
Erika dan Sandra sedang membereskan barang-barang yang akan dibawa siang ini. Dengan susah payah mencari kontrakan, akhirnya Erika mendapatkan apartemen murah yang tidak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja. Beberapa orang yang membantunya pindah sudah membawa barang-barang yang sudah siap.
"Ma, aku gak akan bawa semua bajunya." Ucap Erika ketika membuka lemari pakaiannya. Pakaiannya sangat banyak sehingga ia tidak membawa semuanya.
Sandra melihat kebelakang. "Kalo kamu bawa semuanya, nanti kamu gak akan pulang." Ucapnya.
Erika hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya. "Gak mungkin ma.."
"Kalo kamu pergi sama Tante Alena kapan?" Tanya Sandra. Ia jadi ingat perbincangan ketika ia dan Alena bertemu.
"Aku minta ijin mau bawa anak kamu ke bakti sosial yang ada di daerah." Ucap Alena.
"Aku ijinin. Emang kamu diijinin Dave?"
"Mumpung dia pergi ke Eropa sebulan sama Edward hari itu." Jawab Alena sambil tertawa. "Oh ya, ada apa kamu mau ketemu aku?"
Sandra mengaduk minuman didepannya. "Ini soal Erika."
"Kenapa? Diapain sama Andi?" Tanya Alena waspada.
"Bukan. Ini soal apartemen kamu."
"Kenapa? Kurang besar?" Tanya Alena kembali.
"Bukan Al, Erika gak mau tinggal di tempat kamu. Dia bersikeras mau cari sendiri. Erika anaknya teguh. Kalo gak mau, ya gak mau. Aku gak enak sama kamu." Ucap Sandra.
"It's oke San. Aku gak apa-apa kok. Aku cuma kasian liat calon menantuku kecapean." Jawab Alena.
Sandra memegang tangan Alena. "Satu lagi yang aku minta sama kamu."
"Apa?"
"Kita lupakan perjodohan anak kita. Please Al, biarkan mereka memilih jalannya sendiri. Perjodohan gak baik buat mereka. Aku mohon sama kamu." Ucap Sandra dengan nada memohon.
Alena menatap Sandra dengan kecewa. "Padahal aku pikir mereka ditakdirkan untuk berjodoh. Kalo itu kemauan kamu, aku setujui."
"Ma, kenapa?" Tanya Erika bingung. Ibunya tiba-tiba melamun ketika ia bertanya tentang Tante Alena.
Sandra menatap Erika sambil tersenyum. "Gak ada apa-apa. Gimana? Kapan kamu pergi?" Tanya Sandra kembali.
"Tadinya minggu ini, tapi rumah sakit kasih ijin minggu depan."
Sandra berdiri. "Kalo gitu mama pergi dulu. Kamu pindahan sendiri gak apa-apa? Mama harus ketemu sama temen mama di studio. Nanti malam mama sama papa kesana."
"Gak apa-apa." jawab Erika.
Ia sengaja meminjam mobil ibunya untuk pindahan ke apartemen barunya. Ia menatap dirinya didepan kaca mobil. Ia tersenyum. Wajahnya terlihat ceria hari ini. Ia merasa tenang karena Andi mengikuti ucapannya untuk tidak mengikutinya lagi. Dan ia pun tidak merasa kehilangan sedikitpun. Iapun menaiki mobil ibunya. Sementara mobil yang membawa barang-barangnya sudah pergi terlebih dahulu.
Sesampainya di depan apartemen, ia sibuk berlari untuk sampai ke depan kamarnya terlebih dahulu. Barang-barang yang dibawa oleh orang-orang itu menggunakan lift barang. Apartemennya sendiri berada dilantai yang tidak terlalu tinggi. Masih berada dilantai 7. Ia sendiri membawa dus berisi beberapa majalah dan buku.
Ketika pintu lift terbuka, ia berjalan menuju kamarnya. Ia menunggu didepan kamar tanpa membuka pintu. Ia menyimpan terlebih dahulu dus yang sedang ia bawa.
"Hai, baru ya?" tanya seseorang.
Erika menoleh ke sampingnya. Seorang pria yang berusia tidak terlalu tua sedang berdiri didepan pintu kamar sampingnya. Wajahnya terlihat tampan. Ia mengapit sebuah koran ditangannya.
