Love Actually

Love Actually
Oregano



"Ma.. beneran Tante Sandra pindah ke komplek ini?" tanya Andi ketika ia melihat ibunya sedang memasak.


"Mereka udah pindah kesini 3 tahun lalu. Makanya pulang jadi kamu tau.." ucap Alena.


Semenjak pertemuan Andi dengan Erika di pernikahan kedua sahabatnya, Andi tidak pernah percaya jika sekarang mereka sedekat itu. Apalagi ketika pulang dari undangan Viar. Ia mengantar Erika pulang. Ia sempat bingung karena mereka berada di komplek yang sama.


"Prince, kapan kamu pulang ke London?" tanya Alena. Ia membuka pintu lemari satu persatu dan menggelengkan kepalanya.


Andi menatap ibunya dan duduk di meja pantry. "Harusnya minggu depan ma. Tapi aku gak tau. Mungkin bisa diundur.."


"Katanya Ojo juga pulang. Kamu udah ketemu?"


Andi tersenyum. "Belum." jawabnya berbohong.


"Kamu gak mau ketemu? Permasalahan kalian udah 5 tahun yang lalu. Apa salahnya sekarang memperbaiki hubungan?"


"Mungkin nanti." jawab Andi. Sebenarnya ia ingin mengatakan pada ibunya tentang pertemuan mereka di resepsi Viar. Tapi melihat ibunya selalu antusias jika mendengar kata Ojo, ia terpaksa berbohong. "Ma, Tante Sandra pernah cerita apa yang Ojo kerjain sekarang?"


Alena menghentikan masaknya dan berbalik untuk menatap Andi. "Dia banyak diundang universitas sama interview offline buat sharing blognya."


"Kenapa dia udah gak kerja di rumah sakit lagi?" selidik Andi.


"Lebih baik kamu tanya sendiri. Kalian bisa ngobrol banyak." ucap Alena sambil tersenyum. "Kamu sekarang penasaran kan sama Ojo?" goda Alena.


"Biasa aja sih, cuman aku mau tau aja. Ada kejadian apa setelah aku pergi ke London." ucap Andi gugup.


"Kamu mau tau jawabannya?" tanya Alena.


Andi mengangguk


"Pergi ke supermarket sekarang, beliin mama bubuk oregano sama creamer. Cepetan. Nanti mama kasih tau kamu tentang Ojo." ucap Alena.


Andi mengerutkan keningnya. "Buat apa ada pembantu? Mama bisa nyuruh mereka." protes Andi.


"Kalo kamu ke supermarket, ada kesempatan buat lewat rumah Tante Sandra. Siapa tau dijalan ketemu Ojo lagi olahraga." ucap Alena sambil berbalik untuk melanjutkan pekerjaannya.


Andi turun dari meja pantry. "Orang gila yang olahraga siang-siang kayak gini." jawab Andi.


"Terserah kalo gak mau." ujar Alena.


"Oke, oke.. Andi pergi! Apa tadi? Erogano sama keju?" tanya Andi sewot.


"Oregano bukan erogano!" seru Alena.


Andi tidak membalas seruan ibunya. Ia langsung mengeluarkan mobilnya. Mobilnya masih terawat seperti dulu. Untung tadi pagi ia sempat panaskan.


Ketika melewati rumah Tante Sandra, terlihat sepi. Hanya ada mobil hitam diluar. Ia yakin mobil itu milik Om Calvin. Mengingat tentang Om Calvin, pria itu telah banyak membantunya selama di London. Ia dapat merasakan bagaimana terpuruknya. Kegagalan dalam melakukan planning hotelnya yang ada di Paris dan Belgia membuatnya hampir menyerah. Ketika Om Edward dan Om Calvin membantunya untuk bangkit, ia baru mengerti arti persahabatan. Persahabatan kedua orangtuanya dengan pria-pria didepannya membuatnya iri. Mereka saling membantu ketika salah satu dari mereka mengalami keterpurukan.


Tak terasa mobilnya sudah berada didepan supermarket. Ia parkir mobilnya dahulu tepat didepan troli-troli yang disediakan pihak supermarket. Ia turun dari mobil dan berjalan kedalam. Suara musik keras menusuk telinganya.


