauhi mereka berdua.


Tak lama, pintu kamar diketuk kencang. Alena berjalan mendekati pintu. Ia sudah tahu siapa yang datang.