Iapun tersenyum pada pria itu. "Iya."
"Aku disebelah. Kalo butuh apa-apa bisa langsung diketuk." ucapnya sambil tersenyum. Iapun membuka pintu dan masuk kedalam.
Ketika beberapa orang terlihat membawa barang-barangnya tiba, iapun membuka pintu dengan cepat. Ia pun mengabaikan pria yang ada disamping kamarnya.
Ketika ia didalam kamar dan mulai membereskan kamar, adiknya menghubunginya lewat video call.
"Konnichiwa, Vin!" (selamat siang, Vin!) seru Erika senang.
"Kak. Kata mama, kakak pindah?" tanya Vino datar.
Erika merindukan adik laki-lakinya itu. " Iya, sayang. Kenapa?"
"Baguslah. Pas aku pulang minggu depan, aku bisa pake kamar kamu." jawab Vino sambil menutup teleponnya.
"Hey! Dasar!" ucap Erika kesal.
Bukan Vino kalo ia tidak bisa membuat kakaknya kesal. Terkadang ia sendiri bingung menghadapi adiknya yang sangat dingin itu. Iapun berjalan ke dapur. Kulkasnya masih kosong. Ia ingat ada supermarket yang tidak jauh dari apartemennya. Dengan cepat ia memakai Hoodie dan celana pendeknya. Tak lupa ia membawa dompetnya. Iapun keluar dari apartemen. Ia bahkan membiarkan apartemennya yang masih belum rapi.
Supermarket itu menyediakan berbagai makanan komplit mulai dari grocery, frozen food, buah dan sayuran bahkan elektronik dan pakaian juga tersedia. Ia langsung mengambil keranjang belanjaan dan mulai memasukkan barang-barang yang ia rasa masih kurang.
Yang paling penting saat ini adalah tissue. Ia paling tidak suka sesuatu yang tidak bersih. Iapun berjalan ke lorong tissue dan mulai mengambil beberapa jenis tissue. Terkadang ia masih merasa bermimpi. Ia bisa hidup sendiri saat ini.
"Loh, tetangga. Kita ketemu lagi.." ucap seseorang.
Erika menoleh. Pria yang tadi. Iapun tersenyum. Pria itu masih menggunakan pakaian yang sama seperti tadi ketika mereka bertemu didepan kamar. "Hai.." ucapnya sambil mengangkat tangannya.
"Halo, tadi kita belum sempet kenalan. Aku Bumi." ucapnya.
"Bumi?" tanya Erika sambil menahan tawanya.
"Namanya terlalu ekstrem memang." jawabnya sambil tertawa.
"Aku Erika Ojo." jawab Erika ramah.
"Wah, Putri Erika? Kalo disambungin, Bumi dan Erika Ojo itu berarti Putri Erika yang tinggal di bumi." ucapnya sambil tertawa hambar.
Erika hanya tersenyum.
"Gak lucu ya? Aku emang bukan komedian. Aku cuma host dan musisi." jawabnya.
"Kamu tau arti nama aku? Padahal gak banyak yang tau." Tanya Erika.
"Ojo? Gampang kok. Kebetulan aku suka diundang sama acara-acara jepang gitu di kampus. Lama-lama aku jadi agak ngerti sama artinya." jawabnya santai.
"Masih ngehost sampai sekarang?" tanya Erika.
"Masih. Kalo kamu suka nonton TV, kamu pasti pernah nonton acara..."
"Aku gak pernah nonton TV." jawab Erika cepat.
Bumi hanya mengangguk mengerti. Iapun mengakhiri pembicaraan mereka karena keduanya harus ke kasir.
"Belanjaan kamu banyak, pulang pake mobil aku aja." ucapnya.
"Aku gak enak. Gak usah. Aku bisa pake taxi."
"Bisa. Nanti aku bawain barang-barangnya. Sesama tetangga harusnya gitu kan?" tanya Bumi.
"Terserah. Aku ikut aja kalo gitu." jawab Erika tenang. Walaupun dalam hatinya ia begitu senang karena masih ada orang baik padanya. Keduanya pun pulang menuju apartemen.