Disekitarnya banyak sekali wanita-wanita cantik yang menawarkannya barang. 5 tahun tidak kembali membuatnya menyesal karena baru menyadari jika didekat rumahnya banyak wanita cantik. Rasanya kepulangannya kali ini membuatnya jauh lebih betah. Padahal ketika di London dulu ia tidak pernah tertarik sedikitpun pada wanita. Menurut Viar, pekerjaannya lah yang membuatnya tidak tertarik. Didalam otaknya hanya ada maket, planning, money dan bisnis. Ya, ia menyadarinya saat ini.


"Saya cari oregano. Oregano itu apa ya?" tanya Andi kebingungan.


Pria itu tersenyum. "Oregano ada di lorong bumbu. Bapak bisa lihat ada tulisan bumbu dapur. Nah, barangnya ada disitu."


Andi mengangkat tangannya. "Oke, thank you." jawabnya cepat. Iapun langsung berjalan ke bagian bumbu. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia melihat seorang wanita memakai hotpants jeans dan atasan memakai kaos oblong berwarna putih. Ia menatap dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia dan wanita itu memakai pakaian yang mirip?


Wanita itu memakai topi tapi wajahnya tidak terlihat karena ia sedang membelakanginya. Ia terlihat sedang memilih buah-buahan. Rambutnya yang panjang diikat dan dimasukkan kedalam topi. Melihat dari belakang saja membuatnya tertarik. Ia akan menghampiri wanita itu jika sudah menemukan bumbu yang ibunya pesan. Iapun berlari ke lorong bumbu. Telat sedikit saja bisa kehilangan wanita itu.


Setelah mengambil oregano diantara banyaknya bumbu dapur yang dipajang, ia kembali ke tempat wanita tadi. Tapi ia terkejut ketika melihat wanita itu.


Ojo?


Untung saja ibunya menyuruhnya ke supermarket. Tapi bagaimana bisa ibunya tahu jika Ojo sedang berbelanja disini?


Ia berjalan cepat untuk sampai di depan wanita itu. Ia menunduk untuk berbisik. "Ojo!" bisiknya.


Erika menoleh dan terkejut melihat Andi ada disana.


"Lagi apa kamu disini?" tanya Erika


Andi mengangkat botol oregano di tangannya. "Mama nyuruh aku." jawabnya sambil tersenyum malu.


"Oregano?"


Andi mengangguk. "Ya, sama keju sih nyuruhnya. Eh, keju atau apa ya tadi?" tanyanya bingung. Iapun mengeluarkan handphonenya dan berbicara sebentar. "Ok, creamer." jawab Andi.


"Besok Davi sama Viar pindah ke London? Kamu mau anter?" tanya Erika.


"Pasti. Kamu mau anter juga? bareng aku aja. Nanti aku jemput kamu." jawab Andi cepat.


"Aku mau anter soalnya aku mau pulang ke Jepang lusa."


Jepang? Tidak bisa secepat itu. Lalu bagaimana dengannya yang telah mengundur kepulangannya ke London?


Ia menatap Erika dengan tajam. "Jo, kamu berubah." ucap Andi.


"Seseorang perlu berubah untuk menjadi lebih baik kan?" tanya Erika


"Tapi perubahan kamu itu terlalu sempurna, Jo. Lebih baik kita pulang sekarang dan langsung ke rumah aku. Mama udah masak. Kita bisa ngobrol lagi lebih banyak nanti."


"Maaf, tapi malam ini aku gak bisa. Aku ada urusan." ucap Erika. Ia ingat jika malam ini ia ada interview online dengan salah satu media Asia. "Aku duluan ya.." tambahnya.


"Enggak bareng aja. Aku udah kok." jawab Andi cepat.


Melihat kepergian Ojo nya dengan cepat ke kassa, ia berfikiran jika Ojo telah memiliki kekasih. Apakah masih dengan seorang artis? Kenapa Ojo tidak mencoba berhubungan dengan seorang bisnisman seperti dirinya?


Andi menggelengkan kepalanya. Seperti nya gara-gara ibunya menyuruhnya mencari bumbu dapur, otaknya menjadi konslet. Apa yang ia pikirkan?


Ia melihat kembali para wanita yang tadi menggodanya. Tapi kali ini ia tidak merasa tertarik sedikitpun. Ada apa dengannya? Ia kembali menatap Ojo yang kali ini sudah keluar dari supermarket dan berlari keluar. Ia terlihat terburu-buru. Ia masih harus menunggu esok untuk bertemu kembali dengan Ojo.